SIMPEG Menjadi Bagian Penting dalam Administrasi Kepegawaian
Pengelolaan kepegawaian di organisasi publik membutuhkan informasi yang cepat, akurat, terintegrasi, dan mudah digunakan. Data kepegawaian tidak hanya berfungsi sebagai arsip administrasi, tetapi juga mendukung pekerjaan sehari-hari, pemantauan kehadiran, pengelolaan cuti, pengembangan karier, penilaian kinerja, hingga pengambilan keputusan.
Pengelolaan data secara manual atau melalui sistem yang tidak terintegrasi dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti keterlambatan laporan, kesalahan pencatatan, data yang tidak diperbarui, dan kesulitan menelusuri riwayat pegawai.
Kondisi tersebut menjadi relevan bagi Rutan Kelas IIB Sengkang karena unit kerja ini menangani berbagai aktivitas yang membutuhkan ketertiban administrasi, keamanan, pelayanan terhadap tahanan, serta koordinasi antarunit. Dalam situasi seperti itu, ketersediaan informasi kepegawaian yang akurat dapat membantu organisasi menjalankan pekerjaan dan mengambil keputusan secara lebih efektif.
Penelitian Melibatkan 39 Pegawai
Ardiyanti dan rekan-rekannya menggunakan pendekatan kuantitatif untuk melihat hubungan antara penerapan SIMPEG dan kinerja pegawai. Penelitian dilakukan di Rutan Kelas IIB Sengkang, Kabupaten Wajo.
Populasi penelitian terdiri atas 63 pegawai. Dari jumlah tersebut, sebanyak 39 pegawai menjadi responden. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, dan dokumentasi.
Kuesioner menggunakan skala lima tingkat. Penilaian SIMPEG mencakup enam aspek utama, yaitu informasi, manusia sebagai pengolah informasi, sistem, organisasi dan manajemen, pengambilan keputusan, serta nilai informasi.
Sementara itu, kinerja pegawai dinilai berdasarkan kualitas pekerjaan, kuantitas pekerjaan, pelaksanaan tugas, dan tanggung jawab. Data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, dan koefisien determinasi dengan bantuan SPSS 26.
Implementasi SIMPEG Dinilai Sangat Baik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SIMPEG di Rutan Kelas IIB Sengkang berada dalam kategori sangat baik.
Dari 39 responden dan 10 pernyataan, SIMPEG memperoleh total skor 1.720. Para pegawai menilai sistem tersebut mampu membantu memenuhi kebutuhan informasi kepegawaian, koordinasi, pengambilan keputusan, serta efisiensi pekerjaan.
Salah satu hasil yang menonjol adalah aspek akses informasi untuk kebutuhan pengambilan keputusan. Indikator tersebut memperoleh skor 181 dari skor ideal 195.
Temuan ini menunjukkan bahwa SIMPEG tidak hanya dipandang sebagai tempat penyimpanan data kepegawaian. Sistem tersebut juga digunakan sebagai sumber informasi yang membantu proses manajerial dan pekerjaan organisasi.
Kinerja Pegawai Juga Berada pada Kategori Sangat Baik
Penilaian terhadap kinerja pegawai menghasilkan gambaran yang serupa. Dari 39 responden dan 10 item pernyataan, kinerja pegawai memperoleh total skor 1.727 dan masuk kategori sangat baik.
Sebanyak sembilan indikator berada dalam kategori sangat baik, sedangkan satu indikator berada dalam kategori baik.
Empat aspek yang digunakan untuk melihat kinerja mencakup:
- Kualitas, terutama ketepatan pekerjaan dan kesesuaian hasil dengan standar.
- Kuantitas, termasuk efisiensi waktu dan volume pekerjaan.
- Pelaksanaan tugas, termasuk kepatuhan terhadap prosedur dan kemampuan beradaptasi.
- Tanggung jawab, termasuk integritas, kepatuhan terhadap aturan, dan perhatian terhadap hasil pekerjaan.
