Diabetes Melitus Tipe 2 Berhubungan dengan Peningkatan Kejadian Batu Empedu pada Pasien Usia di Atas 40 Tahun

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Diabetes melitus (DM) tipe 2 ditemukan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian kolelitiasis atau batu empedu pada pasien berusia di atas 40 tahun. Temuan tersebut berasal dari penelitian Nandito Pratama dan Eveline Margo dari Universitas Trisakti yang menganalisis rekam medis 150 pasien di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, selama Januari hingga Desember 2025. Hasil penelitian yang diterbitkan pada 2026 ini penting karena menunjukkan bahwa pengelolaan faktor risiko diabetes perlu diperhatikan bersama dengan kemungkinan gangguan pada sistem empedu.

Kolelitiasis terjadi ketika komponen empedu, seperti kolesterol, bilirubin, dan kalsium, mengendap dan membentuk batu di dalam kandung empedu atau saluran empedu. Kondisi tersebut tidak selalu menimbulkan gejala pada awalnya, tetapi dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius, termasuk peradangan kandung empedu, infeksi saluran empedu, pankreatitis, atau penyumbatan saluran empedu.

Risiko pembentukan batu empedu dipengaruhi oleh banyak faktor. Usia, jenis kelamin, obesitas, pola makan, aktivitas fisik, serta penyakit metabolik dapat berperan dalam proses tersebut. Pada kelompok usia di atas 40 tahun, risiko kolelitiasis cenderung meningkat karena adanya perubahan metabolisme lemak dan fungsi kandung empedu.

Sementara itu, diabetes tipe 2 dapat memengaruhi metabolisme tubuh melalui resistensi insulin dan kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan sekresi kolesterol ke dalam empedu sekaligus mengganggu kemampuan kandung empedu untuk mengosongkan isinya secara optimal. Akibatnya, empedu menjadi lebih mudah mengalami pengendapan dan membentuk batu.

Data 150 Pasien Menunjukkan Hubungan Bermakna

Pratama dan Margo menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien yang berusia minimal 40 tahun. Sebanyak 150 subjek memenuhi kriteria penelitian. Data kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square untuk melihat apakah terdapat hubungan antara DM tipe 2 dan kolelitiasis.
Dari keseluruhan responden, 88 orang atau 58,7 persen tercatat menderita DM tipe 2. Sementara itu, 85 orang atau 56,7 persen mengalami kolelitiasis. Mayoritas responden berada pada kelompok usia 40–60 tahun, yaitu 89 orang atau 59,3 persen. Perempuan menjadi kelompok terbanyak dengan 83 orang atau 55,3 persen.

Perbedaan terlihat ketika pasien dikelompokkan berdasarkan status diabetes. Dari 88 pasien dengan DM tipe 2, sebanyak 56 orang atau 63,6 persen juga mengalami kolelitiasis. Sebaliknya, pada 62 pasien tanpa DM tipe 2, sebanyak 33 orang atau 53,2 persen tidak mengalami kolelitiasis.

Analisis statistik menghasilkan nilai p=0,040, lebih kecil dari batas signifikansi 0,05. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara DM tipe 2 dan kolelitiasis dalam kelompok pasien yang diteliti.

Usia dan Jenis Kelamin Tidak Menunjukkan Hubungan Signifikan

Menariknya, ketika analisis difokuskan hanya pada pasien yang mengalami DM tipe 2, usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kolelitiasis.

Pada kelompok penderita DM tipe 2 berusia 40–60 tahun, terdapat 36 orang atau 72 persen yang mengalami kolelitiasis. Namun, secara statistik hubungan antara usia dan kolelitiasis tidak signifikan dengan nilai p=0,061.

Hal serupa ditemukan pada variabel jenis kelamin. Sebanyak 31 dari 49 perempuan dengan DM tipe 2 mengalami kolelitiasis, sedangkan pada laki-laki terdapat 25 dari 39 orang. Namun, nilai p=0,935 menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian kolelitiasis pada kelompok tersebut.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun usia dan jenis kelamin dikenal sebagai faktor yang dapat berkaitan dengan risiko batu empedu, keduanya tidak menjadi faktor yang terbukti signifikan dalam analisis khusus terhadap pasien DM tipe 2 pada penelitian ini.

Mengapa Diabetes Dapat Berkaitan dengan Batu Empedu?

Menurut pembahasan Pratama dan Margo, salah satu penjelasan yang mungkin adalah perubahan metabolisme yang terjadi pada DM tipe 2. Resistensi insulin dan hiperglikemia kronis dapat memengaruhi sekresi kolesterol ke dalam empedu serta menurunkan motilitas kandung empedu.

Kondisi tersebut membuat pengosongan empedu menjadi kurang optimal sehingga terjadi stasis atau penumpukan empedu. Pada saat yang sama, perubahan metabolisme lipid dapat membuat empedu lebih kaya kolesterol. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya kristal dan selanjutnya batu empedu.

Penulis juga mencatat bahwa hasil tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan antara DM tipe 2 dan kolelitiasis. Namun, penelitian lain menunjukkan hasil berbeda. Karena itu, hubungan kedua kondisi tersebut masih perlu dipahami dengan mempertimbangkan faktor risiko lain.

Pentingnya Pengelolaan Faktor Risiko

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengelolaan pasien DM tipe 2, khususnya mereka yang berusia di atas 40 tahun. Pengendalian faktor metabolik dan perhatian terhadap gejala yang berkaitan dengan sistem empedu dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan pasien secara menyeluruh.

Namun, hasil penelitian tidak berarti bahwa setiap penderita diabetes pasti akan mengalami batu empedu. Penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa DM tipe 2 secara langsung menyebabkan kolelitiasis.

Penulis juga mengakui beberapa keterbatasan. Penelitian tidak memasukkan sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi kejadian kolelitiasis, seperti berat badan, indeks massa tubuh, pola makan, aktivitas fisik, serta lamanya seseorang menderita DM tipe 2. Karena itu, penelitian berikutnya diperlukan untuk memperoleh gambaran hubungan yang lebih lengkap.

Profil Penulis

Nandito Pratama: Universitas Trisakti. Penulis artikel yang membahas hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kolelitiasis.

Eveline Margo: Universitas Trisakti. Penulis sekaligus corresponding author artikel. Informasi gelar akademik dan bidang keahlian khusus tidak dicantumkan dalam artikel sumber yang digunakan.

Sumber Penelitian

Judul: Relationship Between Type 2 Diabetes Mellitus and Cholelithiasis
Penulis: Nandito Pratama dan Eveline Margo 
Afiliasi: Universitas Trisakti
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 9
Tahun: 2026
Halaman: 1619–1628

Posting Komentar

0 Komentar