JAKARTA – Transformasi digital di dunia pendidikan kini menjadi pilar utama peningkatan efisiensi mengajar, namun ketiadaan integrasi platform dan tingginya fragmentasi waktu justru berisiko menurunkan kinerja guru secara berkelanjutan. Sebuah studi ilmiah terbaru pada tahun 2026 yang disusun oleh Riska Puspandini dan Eri Marlapa dari Universitas Mercu Buana menguji pengaruh integrasi platform digital dan fragmentasi waktu terhadap kinerja berkelanjutan guru SMA negeri di Jakarta Selatan. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi manajemen sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan bahwa perbaikan sistem kerja digital jauh lebih krusial daripada sekadar mengandalkan motivasi individu guru.
Penerapan teknologi seperti sistem manajemen pembelajaran, aplikasi penilaian, dan platform administrasi sering kali membuat guru harus berpindah-pindah antaraplikasi yang tidak terhubung. Pengisian data yang berulang dan tingginya gangguan komunikasi digital menyebabkan waktu kerja guru terpecah-pecah. Gangguan fokus kognitif akibat fragmentasi waktu ini mengancam kinerja berkelanjutan guru, yang menekankan pada kemampuan menjaga kualitas pengajaran dan adaptasi profesional dalam jangka panjang tanpa mengorbankan kesejahteraan diri. Kondisi tersebut melatarbelakangi perlunya analisis mendalam mengenai bagaimana integrasi sistem dan perilaku ramah lingkungan atau green behavior dapat menopang efektivitas mengajar.
Untuk menguji hubungan variabel tersebut, para peneliti melakukan studi kuantitatif survei terhadap 119 guru di lima SMA Negeri Wilayah II Jakarta Selatan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner terstruktur skala Likert. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menilai model pengukuran, kekuatan eksplanatori, serta pengujian hipotesis pengaruh langsung, pemediasian, dan pemoderasian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi platform digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap green behavior dan kinerja berkelanjutan guru. Sebaliknya, fragmentasi waktu terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kedua variabel tersebut. Penelitian ini juga menemukan bahwa green behavior berpengaruh positif terhadap kinerja berkelanjutan guru sekaligus bertindak sebagai pemediasi parsial dalam menyalurkan dampak integrasi digital dan fragmentasi waktu.
Temuan menarik lainnya dari studi ini mengungkap bahwa motivasi kerja tidak terbukti memoderasi pengaruh integrasi platform digital maupun fragmentasi waktu terhadap kinerja berkelanjutan guru. Tingginya motivasi kerja guru tidak mampu meredam dampak buruk dari waktu kerja yang terganggu oleh fragmentasi sistem digital. Hal ini mengindikasikan bahwa hambatan alur kerja digital merupakan masalah struktural organisasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan kegigihan atau motivasi pribadi guru di lapangan.
Implikasi dari temuan ini sangat signifikan bagi Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan perancang sistem teknologi pendidikan. Pengelola sekolah disarankan untuk melakukan konsolidasi platform digital agar mengurangi redundansi administrasi dan menyediakan periode waktu kerja yang bebas dari gangguan komunikasi. Keberlanjutan kinerja guru dapat dicapai secara optimal melalui penyederhanaan alur kerja digital dan penyediaan ekosistem kerja yang ramah lingkungan.
Penelitian ini dilakukan oleh Riska Puspandini dan Eri Marlapa yang terafiliasi dengan Universitas Mercu Buana, Jakarta, Indonesia.
Profil Penulis:
Riska Puspandini, Eri Marlapa (Universitas Mercu Buana)
Sumber Penelitian:
Judul Artikel: The Effect of Digital Platform Integration and Time Fragmentation on Sustainable Teacher Performance: The Mediating Role of Green Behavior and The Moderating Role of Work Motivation
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 9, 2026, hal. 3757-3768
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.288
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar