Ekstrak Buah Kapulaga Menunjukkan Aktivitas Antioksidan, Dipengaruhi Jenis Pelarut

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Buah kapulaga (Wurfbainia compacta) berpotensi menjadi sumber senyawa alami dengan aktivitas antioksidan. Studi yang dilakukan oleh Fri Rahmawati, Putu Athalia Vidya Nariswari, Nur Nunu Prihantini, dan Romauli Lumbantobing dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, menunjukkan bahwa jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi dapat memengaruhi kadar flavonoid, fenolik, serta kapasitas antioksidan yang dihasilkan. Studi tersebut diterbitkan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) Volume 5 Nomor 9 pada 2026.

Temuan ini penting karena senyawa antioksidan dari bahan alam banyak dikaji sebagai bagian dari upaya memahami potensi bahan pangan dan tanaman obat dalam menghadapi paparan radikal bebas. Artikel tersebut menjelaskan bahwa radikal bebas yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap stres oksidatif, yang dikaitkan dengan berbagai penyakit degeneratif, metabolik, neurologis, kardiovaskular, dan kanker.

Kapulaga sebagai Sumber Senyawa Bioaktif

Kapulaga merupakan tanaman dari famili Zingiberaceae yang dikenal sebagai rempah dan telah digunakan dalam kuliner maupun pengobatan tradisional. Buahnya mengandung berbagai kelompok senyawa fitokimia, termasuk tanin, alkaloid, saponin, flavonoid, steroid, triterpenoid, dan polifenol.

Menurut artikel tersebut, karakter senyawa yang berhasil diekstraksi dapat dipengaruhi oleh tingkat kepolaran pelarut. Karena itu, para peneliti membandingkan dua jenis pelarut, yaitu etanol 70% dan etil asetat 70%, untuk melihat perbedaannya terhadap kandungan senyawa dan aktivitas antioksidan ekstrak buah kapulaga.

Ekstraksi Menggunakan Dua Jenis Pelarut

Penelitian dilakukan menggunakan buah kapulaga dari aksesi Sumatera Barat, Indonesia. Ekstraksi dilakukan dengan metode sonikasi menggunakan etanol 70% dan etil asetat 70%.

Kandungan flavonoid dan fenolik kemudian dianalisis menggunakan metode spektrofotometri. Kandungan flavonoid dinyatakan dalam ekuivalen kuersetin, sedangkan kandungan fenolik dinyatakan dalam ekuivalen asam galat. Kapasitas antioksidan dianalisis menggunakan metode FRAP dengan Trolox sebagai standar. Setiap pengujian dilakukan sebanyak tiga kali.

Hasil ekstraksi juga menunjukkan perbedaan rendemen. Ekstrak etanol menghasilkan rendemen sebesar 6,980%, sedangkan ekstrak etil asetat menghasilkan 2,80%. Dengan demikian, penggunaan etanol menghasilkan jumlah ekstrak yang lebih tinggi dari bahan awal yang sama.

Etil Asetat Menghasilkan Flavonoid dan Kapasitas Antioksidan Lebih Tinggi

Perbedaan terlihat pada kandungan senyawa yang terukur. Ekstrak etil asetat memiliki kandungan flavonoid total sebesar 0,856 mg QE/g, lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol yang mencapai 0,651 mg QE/g.

Sebaliknya, kandungan fenolik total lebih tinggi pada ekstrak etanol. Ekstrak etanol mengandung 46,853 mg GAE/g, sedangkan ekstrak etil asetat memiliki 44,560 mg GAE/g.
Perbedaan juga ditemukan pada pengujian kapasitas antioksidan. Ekstrak etil asetat menghasilkan nilai 454,243 mg TEAC/g, sementara ekstrak etanol menghasilkan 345,580 mg TEAC/g. Nilai tersebut merupakan hasil yang dilaporkan dalam tabel hasil, abstrak, dan kesimpulan artikel.
Secara sederhana, hasil penelitian menunjukkan pola berikut:

  • Ekstrak etanol: rendemen 6,980%, flavonoid 0,651 mg QE/g, fenolik 46,853 mg GAE/g, dan kapasitas antioksidan 345,580 mg TEAC/g.
  • Ekstrak etil asetat: rendemen 2,80%, flavonoid 0,856 mg QE/g, fenolik 44,560 mg GAE/g, dan kapasitas antioksidan 454,243 mg TEAC/g.

Mengapa Jenis Pelarut Berpengaruh?

Para peneliti menjelaskan bahwa perbedaan hasil tersebut berkaitan dengan sifat kimia masing-masing pelarut. Etanol memiliki polaritas yang lebih tinggi sehingga mampu mengekstraksi lebih banyak komponen tertentu dan menghasilkan rendemen lebih besar.

Sementara itu, etil asetat menghasilkan kandungan flavonoid dan kapasitas antioksidan yang lebih tinggi. Artikel mengaitkan kondisi tersebut dengan karakter senyawa flavonoid tertentu yang dapat lebih mudah diekstraksi menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pemilihan pelarut bukan sekadar tahap teknis dalam proses ekstraksi. Jenis pelarut dapat memengaruhi komposisi senyawa yang diperoleh dan, pada akhirnya, karakter aktivitas biologis ekstrak.

Potensi untuk Pengembangan Produk Berbasis Bahan Alam

Hasil ini memberikan informasi awal mengenai potensi buah kapulaga sebagai sumber ekstrak yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid serta memiliki kapasitas antioksidan berdasarkan metode pengujian yang digunakan.

Namun, hasil tersebut belum berarti bahwa ekstrak kapulaga secara langsung dapat digunakan sebagai obat atau terapi penyakit. Studi ini merupakan penelitian laboratorium yang berfokus pada kandungan senyawa dan kapasitas antioksidan ekstrak.

Para peneliti menyarankan penelitian lanjutan menggunakan teknik seperti LC-MS atau HPLC untuk mengidentifikasi secara lebih spesifik senyawa yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan. Optimalisasi pemilihan pelarut dan prosedur analisis juga diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap mengenai komponen bioaktif dalam buah kapulaga.

Profil Penulis

Fri Rahmawati, Putu Athalia Vidya Nariswari, Nur Nunu Prihantini, dan Romauli Lumbantobing merupakan penulis artikel dari Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Artikel yang mereka terbitkan membahas kandungan flavonoid, fenolik, serta kapasitas antioksidan ekstrak buah kapulaga dengan membandingkan penggunaan etanol dan etil asetat sebagai pelarut. Informasi mengenai gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam artikel yang menjadi sumber berita ini.

Sumber Penelitian

Judul: Total Flavonoid, Total Phenolic Content, and Antioxidant Activity of Cardamom (Wurfbainia Compacta) Fruit Extract
Penulis: Fri Rahmawati, Putu Athalia Vidya Nariswari, Nur Nunu Prihantini, Romauli Lumbantobing
Afiliasi: Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 9
Tahun: 2026
Halaman: 1835–1844

Posting Komentar

0 Komentar