Hubungan SIMPEG dan Kinerja Sangat Kuat
Analisis statistik memberikan temuan utama penelitian. Nilai korelasi Pearson antara penerapan SIMPEG dan kinerja pegawai mencapai 0,854 dengan tingkat signifikansi 0,000.
Nilai tersebut menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat. Artinya, semakin baik penerapan SIMPEG, semakin tinggi pula kinerja pegawai yang teramati dalam penelitian.
Analisis regresi juga menghasilkan koefisien positif sebesar 0,835. Dalam model penelitian, setiap peningkatan satu unit skor SIMPEG dikaitkan dengan peningkatan skor kinerja pegawai sebesar 0,835 unit.
Temuan yang paling penting terlihat pada nilai R² sebesar 0,730. Angka tersebut berarti SIMPEG menjelaskan sekitar 73 persen variasi kinerja pegawai dalam model penelitian. Sementara itu, sekitar 27 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model.
Para peneliti menegaskan bahwa angka 73 persen tersebut tidak berarti kinerja pegawai sepenuhnya ditentukan oleh SIMPEG. Faktor lain seperti kemampuan, motivasi, kepemimpinan, lingkungan kerja, disiplin, dan budaya organisasi juga dapat memengaruhi kinerja.
Mengapa SIMPEG Dapat Mendukung Kinerja?
Ardiyanti dan tim dari Universitas Puangrimaggalatung menjelaskan bahwa sistem informasi yang terpusat dapat mempersingkat waktu pencarian data dan mengurangi ketergantungan pada dokumen manual.
Informasi yang lebih terstruktur juga dapat membantu mengurangi kesalahan pencatatan, mempercepat pelaporan, serta mendukung koordinasi dan pengambilan keputusan.
Efektivitas SIMPEG tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya. Kualitas data tidak hanya ditentukan oleh aplikasi, tetapi juga oleh proses memasukkan, memperbarui, memvalidasi, dan memelihara data. Karena itu, kompetensi pengguna dan pengawasan tetap menjadi bagian penting dalam keberhasilan sistem.
Secara praktis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SIMPEG perlu berjalan bersama dengan pembaruan data secara berkala, pengembangan kemampuan pengguna, pengawasan internal, dan dukungan manajemen.
Pengembangan fitur SIMPEG juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan, terutama untuk pelaporan, pemantauan, serta penyediaan informasi bagi pengambilan keputusan.
Dampak bagi Administrasi Publik
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa digitalisasi administrasi kepegawaian dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan efektivitas kerja organisasi publik.
Bagi instansi pemerintah, sistem informasi kepegawaian yang berkualitas dapat membantu memastikan data tersedia ketika dibutuhkan. Bagi pimpinan, informasi yang cepat dan akurat dapat memperkuat proses pengawasan serta pengambilan keputusan. Sementara bagi pegawai, akses informasi yang lebih mudah dapat mengurangi waktu yang digunakan untuk mencari atau memverifikasi data administratif.
Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Jumlah responden relatif kecil dan penelitian hanya dilakukan pada satu lokasi dengan satu variabel independen. Karena itu, hasilnya perlu diterapkan secara hati-hati pada unit kerja pemerintah lainnya.
Penelitian berikutnya dapat memasukkan faktor seperti kompetensi digital, kepuasan kerja, disiplin, kepemimpinan, budaya organisasi, kualitas layanan sistem, dan penerimaan teknologi. Perbandingan antar-rutan atau unit pelaksana teknis juga dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi yang membuat SIMPEG efektif dalam meningkatkan kinerja.
Profil Penulis
Artikel ini ditulis oleh Ardiyanti, Syupriadi, Hartini Syupriadi, Hartina Syupriadi, dan Supris Musiapir dari Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Puangrimaggalatung.
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of the Implementation of the Personnel Information Management System (SIMPEG) on Employee Performance at the Class IIB State Detention Center in Sengkang
Penulis: Ardiyanti, Syupriadi, Hartini Syupriadi, Hartina Syupriadi, Supris Musiapir
Afiliasi: Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Puangrimaggalatung
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Tahun: 2026
Volume: 4, Nomor 8, halaman 1049–1058
DOI: 10.59890/ijsas.v4i8.61
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar