Kebersihan Diri Berkaitan dengan Infeksi Jamur Kuku pada Warga Desa Air Merah Bengkulu

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Bengkulu - Infeksi jamur kuku atau tinea unguium ditemukan pada 37,7 persen warga Desa Air Merah, Kecamatan Arma Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, dalam penelitian yang dilakukan Wellyan Rahmat Adillio, Enny Nugraheni, dan Wahyu Sudarsono dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu. Studi yang dilakukan pada Oktober 2016 terhadap 53 warga tersebut menemukan hubungan bermakna antara kebersihan diri dan kejadian tinea unguium. Temuan ini penting bagi masyarakat pedesaan, terutama kelompok yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan banyak melakukan kontak dengan tanah serta air.

Tinea unguium, yang juga dikenal sebagai onikomikosis, merupakan infeksi jamur yang menyerang lempeng kuku. Infeksi dapat disebabkan oleh dermatofita, jamur non-dermatofita, maupun yeast. Selain menyebabkan perubahan pada kuku, infeksi tersebut dapat berkaitan dengan masalah kesehatan lain dan berpotensi menyebar atau menular.

Data yang dikutip dalam artikel menunjukkan bahwa prevalensi tinea unguium di sejumlah rumah sakit pendidikan di Indonesia mencapai 4,7 persen dari seluruh penyakit kulit akibat jamur. Namun, kondisi masyarakat pedesaan dapat berbeda karena aktivitas pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan menjaga kebersihan, serta akses terhadap fasilitas kesehatan.

Desa Air Merah menjadi lokasi yang menarik perhatian karena mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Pada saat penelitian dilakukan, desa tersebut belum memiliki fasilitas puskesmas dan jarak menuju layanan kesehatan terdekat sekitar 16 kilometer. Kondisi tersebut dapat membuat deteksi dan penanganan masalah kesehatan kulit menjadi lebih sulit.

53 warga diperiksa

Adillio, Nugraheni, dan Sudarsono menggunakan pendekatan observasional dengan melibatkan 53 warga Desa Air Merah berusia 20–64 tahun. Para peserta dipilih dari tiga dusun menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak berdasarkan kelompok wilayah.

Informasi mengenai kebersihan diri diperoleh melalui kuesioner yang telah diuji. Pemeriksaan tinea unguium dilakukan melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan mikroskopis kerokan kuku menggunakan larutan KOH 10 persen.

Pemeriksaan tersebut memungkinkan peneliti melihat keberadaan elemen jamur pada sampel kuku. Analisis statistik kemudian digunakan untuk melihat hubungan antara kondisi kebersihan diri dan kejadian infeksi jamur kuku.

Karakteristik warga yang diperiksa juga menunjukkan kuatnya kaitan lokasi penelitian dengan aktivitas agraris. Sebanyak 52 dari 53 peserta atau 98,1 persen bekerja sebagai petani. Sebanyak 79,2 persen rumah memiliki sebagian lantai yang masih berupa tanah, sementara seluruh peserta menggunakan sumur sebagai sumber air rumah tangga.

Sebagian besar warga memiliki kebersihan diri yang buruk

Salah satu temuan utama penelitian adalah tingginya proporsi warga dengan kategori kebersihan diri yang buruk. Dari 53 peserta, sebanyak 45 orang atau 84,9 persen masuk kategori tersebut. Hanya delapan orang atau 15,1 persen yang berada dalam kategori kebersihan diri baik.

Beberapa kebiasaan menjadi perhatian. Sebanyak 92,5 persen peserta dilaporkan tidak mandi setelah beraktivitas. Sebanyak 90,6 persen tidak mengeringkan kaki menggunakan handuk setelah mencucinya. Sementara itu, 92,5 persen tidak membersihkan sprei sebelum digunakan dan 88,7 persen jarang mengganti sprei.

Pada kebersihan tangan dan kuku, 79,2 persen peserta mencuci tangan tanpa menggunakan sabun. Sebanyak 75,5 persen cenderung memotong kuku hanya ketika kuku sudah panjang.

Kondisi tersebut menjadi penting bagi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. Tangan, kuku, dan kaki merupakan bagian tubuh yang sering bersentuhan langsung dengan tanah dan air selama aktivitas sehari-hari.

