Ekologi Sirkulasi dan Kekuasaan Pesisir dalam Novel Tiang Garam dan Arus Balik

Ilustrasi by AI

JEMBER — Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Jember dan Universitas PGRI Banyuwangi mengungkapkan bahwa kekuasaan di kawasan pesisir tidak hanya bekerja melalui penguasaan wilayah daratan atau eksploitasi sumber daya alam semata, melainkan melalui pengendalian sirkulasi barang, manusia, jalur laut, dan infrastruktur. Riset komparatif ini menganalisis novel Tiang Garam karya Royyan Julian dan Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer untuk memahami bagaimana kehidupan pesisir dipertahankan, dikuasai, dirusak, hingga dibuka kembali melalui sirkulasi. Penelitian ini dipimpin oleh Heru S.P. Saputra bersama L. Dyah Purwita Wardani, Wiwin Indiarti, Titik Maslikatin, Edy Hariyadi, Gio Pramanda Galaxi, Dinda Rahma Antika, dan Carenina Putri, yang dipublikasikan pada tahun 2026.

Wilayah pesisir sering kali dipandang secara sempit sebagai sekadar ruang fisik atau komoditas ekonomi yang siap dieksploitasi, sehingga mengabaikan jaringan hubungan yang menjaga kehidupan di dalamnya tetap berlangsung. Kehidupan pesisir sangat bergantung pada pergerakan yang menghubungkan darat dan laut, mulai dari ladang garam, pelabuhan, jaringan pelayaran, hingga ingatan leluhur. Ketika jalur sirkulasi ini dikuasai secara sepihak atau terputus akibat dominasi ekonomi dan politik, kehidupan masyarakat pesisir mengalami kerentanan dan kerapuhan ekologis yang mendalam.

Untuk membongkar dinamika tersebut, tim peneliti menggunakan metode analisis sastra kualitatif komparatif yang menggabungkan pembacaan dekat, analisis teks ekologi relasional, serta pengkodean tematik. Sebanyak 80 unit teks dari kedua novel dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi pola hubungan antara manusia, alam, infrastruktur, dan kekuasaan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat bagaimana teks sastra merekonstruksi hubungan ekologis pesisir secara kritis dari skala lokal hingga transregional.

Hasil analisis menunjukkan empat pola utama dalam ekologi sirkulasi pesisir. Pertama, lingkungan pesisir berfungsi sebagai infrastruktur relasional tempat kehidupan bergantung pada keterhubungan antara manusia, vegetasi, laut, dan lingkungan nonserupa manusia. Kedua, kekuasaan pesisir bekerja dengan cara menguasai akses dan rute perdagangan, seperti monopoli tengkulak garam dalam Tiang Garam serta penguasaan jalur laut dan pelabuhan oleh kekuatan maritim dalam Arus Balik. Ketiga, perusakan atau pemutusan sirkulasi menyebabkan pemisahan relasional yang berdampak pada rusaknya mata pencaharian, hilangnya tanah leluhur, serta runtuhnya perekonomian pelabuhan. Keempat, upaya pemulihan sirkulasi yang rusak sering kali bersifat mendua karena bisa memulihkan ekonomi warga namun di saat yang sama berisiko membawa kekerasan baru atau keterlibatan militer.

Temuan ini memberikan dampak dan implikasi penting bagi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir, pendidikan lingkungan, dan tata kelola maritim modern. Hasil riset menegaskan bahwa pembangunan atau kebijakan pesisir tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik atau ekstraksi ekonomi semata, tetapi harus menjaga kelancaran sirkulasi sosial dan ekologis masyarakat lokal. Pemerintah dan pembuat kebijakan diimbau untuk melindungi akses masyarakat pesisir terhadap pasar, laut, dan sumber daya kehidupan agar tidak dikuasai oleh monopoli pihak tertentu.

Heru S.P. Saputra, Universitas Jember L. Dyah Purwita Wardani, Universitas Jember Wiwin Indiarti, Universitas PGRI Banyuwangi Titik Maslikatin, Universitas Jember Edy Hariyadi, Universitas Jember Gio Pramanda Galaxi, Universitas Jember Dinda Rahma Antika, Universitas Jember Carenina Putri, Universitas Jember

Sumber: Ecologies of Circulation: Coastal Power and Relational Worlds in Royyan Julian's Tiang Garam and Pramoedya Ananta Toer's Arus Balik, International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, 2026. 

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i9.162 

URL: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar