Fenomena Quiet Quitting Mengancam Produktivitas Kerja dan Budaya Perusahaan Pekerja Gen Z Sektor Swasta di Banjarmasin

Ilustrasi by AI

Fenomena aksi protes pasif atau quiet quitting di kalangan pekerja Generasi Z terbukti menurunkan produktivitas kerja dan merusak iklim budaya organisasi pada sektor swasta di Kota Banjarmasin. Temuan ilmiah terbaru ini diungkapkan melalui penelitian bertajuk "The Impact of Quiet Quitting on Work Productivity and Organizational Culture Among Gen Z Employees in the Private Sector in Banjarmasin" yang dipublikasikan dalam International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) edisi Agustus 2026.

Penelitian yang dipimpin oleh tim peneliti Marezza Putri Anggreani, Neti Rosiana Fadilah, Julia Anggraeni, dan Asmi Citra Nusantara menunjukkan bahwa sikap membatasi pekerjaan hanya sebatas rincian tugas formal (job description) bukan sekadar tren media sosial, melainkan bentuk protes tersembunyi yang mengancam ketahanan perusahaan secara sistemik.

Protes Pasif di Tengah Budaya Ewuh Pakewuh

Masuknya Generasi Z ke dalam dunia kerja membawa pergeseran nilai yang berfokus pada keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan kesehatan mental. Namun, ketika nilai-nilai ini berbenturan dengan budaya lembur tanpa kompensasi adil (hustle culture) serta kepemimpinan direktif di sektor swasta, ketidakpuasan kerja pun muncul.

Di Banjarmasin, dinamika ini memiliki keunikan tersendiri. Normatik budaya lokal yang menghindari konflik terbuka (ewuh pakewuh) membuat pekerja muda tidak serta-merta mengundurkan diri secara terbuka (outright resignation). Sebaliknya, mereka memilih quiet quitting—menolak lembur, enggan mengambil tugas tambahan, serta menarik keterlibatan emosional dan inisiatif dari lingkungan kerja.

Metode Penelitian dan Analisis Statistik

Studi kuantitatif asosiatif kausal ini melibatkan 120 responden karyawan Generasi Z di sektor swasta Banjarmasin yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria responden meliputi pekerja kelahiran tahun 1997–2012 yang telah bekerja minimal satu tahun di sektor perdagangan, jasa, teknologi, kreatif, hingga manufaktur.

Pengumpulan data dilakukan pada April hingga Mei 2026 melalui kuesioner skala Likert 5 poin yang dianalisis menggunakan uji regresi linier sederhana dan Multivariate Analysis of Variance (MANOVA).

Temuan Utama Penelitian

Hasil pengolahan data statistik mencatat sejumlah temuan krusial:

  • Tingkat Quiet Quitting Tinggi: Variabel quiet quitting berada pada kategori tinggi dengan skor rata-rata 3,68 (74%). Indikator penolakan lembur/tugas ekstra mencatat skor tertinggi sebesar 3,79 (76%), disusul oleh pembatasan peran kerja formal sebesar 3,75 (75%).
  • Dampak Negatif terhadap Produktivitas Kerja: Secara parsial, quiet quitting berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produktivitas kerja ($t = -6,842$; $p = 0,000$). Setiap peningkatan satu unit perilaku quiet quitting menurunkan produktivitas kerja sebesar 0,430 unit.
  • Erosi Budaya Organisasi: Perilaku ini juga berdampak negatif dan signifikan terhadap budaya organisasi ($t = -5,915$; $p = 0,000$), di mana setiap kenaikan satu unit quiet quitting mengurangi kualitas budaya organisasi sebesar 0,380 unit.
  • Ancaman Komprehensif secara Simultan: Uji MANOVA membuktikan bahwa quiet quitting berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap kombinasi produktivitas dan budaya organisasi (Wilks' Lambda = 0,688; $F = 26,524$; $p = 0,000$).

Implikasi dan Dampak Bagi Dunia Usaha

Secara teoritis, penelitian ini memperkuat Social Exchange Theory dan Psychological Contract Theory. Ketika karyawan merasa pengorbanan waktu dan tenaga mereka tidak sebanding dengan penghargaan finansial atau psikologis yang diterima, mereka secara rasional memangkas kontribusi sukarela (discretionary effort).

Penarikan keterlibatan ini berakibat fatal pada efisiensi penggunaan sumber daya dan ketepatan waktu operasional perusahaan. Selain itu, lunturnya Organizational Citizenship Behavior (OCB)—yaitu kerelaan membantu rekan kerja secara sukarela—membuat iklim kerja menjadi dingin, individualistis, dan kaku.

Para peneliti menegaskan pentingnya praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) di Banjarmasin untuk segera mengambil langkah strategis. Perusahaan diimbau merancang ulang distribusi beban kerja secara transparan, menghentikan praktik hustle culture, memberikan insentif atau fleksibilitas yang adil atas kontribusi ekstra, serta mentransformasi gaya kepemimpinan agar lebih empati dan responsif terhadap kesejahteraan mental karyawan.

Profil Penulis Penelitian

  • Marezza Putri Anggreani: Peneliti utama di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi, berfokus pada dinamika tenaga kerja Generasi Z dan kinerja perusahaan swasta. (Email: marezzamab@gmail.com)
  • Neti Rosiana Fadilah: Peneliti di bidang Manajemen Operasional dan Budaya Kerja Organisasi.
  • Julia Anggraeni: Peneliti di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Psikologi Industri.
  • Asmi Citra Nusantara: Peneliti di bidang Manajemen Strategis dan Perilaku Bisnis Sektor Swasta.

Sumber Referensi Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar