Efisiensi Operasional Jadi Faktor Penting Profitabilitas Alfamart pada 2019–2024

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Profitabilitas PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau Alfamart selama 2019–2024 berkaitan dengan kombinasi struktur pendanaan, efisiensi operasional, dan pertumbuhan aset. Studi yang ditulis Nur Ahmad Fahrurozi dan Abdurrohim dari Universitas Jenderal Achmad Yani menemukan bahwa efisiensi operasional menjadi satu-satunya variabel yang menunjukkan hubungan signifikan secara parsial dengan profitabilitas perusahaan dalam periode yang dianalisis.

Temuan tersebut penting karena pertumbuhan skala bisnis Alfamart tidak selalu berjalan searah dengan tingkat keuntungan yang dihasilkan dari aset perusahaan. Berdasarkan data laporan tahunan, total aset Alfamart meningkat dari sekitar Rp23,99 triliun pada 2019 menjadi Rp38,80 triliun pada 2024, atau bertambah sekitar 61,7 persen. Namun, profitabilitas yang diukur menggunakan Return on Assets (ROA) mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Pada 2023, ROA perusahaan mencapai 10,47 persen. Setahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 8,62 persen meskipun aset perusahaan justru tumbuh 13,29 persen. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun 7,51 persen pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan aset belum tentu langsung menghasilkan peningkatan keuntungan yang sebanding.

Mengapa Pertumbuhan Aset Tidak Selalu Meningkatkan Laba?

Bagi perusahaan ritel dengan jaringan yang luas, ekspansi membutuhkan berbagai investasi, mulai dari pembukaan gerai, pembangunan dan penggunaan pusat distribusi, persediaan, teknologi, hingga berbagai fasilitas pendukung. Aset baru tersebut membutuhkan waktu untuk mencapai tingkat produktivitas dan penjualan yang diharapkan.

Karena itu, pertumbuhan aset yang tinggi tidak otomatis membuat ROA meningkat. Dalam kasus Alfamart, penelitian menunjukkan bahwa asset growth memiliki hubungan positif tetapi tidak signifikan secara statistik terhadap ROA, dengan nilai p sebesar 0,652. Artinya, berdasarkan data enam tahun yang dianalisis, perubahan pertumbuhan aset belum cukup untuk menjelaskan perubahan profitabilitas secara mandiri.

Peneliti menyarankan agar ekspansi tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah aset yang bertambah. Produktivitas gerai baru, perputaran aset, periode pengembalian investasi, margin operasional tambahan, serta pemanfaatan fasilitas distribusi juga perlu diperhatikan.

Efisiensi Operasional Paling Menonjol

Dari tiga faktor yang diuji, efisiensi operasional menunjukkan hubungan parsial yang signifikan dengan profitabilitas. Penelitian menggunakan rasio Operating Expenses to Operating Income (BOPO) sebagai indikator efisiensi.

Hasil regresi menunjukkan koefisien BOPO sebesar -2,853 dengan nilai p 0,006. Hubungan negatif tersebut berarti kenaikan beban operasional dibandingkan pendapatan operasional berkaitan dengan penurunan ROA dalam sampel penelitian.

Temuan ini relevan bagi bisnis ritel yang harus mengelola banyak komponen biaya sekaligus. Pengeluaran untuk gerai, tenaga kerja, utilitas, sewa, distribusi, persediaan, sistem informasi, dan promosi dapat menyerap sebagian besar pendapatan operasional.

Menurut temuan Fahrurozi dan Abdurrohim, pengendalian biaya menjadi penting, tetapi hasil tersebut tidak berarti seluruh pengeluaran harus dipangkas. Pengeluaran yang mendukung kualitas layanan, pertumbuhan penjualan, ekspansi jaringan, atau efisiensi jangka panjang tetap perlu dibedakan dari biaya rutin yang tidak menghasilkan pendapatan secara sebanding.

Struktur Modal Tidak Berpengaruh Secara Parsial

Faktor kedua yang diuji adalah struktur modal, yang diukur menggunakan Debt-to-Equity Ratio (DER). Rasio ini menunjukkan perbandingan utang perusahaan terhadap ekuitas.

Hasil penelitian menunjukkan DER memiliki koefisien positif sebesar 0,140, tetapi tidak signifikan secara statistik dengan nilai p 0,735. Dengan demikian, perubahan proporsi utang terhadap ekuitas tidak secara mandiri menjelaskan perubahan ROA Alfamart selama periode penelitian.

Peneliti menjelaskan bahwa utang dapat membantu membiayai ekspansi gerai, logistik, persediaan, dan pengembangan digital. Namun, manfaat tersebut perlu dibandingkan dengan biaya pendanaan dan kewajiban keuangan yang muncul.

Ketiga Faktor Berhubungan Jika Dilihat Bersama

Meskipun struktur modal dan pertumbuhan aset tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial, ketika DER, BOPO, dan pertumbuhan aset diuji secara bersamaan, ketiganya menunjukkan hubungan signifikan dengan ROA. Uji F menghasilkan nilai 296,810 dengan p 0,003.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan tidak berdiri sendiri. Keputusan mengenai pendanaan, biaya operasional, dan investasi aset saling berkaitan. Ekspansi membutuhkan pendanaan, aset yang dibiayai harus menghasilkan kapasitas operasional, sementara keuntungan akhirnya bergantung pada kemampuan pendapatan menutup biaya operasional dan pendanaan.

Namun, hasil ini perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian hanya menggunakan enam observasi tahunan untuk periode 2019–2024, sehingga hanya tersedia dua derajat kebebasan residual. Penulis juga menemukan indikasi multikolinearitas antara DER dan BOPO. Karena itu, hasil penelitian diposisikan sebagai bukti awal yang spesifik untuk Alfamart selama periode tersebut, bukan sebagai hubungan sebab-akibat yang dapat digeneralisasi ke seluruh industri ritel.

Implikasi bagi Pengelolaan Bisnis

Fahrurozi dan Abdurrohim menilai pengelolaan profitabilitas perlu menggabungkan keputusan pendanaan, pengendalian biaya, dan investasi. Alfamart dapat memantau produktivitas gerai, biaya logistik, perputaran persediaan, penjadwalan tenaga kerja, penggunaan energi, biaya promosi, serta pengeluaran operasional digital.

Untuk ekspansi, investasi pada gerai, gudang, persediaan, dan teknologi juga perlu dievaluasi setelah investasi dilakukan. Indikator seperti perputaran aset, periode pengembalian investasi, margin operasional tambahan, penjualan per gerai, dan pemanfaatan kapasitas distribusi dapat digunakan untuk menilai apakah penambahan aset benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi.

Profil Penulis

Nur Ahmad Fahrurozi — penulis utama dan corresponding author, Universitas Jenderal Achmad Yani. Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik penulis secara terpisah.

Abdurrohim — penulis bersama, Universitas Jenderal Achmad Yani. Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik secara terpisah.

Sumber Penelitian

Fahrurozi, Nur Ahmad & Abdurrohim. “Influence Capital Structure, Operational Efficiency, and Asset Growth to Profitability at PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Period 2019–2024.” Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 9, 2026, hlm. 3125–3142.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i9.194

Posting Komentar

0 Komentar