Ancaman keamanan global saat ini tidak lagi sebatas konflik fisik konvensional, melainkan telah meluas ke ranah siber, informasi, ekonomi, infrastruktur kritis, dan pertahanan digital. Teknologi AI sebenarnya menawarkan peluang besar untuk mendeteksi ancaman secara dini dan mendukung pengambilan keputusan strategis yang cepat. Kendati demikian, sistem AI juga menyimpan kerentanan serius seperti manipulasi model, serangan berbasis data, dan risiko penyalahgunaan teknologi jika tidak dikelola dengan benar. Ketidaksiapan data dan tata kelola yang buruk justru dapat memicu keputusan yang tidak akurat serta meningkatkan celah kerentanan keamanan nasional.
Untuk merumuskan solusi atas masalah tersebut, para peneliti menerapkan metode Design Science Research (DSR) yang didukung oleh tinjauan pustaka mendalam serta validasi pakar. Peneliti melibatkan lima pakar independen yang ahli di bidang kecerdasan buatan, siber, dan teknologi informasi untuk menguji kelayakan model yang dikembangkan. Alih-alih terjebak pada rumitnya kode pemrograman, metode ini bekerja dengan cara menyusun cetak biru strategis yang menghubungkan kemampuan teknologi, keandalan data, serta adaptasi organisasi secara sistematis dan terstruktur.
Hasil penelitian ini menghasilkan kerangka kerja pertahanan terintegrasi yang berfokus pada empat dimensi utama yang saling menopang. Pertama, ketahanan sistem AI (AI resilience) agar mampu mempertahankan performa dan memulihkan diri dari gangguan maupun serangan musuh. Kedua, kesiapan data (data readiness) yang memastikan kualitas, keamanan, dan tata kelola informasi berjalan optimal. Ketiga, inovasi strategis (strategic innovation) guna mendorong organisasi mengubah teknologi menjadi keunggulan operasional. Keempat, respons keamanan multidomain yang mengkoordinasikan pertahanan lintas sektor secara terpadu. Berdasarkan validasi dari para ahli, kerangka kerja ini dinilai sangat relevan, logis, dan layak diterapkan langsung sebagai acuan strategis pertahanan modern.
Dampak dan implikasi dari riset ini sangat luas, khususnya bagi dunia pertahanan nasional, institusi pemerintahan, sektor industri, serta dunia pendidikan tinggi. Menurut Ferdinand Hasudungan Siagian dan tim penelitinya dari Unhan RI, strategi pertahanan berbasis AI tidak boleh hanya dipandang sebagai instrumen komputasi semata, melainkan harus diperlakukan sebagai ekosistem strategis yang menyatukan teknologi, sumber daya manusia, dan tata kelola data yang aman. Melalui model pertahanan yang adaptif ini, negara dapat meningkatkan kesiapsiagaan operasional sekaligus meminimalkan risiko eksploitasi teknologi oleh pihak luar.
Profil Penulis
Ferdinand Hasudungan Siagian – Peneliti utama dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, ahli di bidang strategi pertahanan dan teknologi kecerdasan buatan.
Nefra Firdaus – Peneliti dari Politeknik Angkatan Darat (Poltekad), memiliki keahlian mendalam pada aspek teknis kemiliteran dan keamanan siber.
Sigit Purwanto – Peneliti dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, berfokus pada kajian inovasi strategis dan keamanan multidomain.
Bangun Pandapotan Hutajulu – Peneliti dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia, spesialis dalam tata kelola data dan arsitektur sistem pertahanan digital.
Sumber Penelitian
Ferdinand Hasudungan Siagian, Nefra Firdaus, Sigit Purwanto, Bangun Pandapotan Hutajulu. Artificial Intelligence Resilience Data Readiness and Strategic Innovation in Countering Emerging Multidomain Security Threats. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 9, hlm. 1903-1918.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i9.117
URL : https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar