PURWOKERTO — Integrasi nilai-nilai keagamaan dengan agenda pembangunan berkelanjutan global terbukti menjadi strategi efektif dalam mendorong aksi pelestarian lingkungan berbasis masyarakat di Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Kholid Mawardi, Supriyanto, dan Zein Muchamad Masykur dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto mengungkapkan bahwa Gerakan Ekoteologi "Satu Santri Satu Pohon" berhasil menerjemahkan konsep fikih lingkungan atau fiqh al-bi'ah dari teks klasik menjadi aksi ekologis nyata di ribuan pondok pesantren. Kajian ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis iman mampu mengubah norma keberlanjutan global menjadi kewajiban moral yang menggerakkan jutaan santri di seluruh penjuru negeri.
Latar belakang penelitian ini menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan memiliki lebih dari 42 ribu pesantren yang menampung sekitar 1,37 juta santri. Selama ini, kampanye lingkungan yang bersifat sekuler sering kali menemui keterbatasan dalam mengubah perilaku masyarakat secara mendasar. Sebaliknya, institusi pesantren yang memiliki otoritas moral kuat serta rutinitas pedagogis harian menjadi sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasi kesadaran lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan bentuk keimanan.
Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan analisis dokumen kualitatif dan analisis konten media digital yang diselaraskan dengan metode netnografi. Para peneliti menganalisis korpus dokumen resmi, rilis berita Kementerian Agama, publikasi keagamaan, serta studi kasus etnografis pada Pesantren Ekologi Ath-Thaariq di Garut, Jawa Barat. Melalui kerangka kerja Model Vernakularisasi Triadik, penelitian ini memetakan bagaimana doktrin teologis, kebijakan birokrasi negara, dan praktik pedagogis di lapangan saling terhubung untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan ekoteologi nasional berkembang melalui proses perakitan kebijakan yang panjang, dimulai dari fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang pertambangan ramah lingkungan pada 2011 dan pengelolaan sampah pada 2014, hingga puncaknya pada peluncuran gerakan nasional pada akhir 2025. Peneliti menemukan keberadaan "Infrastruktur Barokah", yaitu praktik material ganda yang bernilai ibadah sekaligus terukur secara ekologis. Penanaman pohon, daur ulang air wudu untuk irigasi, serta pengelolaan bank sampah di pesantren tidak hanya dipahami santri sebagai pencari keberkahan, tetapi juga menjadi instrumen nyata yang mendukung penanganan perubahan iklim, konservasi air, dan pengurangan limbah.
Implikasi dari penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pembuatan kebijakan publik dan tata kelola lingkungan berbasis agama. Kementerian Agama bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan disarankan untuk memperkuat sistem pemantauan dan evaluasi berbasis data di tingkat pesantren guna memastikan keberlanjutan program penanaman pohon dan pengelolaan sampah secara berkala. Model keterlibatan pesantren ini juga dapat dijadikan acuan internasional bagi negara-negara berkembang lainnya dalam memobilisasi jaringan pendidikan berbasis agama untuk mendukung agenda keberlanjutan iklim dunia.
Profil Penulis
Kholid Mawardi, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Supriyanto, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Zein Muchamad Masykur, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Sumber Penelitian
Judul Artikel: One Santri, One Tree, One Ummah: Vernacularizing the Sustainable Development Goals through Fiqh al-Bi'ah and Pesantren Ecotheology in Indonesia
Nama Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR)
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i9.160
URL Resmi: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar