Temuan ini diungkapkan dalam riset terbaru yang disusun oleh peneliti Hermawan Febriansyah dan Hendry Cahyono dari Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya
Fenomena Jobless Recovery dan Beban Ekonomi
Pascapandemi, Indonesia mengalami masa pemulihan ekonomi yang cepat secara agregat, namun penyerapan tenaga kerja di pasar kerja bergerak relatif lambat
Di saat yang sama, tekanan ekonomi akibat kemiskinan yang membelit sebagian penduduk membatasi akses mereka terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak
Metodologi Sederhana Berbasis Data Nasional
Untuk memahami dinamika ini, tim peneliti Universitas Negeri Surabaya menerapkan metode kuantitatif dengan analisis regresi data panel
Melalui pengujian statistik (Fixed Effects Model), riset ini mengukur bagaimana perubahan pengangguran dan kemiskinan memengaruhi keputusan warga untuk aktif mencari atau melakukan pekerjaan
Dua Temuan Kunci Pasar Kerja Indonesia
Hasil analisis statistik menunjukkan dua dampak yang saling berlawanan dari pengangguran dan kemiskinan terhadap partisipasi angkatan kerja di Indonesia
- Pengangguran Memicu Efek Putus Asa (Discouraged Worker Effect): Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap partisipasi angkatan kerja
. Kenaikan angka pengangguran sebesar 1 persen berdampak pada penurunan partisipasi angkatan kerja sebesar 5,15 persen . Sulitnya mencari pekerjaan membuat banyak pencari kerja kehilangan motivasi dan akhirnya memilih keluar dari angkatan kerja . - Kemiskinan Memaksa Bekerja (Necessity to Work): Sebaliknya, jumlah penduduk miskin berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi angkatan kerja
. Peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 1 persen mendorong kenaikan partisipasi angkatan kerja sebesar 2,92 persen . Karena tidak memiliki tabungan atau jaring pengaman ekonomi yang memadai, warga miskin tidak memiliki pilihan selain tetap bekerja .
Sacara bersamaan (simultan), pengangguran terbuka dan tingkat kemiskinan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dinamika partisipasi angkatan kerja di seluruh Indonesia
Implikasi Bagi Kebijakan Publik dan Sektor Informal
Riset ini menegaskan bahwa tingginya partisipasi angkatan kerja akibat kemiskinan bukanlah tanda bahwa pasar kerja sedang sehat
Oleh karena itu, pemerintah direkomendasikan untuk tidak hanya berfokus pada statistik penurunan pengangguran, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas di sektor formal
"Meningkatnya partisipasi angkatan kerja di tengah kemiskinan mencerminkan strategi bertahan hidup (necessity-driven labor supply), di mana pilihan untuk tidak bekerja menjadi sangat terbatas bagi rumah tangga miskin," catat Hermawan Febriansyah dan Hendry Cahyono dalam laporan riset mereka
.
Profil Penulis
- Hermawan Febriansyah, S.E. – Peneliti dan akademisi di bidang Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
. - Hendry Cahyono, S.E., M.E. – Dosen dan peneliti bidang Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya, Indonesia
.
Sumber Riset Resmi
- Judul Artikel: The Impact of the Unemployment Rate and the Number of People Living in Poverty on the Labor Participation Rate in Indonesia, 2020-2024
- Nama Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 9, 2026
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI:
https://doi.org/10.55927/ijar.v5i9.17253 Link Jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
0 Komentar