Inovasi Hijau Jadi Strategi UMKM Memperkuat Daya Saing di Tengah Tuntutan Ekonomi Berkelanjutan

Ilustrasi by AI

Makassar - Inovasi hijau semakin penting bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ingin mempertahankan daya saing sekaligus beradaptasi dengan tuntutan keberlanjutan. Hal tersebut dibahas oleh Yulnita Muchtar, Rahmat Hidayat, dan Mildayanti dari Department of Entrepreneurship, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Makassar, dalam artikel yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS).

Artikel berjudul “Green Innovation as a Strategy for Strengthening the Competitiveness of Micro, Small, and Medium Enterprises” menelaah literatur ilmiah yang diterbitkan sepanjang 2021–2026. Kajian tersebut menunjukkan bahwa inovasi hijau tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga dapat menjadi strategi bisnis melalui penghematan biaya, pembeda produk, perluasan akses pasar, dan penguatan reputasi usaha.

UMKM Menghadapi Tantangan Ekonomi dan Lingkungan

UMKM memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia. Dalam artikel tersebut, Muchtar, Hidayat, dan Mildayanti mengutip literatur yang menyebutkan bahwa sektor UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional serta menyerap sebagian besar tenaga kerja domestik.

Namun, aktivitas UMKM juga memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Literatur yang dikaji dalam artikel tersebut memperkirakan aktivitas UMKM menghasilkan sekitar 216 juta ton emisi CO₂ pada 2022.

Kondisi ini menciptakan tantangan ganda. UMKM perlu terus berkembang dan bersaing di pasar, tetapi pada saat yang sama harus menyesuaikan kegiatan bisnis dengan meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Dalam konteks tersebut, inovasi hijau menawarkan pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan lingkungan. Inovasi hijau mencakup pengembangan produk, proses produksi, teknologi, maupun strategi pengelolaan bisnis yang memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan usaha.

Empat Jalur Inovasi Hijau Memperkuat Daya Saing

Muchtar, Hidayat, dan Mildayanti mengelompokkan temuan dari literatur yang ditinjau ke dalam empat mekanisme utama yang menghubungkan inovasi hijau dengan daya saing UMKM.

Pertama, efisiensi biaya operasional. Penggunaan energi secara lebih efisien, pengurangan limbah, serta proses produksi yang lebih bersih dapat membantu menekan penggunaan bahan baku dan energi. Efisiensi tersebut berpotensi memperbaiki margin usaha.

Kedua, diferensiasi produk. Produk yang menggunakan bahan lebih ramah lingkungan atau diproduksi melalui proses yang lebih berkelanjutan dapat memiliki karakteristik berbeda dibandingkan produk konvensional. Perbedaan tersebut dapat menjadi daya tarik bagi konsumen yang semakin memperhatikan aspek lingkungan.

Ketiga, perluasan akses pasar. Literatur yang ditinjau menunjukkan bahwa budaya inovasi hijau dapat berkaitan dengan peningkatan kinerja pasar. Studi terhadap usaha kecil dan menengah di China, misalnya, menemukan hubungan antara budaya inovasi hijau dengan kinerja pasar melalui inovasi produk dan pemasaran.

Temuan dari Indonesia juga menunjukkan keterkaitan antara inovasi hijau, kinerja keberlanjutan UMKM, dan pertumbuhan ekonomi hijau.

Keempat, penguatan reputasi dan kepercayaan. Konsistensi dalam menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dapat membantu membangun kepercayaan pemangku kepentingan, memperkuat citra merek, dan mendukung loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

Inovasi Hijau Tidak Harus Dimulai dari Investasi Besar

Salah satu poin penting dari kajian ini adalah bahwa keterbatasan skala UMKM tidak selalu menjadi penghalang untuk menerapkan inovasi hijau.

Para penulis menjelaskan bahwa inovasi hijau pada UMKM dapat dilakukan melalui perubahan bertahap yang disesuaikan dengan kemampuan usaha. Langkah tersebut dapat berupa perubahan pemasok bahan baku, penyesuaian proses produksi, pengurangan penggunaan energi, pengelolaan limbah, hingga perubahan strategi pemasaran.

