Gangguan penggunaan zat tidak hanya berkaitan dengan perilaku penggunaan zat secara berulang. Kondisi tersebut juga dapat berhubungan dengan gangguan kemampuan kognitif, termasuk kemampuan mengendalikan impuls, mengambil keputusan, memecahkan masalah, mengatur emosi, dan mempertahankan perilaku yang berorientasi pada tujuan.
Dalam rehabilitasi, kemampuan tersebut menjadi penting karena pasien perlu menghadapi berbagai pemicu, seperti dorongan menggunakan zat, tekanan emosional, maupun situasi berisiko. Karena itu, program rehabilitasi yang hanya berfokus pada penghentian penggunaan zat dinilai belum tentu mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan kerentanan terhadap relaps.
BM-INRI menggabungkan lima pendekatan
Yuliati mengembangkan BM-INRI sebagai intervensi keperawatan multidimensi yang mengintegrasikan lima komponen, yaitu neurorehabilitasi, rehabilitasi kognitif, latihan fungsi eksekutif, pencegahan relaps berbasis mindfulness, serta strategi pencegahan relaps.
Pendekatan tersebut dirancang untuk dilakukan secara terpadu dalam lingkungan rehabilitasi rumah sakit. Gagasannya adalah memperkuat kemampuan kognitif sekaligus membantu pasien mengenali emosi, dorongan penggunaan zat, pemicu relaps, serta cara merespons situasi berisiko secara lebih adaptif.
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Manah Shanti Mahottama, Bali, dengan melibatkan 24 pasien yang menjalani program rehabilitasi gangguan penggunaan zat. Seluruh peserta berjenis kelamin laki-laki karena unit rehabilitasi tempat penelitian hanya memberikan perawatan kepada pasien rehabilitasi laki-laki.
BM-INRI diberikan selama delapan minggu, dengan dua sesi setiap minggu sehingga setiap peserta mengikuti total 16 sesi intervensi.
Para peserta menjalani pengukuran sebelum dan sesudah intervensi. Fungsi eksekutif diukur menggunakan Frontal Assessment Battery (FAB), yang menilai sejumlah kemampuan seperti fleksibilitas mental, pengendalian inhibisi, pemrograman motorik, dan kemampuan menghadapi gangguan. Sementara itu, kecenderungan relaps diukur menggunakan Relapse Tendency Scale. Peneliti menegaskan bahwa alat tersebut mengukur kecenderungan relaps, bukan memastikan apakah seseorang benar-benar akan mengalami relaps di masa depan.
Fungsi eksekutif meningkat setelah intervensi
Salah satu perubahan terbesar terlihat pada fungsi eksekutif. Sebelum mengikuti BM-INRI, rata-rata skor FAB peserta adalah 5,04. Setelah menyelesaikan intervensi, rata-ratanya meningkat menjadi 16,33.
Artinya, terdapat peningkatan rata-rata sebesar 11,29 poin. Analisis statistik menunjukkan perubahan tersebut signifikan secara statistik dengan nilai p < 0,001. Besarnya perubahan dalam kelompok peserta juga menghasilkan nilai Cohen's dz sebesar 5,39.
Peningkatan tersebut berkaitan dengan kemampuan yang dibutuhkan pasien selama proses pemulihan, seperti mengendalikan respons otomatis, mempertimbangkan konsekuensi, memecahkan masalah, dan menyesuaikan strategi ketika menghadapi situasi sulit.
Kecenderungan relaps juga menurun
Perubahan juga terlihat pada skor kecenderungan relaps. Sebelum intervensi, rata-rata skor peserta mencapai 52,38. Setelah mengikuti BM-INRI, skor tersebut turun menjadi 23,50.
Dengan demikian, terjadi penurunan rata-rata sebesar 28,88 poin. Karena skor yang lebih tinggi menunjukkan kecenderungan relaps yang lebih besar, penurunan tersebut menunjukkan perubahan yang menguntungkan dalam pengukuran yang digunakan penelitian. Hasil analisis menunjukkan p < 0,001 dengan Cohen's dz sebesar 4,47.
Menurut pembahasan Yuliati, salah satu mekanisme yang mungkin berperan adalah komponen mindfulness. Pendekatan mindfulness membantu pasien memperhatikan pikiran, emosi, sensasi tubuh, dan craving tanpa langsung bereaksi terhadap pengalaman tersebut melalui penggunaan zat.
Sementara itu, strategi pencegahan relaps membantu pasien mengenali pemicu, memperkirakan situasi berisiko, mengembangkan strategi menghadapi masalah, dan mempertahankan respons yang lebih adaptif.
Berpotensi menjadi pelengkap rehabilitasi
Temuan tersebut memberikan implikasi bagi layanan rehabilitasi gangguan penggunaan zat, khususnya keperawatan. Menurut penelitian, penilaian fungsi eksekutif dapat membantu tenaga kesehatan mengenali kebutuhan rehabilitasi neurokognitif pasien. Intervensi yang menggabungkan aspek kognitif, mindfulness, dan pencegahan relaps juga berpotensi melengkapi program rehabilitasi psikososial yang sudah berjalan.
Namun, Yuliati menekankan pentingnya membaca hasil penelitian secara hati-hati. Penelitian ini menggunakan desain satu kelompok sebelum dan sesudah intervensi tanpa kelompok kontrol. Karena itu, perubahan yang terlihat tidak dapat dipastikan seluruhnya disebabkan oleh BM-INRI. Faktor lain selama masa rehabilitasi, seperti pemulihan alami, kegiatan rehabilitasi lain, pengukuran berulang, atau perubahan selama periode penelitian, juga mungkin berpengaruh.
Selain itu, penelitian hanya melibatkan 24 peserta dan seluruhnya laki-laki. Peserta juga menggunakan jenis zat yang beragam. Metamfetamin atau sabu merupakan jenis zat yang paling banyak dilaporkan, yaitu pada 10 peserta (41,7 persen), disusul tembakau gorila, alkohol, dan kanabis.
Penelitian juga belum mengukur kejadian relaps yang benar-benar terjadi. Yang diukur adalah kecenderungan relaps setelah intervensi. Pengukuran dilakukan segera setelah program selesai sehingga belum diketahui apakah perubahan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.
Karena itu, penelitian berikutnya disarankan menggunakan kelompok kontrol atau desain uji terkontrol secara acak, melibatkan jumlah peserta yang lebih besar dan lebih beragam, serta melakukan pemantauan jangka panjang. Penelitian selanjutnya juga perlu mengukur kejadian relaps aktual, lama abstinensi, kepatuhan terhadap rehabilitasi, kualitas hidup, dan fungsi sosial.
Profil Penulis
Ida Ayu Eka Yuliati merupakan penulis penelitian berjudul Effectiveness of Brain–Mind Integrated Neurorehabilitation Intervention (BM-INRI) on Executive Function and Relapse Tendency among Patients with Substance Use Disorder. Dalam artikel yang tersedia, afiliasi penulis tercantum sebagai Rumah Sakit Jiwa Manah Shanti Mahottama, Provinsi Bali, Bali, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik atau rincian bidang keahlian penulis secara terpisah, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber lain.
0 Komentar