Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Masalah Interaksi Sosial Anak Usia Sekolah

Ilustrasi by AI

Sandra Limbanadi dan Amanda Pasca Rini dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mempublikasikan riset pada Agustus 2026 yang menyoroti bagaimana perubahan kondisi keluarga akibat perceraian orang tua memicu hambatan interaksi sosial pada anak usia sekolah. Penelitian ini sangat penting untuk membangun kesadaran pihak sekolah dan keluarga agar dapat memberikan dukungan emosional yang tepat bagi anak yang mengalami tekanan psikologis akibat perpecahan keluarga.

Perubahan struktur keluarga seperti perceraian sering kali memicu stres emosional, berkurangnya kedekatan, serta minimnya waktu interaksi karena kesibukan orang tua yang bekerja hingga larut malam. Kondisi ini membuat anak merasa kurang mendapatkan perhatian langsung, sehingga berdampak pada kenyamanan mereka saat harus bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Penelitian ini menggunakan kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam, serta pemeriksaan psikologis menggunakan tes kecerdasan dan tes proyektif gambar pada seorang subjek anak berusia 11 tahun 8 bulan.

Temuan utama penelitian ini menunjukkan beberapa poin penting:

  • Kapasitas intelektual subjek berada pada kategori rata-rata ($FSIQ=93$), yang membuktikan bahwa hambatan yang terjadi murni masalah emosional dan sosial, bukan karena keterbatasan kognitif.
  • Subjek menunjukkan kecenderungan menarik diri, sering duduk sendiri saat jam istirahat (4–5 kali seminggu), dan menolak ajakan bermain dari teman sebaya (2–3 kali seminggu).
  • Muncul respons emosional berupa rasa tegang hingga menangis ketika didekati atau diajak berkomunikasi oleh guru di sekolah.
  • Analisis psikologis proyektif mengindikasikan adanya jarak emosional dalam relasi keluarga, di mana sosok ibu dipersepsikan tegas dan kurang ekspresif, sementara sosok ayah dipandang sebagai figur yang kuat.

Menurut Sandra Limbanadi dan Amanda Pasca Rini dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, intervensi berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk membantu anak mengatasi hambatan interaksi sosial ini. Sinergi antara sekolah melalui pendekatan konseling suportif dan keluarga melalui penerapan pola asuh positif terbukti mampu mengembalikan rasa aman dan kenyamanan psikologis anak. Langkah ini krusial untuk memastikan anak dapat beradaptasi secara optimal di lingkungan sosial dan pendidikan tanpa terbebani masalah keluarga.

Profil Penulis:

  • Sandra Limbanadi – Peneliti dan akademisi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan keahlian di bidang psikologi.
  • Amanda Pasca Rini – Peneliti dan akademisi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan keahlian di bidang psikologi.

Sumber Penelitian:

  • Judul Artikel: Case of Social Interaction Problems in Children Related to Changes in Family Conditions Following Parental Divorce at SDN X
  • Nama Jurnal: International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4, No. 8
  • Tahun Publikasi: Agustus 2026
  • DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i8.66

Posting Komentar

0 Komentar