37,7 persen peserta terdiagnosis tinea unguium

Pemeriksaan terhadap 53 warga menemukan 20 orang atau 37,7 persen positif mengalami tinea unguium. Sebanyak 33 orang atau 62,3 persen lainnya mendapatkan hasil negatif.

Seluruh kasus positif ditemukan pada kuku jari kaki dan keluhan telah berlangsung setidaknya satu tahun. Tidak ada peserta positif yang memiliki riwayat pengobatan sebelumnya.

Angka 37,7 persen dalam kelompok warga yang diperiksa lebih tinggi dibandingkan angka 4,7 persen yang dilaporkan dari data berbasis rumah sakit di sejumlah kota besar Indonesia. Penulis menjelaskan bahwa perbedaan tersebut perlu dilihat dari karakteristik populasi dan metode pemeriksaan. Penelitian di Desa Air Merah dilakukan melalui skrining langsung terhadap masyarakat pedesaan, termasuk warga yang sebelumnya tidak mencari pengobatan untuk keluhan pada kuku.

Kebersihan diri menunjukkan hubungan bermakna

Analisis penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna secara statistik antara personal hygiene dan kejadian tinea unguium. Uji Fisher menghasilkan nilai p=0,016, lebih kecil dari batas kemaknaan statistik yang digunakan.

Menariknya, seluruh delapan peserta dengan kebersihan diri dalam kategori baik tidak mengalami tinea unguium. Sementara itu, dari 45 peserta dengan kebersihan diri buruk, sebanyak 20 orang atau 37,7 persen terdiagnosis mengalami infeksi jamur kuku.

Namun, hasil tersebut tidak berarti bahwa kebersihan diri merupakan satu-satunya penyebab tinea unguium. Analisis korelasi Phi menunjukkan kekuatan hubungan yang sangat lemah, dengan nilai r=0,17. Penulis menekankan bahwa tinea unguium merupakan penyakit dengan berbagai faktor risiko.

Pada kelompok yang positif mengalami tinea unguium, praktik kebersihan tangan, kuku, dan kaki yang buruk ditemukan pada 88,3 persen peserta. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketiga bagian tubuh tersebut menjadi perhatian penting dalam upaya pencegahan pada masyarakat yang memiliki paparan tinggi terhadap tanah dan lingkungan luar.

Edukasi kebersihan menjadi bagian penting pencegahan

Temuan dari Universitas Bengkulu tersebut memberikan gambaran mengenai persoalan kesehatan kulit yang dapat terjadi di komunitas agraris. Upaya pencegahan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika infeksi telah muncul, tetapi juga dengan kebiasaan sehari-hari.

Penulis menyarankan peningkatan kebersihan tangan, kuku, dan kaki. Mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun setelah melakukan aktivitas serta mengeringkannya dengan baik menjadi bagian dari langkah yang disarankan.

Fasilitas kesehatan dan pemerintah desa juga disarankan memberikan edukasi kesehatan kulit secara berkala. Hal ini menjadi relevan bagi wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Meski demikian, penelitian tersebut memiliki keterbatasan. Desain potong lintang yang digunakan hanya menggambarkan hubungan antara variabel pada satu periode sehingga tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Penulis juga menyarankan penelitian lanjutan menggunakan desain kohort atau kasus-kontrol serta pemeriksaan kultur jamur untuk mengidentifikasi agen penyebab secara lebih spesifik.

Profil penulis

Wellyan Rahmat Adillio: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu. Penulis korespondensi dalam artikel ini.

Enny Nugraheni: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu.

Wahyu Sudarsono: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu.

Ketiganya tercantum sebagai penulis artikel yang membahas hubungan personal hygiene dengan kejadian tinea unguium pada masyarakat Desa Air Merah, Bengkulu Utara. Artikel mencantumkan Wellyan Rahmat Adillio sebagai penulis korespondensi.

Sumber Penelitian

Judul: The Association between Personal Hygiene and the Occurrence of Tinea Unguium among Residents of Air Merah Village, Arma Jaya Sub-district, North Bengkulu Regency

Penulis: Wellyan Rahmat Adillio, Enny Nugraheni, Wahyu Sudarsono

Afiliasi: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Bengkulu

Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)

Volume: 5, Nomor 9

Tahun: 2026

Halaman: 1763–1774

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i9.17299

Link: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar