Gangguan Ritme Sirkadian dan Sumbu Usus–Hati: Hubungan antara Gaya Hidup Modern, Disbiosis Mikrobioma, dan Kesehatan Metabolik Hati


Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Gangguan Jam Biologis Tubuh Rusak Kesehatan Usus dan Hati, Menurut Tinjauan Riset Terbaru. Penelitian yang dilakukan oleh Annisa Zahra Mufida dan Titong Sugihartono dari Universitas Airlangga Surabaya dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa ketidak sesuaian antara jadwal aktivitas harian dengan jam biologis internal tubuh mengganggu komunikasi vital antara usus dan hati, yang berujung pada penurunan kesehatan metabolik jangka panjang.

Tantangan Gaya Hidup Modern dan Pergeseran Jam Biologis

Gaya hidup masyarakat modern semakin menjauhkan manusia dari siklus alami siang dan malam. Sistem kerja bergilir (shift work), paparan cahaya buatan di malam hari, serta waktu makan yang acak secara terus-menerus mendesinkronisasi jam pusat di otak dengan jam perifer yang ada pada organ metabolik seperti hati dan saluran pencernaan. Pemahaman mengenai ketidaksesuaian biologis ini menjadi sangat krusial mengingat lonjakan kasus penyakit hati lemak non-alkohol (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease atau NAFLD)—yang kini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD)—di seluruh dunia. Temuan ini menyingkap bahwa menjaga kesehatan hati tidak hanya bergantung pada komposisi makanan yang dikonsumsi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh konsistensi waktu tidur dan jadwal makan harian.

Sintesis Bukti Ilmiah dan Jalur Mikroba
Untuk memetakan dampak gangguan jam biologis terhadap organ dalam secara komprehensif, Mufida dan Sugihartono menganalisis 18 artikel penelitian primer dan artikel ulasan bereputasi yang terindeks di PubMed, Scopus, dan Google Scholar dari periode 2020 hingga 2025. Menggunakan metode tinjauan naratif, para peneliti dari Universitas Airlangga ini mengidentifikasi bagaimana gangguan sirkadian mengubah perilaku mikrobioma usus, menekan produksi asam lemak rantai pendek, merusak sintesis asam empedu, dan memicu peradangan pada jaringan hati.

Temuan Utama: Rantai Reaksi dari Usus ke Hati
Tinjauan ilmiah ini mengungkapkan rantai reaksi biologis bertahap yang menghubungkan kebiasaan hidup tidak teratur dengan kerusakan fungsi hati:

  • Perubahan Fungsi Mikrobioma Usus: Pergeseran jam tidur dan bangun terbukti mengubah profil fungsional serta jaringan interaksi bakteri usus bahkan sebelum terjadi perubahan jumlah populasi bakteri secara drastis.
  • Hilangnya Ritme Mikroba Oscilator: Makanan yang dikonsumsi pada waktu yang salah atau terbiasa makan di malam hari merusak populasi bakteri usus fungsional (microbial oscillators) yang membutuhkan siklus puasa-makan teratur untuk menghasilkan senyawa metabolik penting.
  • Kerusakan Dinding Usus (Leaky Gut): Gangguan irama sirkadian melemahkan integritas membran usus. Penurunan daya tahan membran ini menyebabkan kebocoran racun bakteri, seperti lipopolysaccharides (LPS), yang kemudian mengalir langsung menuju hati melalui pembuluh darah vena porta.
  • Disrupsi Sinyal Asam Empedu dan SCFA: Jam biologis yang tidak terkoordinasi menurunkan produksi asam lemak rantai pendek (Short-Chain Fatty Acids/SCFA) dan mengganggu transformasi asam empedu, sehingga mengurangi kontrol alami tubuh terhadap metabolisme glukosa dan lemak.
  • Peradangan Hati dan Penumpukan Lemak: Racun dan mediator inflamasi yang sampai ke hati mengaktifkan respon imun berlebih, memicu peradangan kronis tingkat rendah, stres oksidatif, dan mempercepat penumpukan lemak (lipid accumulation) pada sel-sel hati.
Dampak Nyata dan Solusi bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini memberikan panduan praktis yang sangat berharga bagi kesehatan masyarakat, kebijakan tempat kerja, dan praktik kedokteran klinis. Manajemen kesehatan kerja di perusahaan yang menerapkan sistem shift perlu mengadopsi strategi krononutrisi, seperti penerapan batas waktu makan (time-restricted feeding), guna melindungi jam biologis organ perifer dari gangguan yang parah. Masyarakat umum dapat menjaga kesehatan usus dan hati secara mandiri dengan menjaga pola tidur teratur, menghindari konsumsi makanan di malam hari, dan mengurangi paparan layar elektronik sebelum tidur. Praktisi medis juga dapat memanfaatkan pendekatan krononutrisi serta intervensi waktu biologis sebagai langkah preventif awal dalam menangani gangguan metabolisme hati.

Profil Penulis
Annisa Zahra Mufida, S.Ked., M.Sc. – Peneliti dan akademisi di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia. Memiliki kepakaran di bidang biokimia kedokteran, kesehatan metabolik, dan fisiologi gastrointestinal.
dr. Titong Sugihartono, Sp.PD, K-GEH – Peneliti klinis dan dosen staf pengajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga / RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia. Berkeahlian spesialis dalam bidang ilmu penyakit dalam, gastroenterologi, dan hepatologi.

Sumber Penelitian
Annisa Zahra Mufida, Titong Sugihartono. Circadian Disruption and the Gut-Liver Axis: Linking Modern Lifestyle, Microbiome Dysbiosis, and Metabolic Liver Health. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 8, hal. 1851–1868)
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i8.111
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas


Posting Komentar

0 Komentar