Dengan pendekatan tersebut, UMKM tidak selalu harus memulai transformasi melalui proyek teknologi berskala besar. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari pembangunan kemampuan bisnis yang lebih berkelanjutan.

Literatur yang dikaji juga menunjukkan bahwa manfaat inovasi hijau cenderung lebih kuat ketika praktik tersebut menjadi bagian dari model bisnis, bukan sekadar tindakan sementara untuk memenuhi tuntutan regulasi.

Tantangan: Modal, Teknologi, dan Dukungan Kebijakan

Meskipun memiliki potensi ekonomi, penerapan inovasi hijau masih menghadapi sejumlah hambatan.

Keterbatasan modal menjadi salah satu kendala utama bagi UMKM yang ingin mengadopsi teknologi atau proses produksi yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, pemahaman terhadap teknologi hijau dan konsep bisnis berkelanjutan belum merata di kalangan pelaku usaha.

Dukungan kebijakan juga menjadi faktor penting. Muchtar, Hidayat, dan Mildayanti menekankan perlunya koordinasi antara pelaku UMKM, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan pemerintah agar transformasi hijau dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Bagi pelaku UMKM, pendekatan yang dapat dilakukan antara lain memulai dari penyesuaian produk dan proses produksi yang relatif terjangkau. Setelah kemampuan internal berkembang, langkah berikutnya dapat mencakup digitalisasi dan pemanfaatan pembiayaan hijau.

Sementara itu, lembaga keuangan dan pemerintah dapat berperan melalui skema pembiayaan hijau yang lebih fleksibel, insentif fiskal, dukungan digitalisasi, serta pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan UMKM.

Masih Dibutuhkan Bukti Empiris dari Berbagai Sektor

Artikel ini merupakan kajian konseptual berbasis literatur sehingga tidak mengumpulkan data primer atau melakukan pengujian statistik baru. Karena itu, kajian tersebut belum dapat menentukan besarnya pengaruh masing-masing mekanisme secara kuantitatif maupun membuktikan hubungan sebab-akibat.

Para penulis merekomendasikan penelitian berikutnya menggunakan data primer dari berbagai sektor dan wilayah UMKM di Indonesia. Penelitian tersebut dapat menguji seberapa besar kontribusi efisiensi biaya, diferensiasi produk, akses pasar, dan reputasi terhadap daya saing usaha.

Kajian lanjutan juga dapat melihat kombinasi dukungan yang paling sesuai pada setiap tahap adopsi inovasi hijau, termasuk pembiayaan, pelatihan, dan digitalisasi.

Secara keseluruhan, kajian Muchtar, Hidayat, dan Mildayanti menunjukkan bahwa inovasi hijau dapat ditempatkan bukan hanya sebagai respons terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi bisnis UMKM. Ketika efisiensi, inovasi produk, akses pasar, dan reputasi berkembang secara bersamaan, praktik keberlanjutan dapat menjadi bagian dari upaya UMKM mempertahankan daya saing dalam ekonomi yang semakin berorientasi pada keberlanjutan.

Profil Penulis

Yulnita Muchtar merupakan akademisi pada Department of Entrepreneurship, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Makassar, dengan bidang kajian kewirausahaan, inovasi hijau, dan pengembangan UMKM.

Rahmat Hidayat merupakan bagian dari Department of Entrepreneurship, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Makassar, dengan bidang kajian yang berkaitan dengan kewirausahaan dan pengembangan bisnis.

Mildayanti merupakan bagian dari Department of Entrepreneurship, Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Makassar, dengan bidang kajian kewirausahaan dan keberlanjutan usaha.

Sumber Penelitian

Judul: Green Innovation as a Strategy for Strengthening the Competitiveness of Micro, Small, and Medium Enterprises
Penulis: Yulnita Muchtar, Rahmat Hidayat, Mildayanti
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 9, 2026, halaman 1289-1296
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i9.64
URL Jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar