Empati Pemimpin Jadi Kunci Utama Bangun Loyalitas Karyawan di Industri Pakan Ternak Indonesia


Ilustrasi by AI 

Penelitian terbaru dari peneliti Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara mengungkapkan bahwa kepemimpinan yang berempati dan motivasi intrinsik memiliki peran jauh lebih dominan dalam meningkatkan komitmen afektif karyawan dibandingkan sekadar komunikasi organisasi. Studi yang dilakukan oleh Eko Dwi Santoso dan Kadarusman pada pertengahan tahun 2026 ini menyoroti dinamika hubungan kerja di sektor industri pakan ternak Indonesia, sebuah sektor strategis yang saat ini tengah menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku dan ketidakpastian ekonomi global. Hasil riset ini memberikan gambaran jelas mengenai pentingnya rasa kepedulian atasan dalam menjaga loyalitas serta keterikatan emosional pekerja.

Industri pakan ternak memegang peranan krusial dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Kendati demikian, tekanan biaya produksi, keterbatasan pasokan bahan baku pakan, hingga melambatnya permintaan pasar berpotensi menurunkan efisiensi operasional dan produktivitas. Dalam situasi yang penuh tekanan ini, komitmen afektif—yakni rasa memiliki, kepedulian, dan keterikatan emosional karyawan terhadap tempatnya bekerja—menjadi aset yang sangat berharga. Karyawan yang memiliki keterikatan emosional tinggi cenderung menampilkan kinerja yang lebih baik, lebih bertahan dalam perusahaan, dan tidak mudah mengundurkan diri.

Untuk menguji dinamika keterikatan kerja tersebut, tim peneliti melakukan survei kuantitatif terhadap para pekerja di PT Charoen Pokphand Jaya Farm wilayah Jawa Tengah. Populasi penelitian mencakup 100 karyawan, dengan penarikan sampel sebanyak 50 responden menggunakan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbasis Google Forms dengan skala Likert lima poin. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.

Berdasarkan analisis statistik yang dipublikasikan pada Agustus 2026, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan utama:

  • Empati Pemimpin Berdampak Positif dan Signifikan: Pemimpin yang menunjukkan sikap peduli, mau mendengarkan, serta memahami sudut pandang dan kondisi bawahan secara nyata meningkatkan komitmen afektif karyawan ($p = 0,049$).
  • Motivasi Intrinsik Mendorong Loyalitas: Dorongan dari dalam diri karyawan—seperti rasa menikmati pekerjaan, merasa pekerjaan itu bermakna, dan adanya kepuasan pribadi—memiliki pengaruh paling kuat terhadap komitmen afektif ($p = 0,001$).
  • Empati Meningkatkan Motivasi Kerja: Empati seorang manajer atau pengawas secara langsung mampu memicu dan memperkuat motivasi intrinsik karyawan dalam menjalankan tugasnya ($p = 0,023$).
  • Komunikasi Pemimpin Tidak Berdampak Signifikan: Kuis dan analisis data menunjukkan bahwa komunikasi kepemimpinan secara mandiri tidak berpengaruh signifikan terhadap komitmen afektif ($p = 0,114$) maupun motivasi intrinsik ($p = 0,829$). Komunikasi yang sebatas penyampaian informasi tanpa diimbangi kepedulian interpersonal dianggap kurang ampuh membangun ikatan emosional.
  • Tidak Ada Peran Mediasi Motivasi Intrinsik: Motivasi intrinsik terbukti tidak memediasi hubungan antara empati pemimpin maupun komunikasi kepemimpinan terhadap komitmen afektif. Hal ini mengindikasikan bahwa empati pemimpin bekerja secara langsung dalam membangun ikatan emosional karyawan.

Hasil riset ini memberikan implikasi strategis bagi manajemen sumber daya manusia di dunia usaha, khususnya manufaktur dan peternakan. Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola komunikasi instruktif atau penyebaran informasi satu arah. Pelatihan kepemimpinan di masa depan perlu difokuskan pada peningkatan kecerdasan emosional dan empati para penyelia agar mampu menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung. Bagi pembuat kebijakan dan pelaku industri, menciptakan ekosistem kerja yang humanis dan memperhatikan kesejahteraan emosional karyawan merupakan langkah krusial untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah gejolak ekonomi.

Sebagaimana dijelaskan oleh para peneliti dari STIE Malangkucecwara, pendekatan kepemimpinan yang berorientasi pada empati memenuhi kebutuhan psikologis dasar karyawan akan rasa dihargai dan memiliki. Ketika karyawan merasakan perhatian yang tulus dari atasan, hubungan timbal balik yang positif akan terbangun secara alami, yang pada akhirnya memperkuat rasa bangga dan loyalitas mereka terhadap perusahaan.

Profil Penulis

  1. Eko Dwi Santoso: 

    Peneliti di STIE Malangkucecwara Malang. Berfokus pada bidang manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan dinamika kepemimpinan di sektor industri.
  2. Kadarusman, Ph.D. (Penulis Korespondensi) Dosen dan peneliti di STIE Malangkucecwara Malang. Memiliki keahlian di bidang manajemen kepemimpinan, perilaku organisasi, dan manajemen strategis sumber daya manusia. Kontak: kadarusman@stie-mce.ac.id.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: How Empathy and Leadership Communication Foster Employees' Affective Commitment: The Mediating Role of Intrinsic Motivation
Nama Jurnal: International Journal of Asian Business and Management (IJABM)
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 4, Halaman 293–308
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijabm.v5i4.21

Posting Komentar

0 Komentar