Dilema Pasar Kerja Indonesia: Mengapa Kemiskinan Justru Mendorong Masyarakat Tetap Bekerja Pascapandemi?

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS -  Jakarta - Pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi COVID-19 pada periode 2020–2024 menghadirkan fenomena unik di pasar tenaga kerja. Meskipun ekonomi nasional tumbuh positif, angka pengangguran yang tinggi membuat sebagian warga putus asa mencari kerja, sementara tingginya angka kemiskinan justru memaksa penduduk usia produktif untuk terus bekerja demi bertahan hidup.

Temuan ini diungkapkan dalam riset terbaru yang disusun oleh peneliti Hermawan Febriansyah dan Hendry Cahyono dari Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya. Penelitian yang dipublikasikan pada September 2026 ini menganalisis hubungan antara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Jumlah Penduduk Miskin (JPM), dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di 34 provinsi di Indonesia.

Fenomena Jobless Recovery dan Beban Ekonomi

Pascapandemi, Indonesia mengalami masa pemulihan ekonomi yang cepat secara agregat, namun penyerapan tenaga kerja di pasar kerja bergerak relatif lambat. Fenomena ini dikenal sebagai jobless recovery, di mana pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tidak serta-merta menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi masyarakat.

Di saat yang sama, tekanan ekonomi akibat kemiskinan yang membelit sebagian penduduk membatasi akses mereka terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak. Kondisi ganda ini memicu perubahan perilaku dalam penawaran tenaga kerja di berbagai daerah.

Metodologi Sederhana Berbasis Data Nasional

Untuk memahami dinamika ini, tim peneliti Universitas Negeri Surabaya menerapkan metode kuantitatif dengan analisis regresi data panel. Penelitian menggunakan data sekunder resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2020 hingga 2024 dari 34 provinsi.

Melalui pengujian statistik (Fixed Effects Model), riset ini mengukur bagaimana perubahan pengangguran dan kemiskinan memengaruhi keputusan warga untuk aktif mencari atau melakukan pekerjaan.

Dua Temuan Kunci Pasar Kerja Indonesia

Hasil analisis statistik menunjukkan dua dampak yang saling berlawanan dari pengangguran dan kemiskinan terhadap partisipasi angkatan kerja di Indonesia:

  • Pengangguran Memicu Efek Putus Asa (Discouraged Worker Effect): Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap partisipasi angkatan kerja. Kenaikan angka pengangguran sebesar 1 persen berdampak pada penurunan partisipasi angkatan kerja sebesar 5,15 persen. Sulitnya mencari pekerjaan membuat banyak pencari kerja kehilangan motivasi dan akhirnya memilih keluar dari angkatan kerja.
  • Kemiskinan Memaksa Bekerja (Necessity to Work): Sebaliknya, jumlah penduduk miskin berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi angkatan kerja. Peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 1 persen mendorong kenaikan partisipasi angkatan kerja sebesar 2,92 persen. Karena tidak memiliki tabungan atau jaring pengaman ekonomi yang memadai, warga miskin tidak memiliki pilihan selain tetap bekerja.

Sacara bersamaan (simultan), pengangguran terbuka dan tingkat kemiskinan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dinamika partisipasi angkatan kerja di seluruh Indonesia.

Implikasi Bagi Kebijakan Publik dan Sektor Informal

Riset ini menegaskan bahwa tingginya partisipasi angkatan kerja akibat kemiskinan bukanlah tanda bahwa pasar kerja sedang sehat. Sebagian besar masyarakat miskin terdorong masuk ke sektor informal, seperti pekerjaan berupah rendah atau pekerjaan dengan jam kerja tidak tetap, sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Oleh karena itu, pemerintah direkomendasikan untuk tidak hanya berfokus pada statistik penurunan pengangguran, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas di sektor formal. Kebijakan Ketenagakerjaan harus terintegrasi dengan program pengentasan kemiskinan serta pelatihan keterampilan agar tenaga kerja memiliki daya saing yang memadai.

"Meningkatnya partisipasi angkatan kerja di tengah kemiskinan mencerminkan strategi bertahan hidup (necessity-driven labor supply), di mana pilihan untuk tidak bekerja menjadi sangat terbatas bagi rumah tangga miskin," catat Hermawan Febriansyah dan Hendry Cahyono dalam laporan riset mereka.

Profil Penulis

  • Hermawan Febriansyah, S.E. – Peneliti dan akademisi di bidang Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.
  • Hendry Cahyono, S.E., M.E. – Dosen dan peneliti bidang Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.

Sumber Riset Resmi

Posting Komentar

0 Komentar