Dari Profesional ke Rumah Tangga: Kebingungan Peran yang Dialami Wanita Saat Meninggalkan Dunia Kerja

Gambar Ilustrasi AI

Transisi Perempuan dari Dunia Kerja ke Domestic Menimbulkan Disorientasi Peran

Keputusan perempuan untuk berhenti bekerja dan beralih sepenuhnya ke peran domestik menimbulkan guncangan psikologis mendalam yang memicu disorientasi peran. Penelitian kualitatif yang diterbitkan pada Juni 2026 oleh Irma Tiana Cahyaningrum dan Jaya Addin Linando dari Universitas Islam Indonesia (UII) mengungkapkan bahwa penghentian aktivitas profesional memicu gangguan signifikan pada tiga dimensi utama kehidupan perempuan, yaitu identitas, waktu, dan aktivitas harian. Studi fenomologis yang melibatkan 15 perempuan menikah di Indonesia ini menyingkap bahwa keluar dari pasar kerja bukan sekadar perubahan status dari pekerja menjadi ibu rumah tangga, melainkan sebuah proses transisi yang mengguncang fondasi kehidupan dan menyisakan rasa canggung, bingung, hingga kehampaan.

Tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sering kali mengalami penurunan drastis setelah menikah dan memiliki anak akibat tingginya konflik peran ganda. Beban kerja profesional yang berbenturan dengan norma sosial serta tuntutan pengasuhan keluarga memaksa banyak perempuan mengambil keputusan untuk resign. Meski narasi publik sering menganggap pilihan menjadi ibu rumah tangga sebagai hal yang wajar dan ideal, sebagian besar kajian terdahulu hanya berfokus pada alasan berhenti kerja atau dampaknya secara ekonomi. Akibatnya, dinamika internal dan krisis identitas yang dialami perempuan selama masa transisi tersebut sering kali terabaikan, sehingga sistem pendukung sosial maupun keluarga menjadi tidak siap dalam mendampingi proses perubahan ini.

Untuk memahami pengalaman subjektif tersebut secara mendalam, tim peneliti dari Universitas Islam Indonesia menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terstruktur terhadap 15 perempuan menikah yang pernah bekerja di berbagai sektor—mulai dari buruh pabrik, pegawai ritel, pengajar, hingga supervisor pajak dan bank teller—yang kini berfokus penuh pada ranah domestik. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik enam tahap untuk mengidentifikasi pola pengalaman dan dikorelasikan dengan teori pendukung seperti Self-Determination Theory serta Latent Deprivation Theory guna menjamin kredibilitas temuan.

Penelitian ini memetakan bagaimana perubahan di ranah profesional berdampak pada dinamika kehidupan harian perempuan:

  • Pergeseran Identitas dan Kemandirian: Hilangnya pendapatan mandiri memicu pergeseran dari sosok yang independen menjadi bergantung pada pasangan, yang berdampak pada turunnya rasa percaya diri dan daya pemberdayaan (empowerment). Muncul rasa canggung akibat ketidaksesuaian antara nilai kemandirian yang dianut dengan realitas ketergantungan baru.
  • Disorganisasi Struktur Waktu: Alokasi waktu 24 jam yang sebelumnya terstruktur ketat oleh jam kerja berubah menjadi tidak bertepi di rumah. Tanpa batasan rutinitas kantor, waktu harian terasa kurang terorganisir dan rentan terbuang tanpa arah.
  • Penyempitan Variasi Aktivitas: Aktivitas kerja yang padat dan dinamis berganti menjadi rutinitas domestik yang terbatas serta berulang. Hilangnya keberagaman tugas membuat perempuan kehilangan makna kesibukan produktif yang sebelumnya mereka jalani.
  • Pengalaman Disorientasi Peran: Akumulasi dari perubahan identitas, waktu, dan aktivitas melahirkan disorientasi yang bermanifestasi sebagai perasaan asing, kebingungan menentukan tindakan harian, serta rasa hampa (emptiness) seolah ada bagian penting yang hilang dari hidup mereka.

Temuan ini membawa implikasi penting bagi masyarakat, praktisi psikologi, serta pembuat kebijakan kesejahteraan keluarga. Hasil studi menegaskan pentingnya persiapan mental dan psikologis bagi perempuan sebelum memutuskan mundur dari dunia kerja. Perusahaan dan pemerintah juga didorong untuk menyediakan program transisi karier atau fasilitas kerja yang fleksibel agar perempuan tidak harus mengorbankan identitas profesionalnya secara mendadak. Selain itu, pasangan dan keluarga perlu memberikan dukungan emosional yang aktif untuk membantu perempuan merekonstruksi makna diri serta merancang aktivitas bermakna di luar rutinitas domestik.

Menanggapi fenomena psikologis ini, tim peneliti dari Universitas Islam Indonesia menekankan bahwa fenomena berhenti bekerja membutuhkan perhatian yang lebih empati dari lingkungan sekitar. "Berhenti bekerja bagi seorang perempuan bukan sekadar berganti status dari pekerja menjadi ibu rumah tangga, melainkan sebuah transisi kehidupan yang mengguncang identitas dan struktur harian mereka, sehingga membutuhkan proses rekonfigurasi makna hidup secara bertahap," ungkap Irma Tiana Cahyaningrum bersama Jaya Addin Linando.

Profil Penulis

  1. Irma Tiana Cahyaningrum, S.E.: Peneliti utama dan alumni Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia, dengan fokus keahlian pada Perilaku Organisasi, Sumber Daya Manusia, dan Studi Gender.
  2. Jaya Addin Linando, S.E., M.B.A., Ph.D.: Dosen dan peneliti di Jurusan Manajemen Universitas Islam Indonesia, berkeahlian pada bidang Perilaku Organisasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Keseimbangan Kerja-Kehidupan (Work-Life Balance), dan Metodologi Penelitian Kualitatif.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar