Penelitian tersebut diterbitkan dalam International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS), Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026, halaman 597–610. Artikel diterima pada 29 Agustus 2026 setelah melalui proses revisi. Penelitian dilakukan di lingkungan PKMI-1 Medan dengan melibatkan 67 guru sebagai responden.
Temuan ini penting karena kualitas lembaga pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, fasilitas pembelajaran, atau kualitas peserta didik. Kinerja tenaga pendidik dan staf juga menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai program pendidikan berjalan secara efektif.
Masalah kinerja muncul dari berbagai sisi
Para peneliti menemukan sejumlah persoalan yang menjadi latar belakang penelitian di PKMI-1 Medan. Salah satunya berkaitan dengan kurangnya pelatihan bagi tenaga pengajar dan nonpengajar. Kondisi tersebut terlihat dari masih ditemukannya hasil pekerjaan yang kurang rapi dan tidak akurat, termasuk kesalahan dalam laporan administrasi serta penyusunan materi pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, penelitian juga mencatat adanya penggunaan metode mengajar yang monoton, kurangnya inovasi, serta materi yang dinilai belum selalu relevan dengan kurikulum. Sebagian pekerjaan bahkan membutuhkan revisi berulang sebelum dapat digunakan.
Persoalan lain berkaitan dengan budaya organisasi. Peneliti mencatat bahwa penerapan disiplin belum selalu konsisten. Aturan dapat diterapkan pada waktu atau individu tertentu sehingga budaya kerja yang tertib dan seragam belum sepenuhnya terbentuk.
Dari sisi kepemimpinan, komunikasi antara guru dan staf juga dinilai belum optimal. Pengambilan keputusan yang tidak selalu melibatkan tenaga pengajar dan staf dapat mengurangi rasa memiliki terhadap program sekolah. Sementara itu, lingkungan kerja menghadapi persoalan seperti ruang kerja yang kurang tertata, fasilitas yang sudah lama, kondisi fisik sekolah, serta hubungan antarpegawai yang belum sepenuhnya harmonis.
Kepuasan kerja juga menjadi perhatian. Sebagian karyawan merasakan adanya ketidakseimbangan antara gaji, tunjangan, insentif, beban kerja, dan tanggung jawab. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perasaan dihargai dan pada akhirnya berdampak pada kinerja.
Penelitian melibatkan seluruh 67 guru
Samosir, Goh, dan Silalahi menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dilengkapi dengan observasi langsung di lokasi penelitian.
Populasi penelitian terdiri atas 67 guru PKMI-1 Medan. Karena jumlah populasi relatif kecil dan dapat dijangkau seluruhnya, peneliti menggunakan teknik total population sampling. Dengan demikian, seluruh 67 guru menjadi sampel penelitian.
Analisis dilakukan menggunakan pengujian statistik untuk melihat hubungan antara budaya organisasi, gaya kepemimpinan, lingkungan kerja, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan. Peneliti juga menggunakan uji Sobel untuk mengetahui apakah kepuasan kerja berperan sebagai variabel perantara.
Kepuasan kerja dipengaruhi tiga faktor utama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi, gaya kepemimpinan, dan lingkungan kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja. Ketiga faktor tersebut mampu menjelaskan 56,9 persen variasi kepuasan kerja dalam model penelitian, sedangkan 43,1 persen lainnya dipengaruhi faktor di luar model.
Secara individual, ketiganya juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan.
Budaya organisasi memiliki nilai signifikansi 0,049. Artinya, semakin baik nilai, norma, dan kebiasaan kerja yang diterapkan dalam organisasi, semakin tinggi kepuasan kerja karyawan.
Gaya kepemimpinan menunjukkan pengaruh yang lebih kuat terhadap kepuasan kerja dengan nilai signifikansi kurang dari 0,001 dan koefisien beta terstandar 0,412. Dalam model penelitian, gaya kepemimpinan menjadi prediktor paling kuat terhadap kepuasan kerja dibandingkan dua faktor lainnya.
Sementara itu, lingkungan kerja memiliki nilai signifikansi 0,001 dengan koefisien beta terstandar 0,294. Lingkungan yang nyaman, aman, dan mendukung hubungan kerja dinilai mampu meningkatkan kepuasan karyawan.
Karyawan yang lebih puas menunjukkan kinerja lebih baik
Penelitian juga menemukan hubungan langsung antara kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Nilai signifikansinya mencapai 0,008 dengan koefisien beta terstandar 0,256.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa karyawan yang merasa lebih puas dengan pekerjaannya cenderung menunjukkan kualitas kerja, tanggung jawab, dan kedisiplinan yang lebih baik.
Pada saat yang sama, budaya organisasi, gaya kepemimpinan, dan lingkungan kerja masing-masing juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Nilai signifikansi masing-masing adalah 0,005 untuk budaya organisasi, 0,035 untuk gaya kepemimpinan, dan 0,022 untuk lingkungan kerja.
Kepuasan kerja menjadi penghubung penting
Salah satu temuan utama penelitian adalah peran kepuasan kerja sebagai mediator. Uji Sobel menunjukkan bahwa kepuasan kerja secara signifikan menjadi penghubung antara budaya organisasi dan kinerja karyawan dengan nilai statistik 2,10.
Peran serupa juga ditemukan pada hubungan gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan. Nilai uji Sobel mencapai 2,10. Untuk hubungan lingkungan kerja dan kinerja, nilai uji Sobel bahkan mencapai 2,22. Seluruh nilai tersebut berada di atas nilai kritis 1,96 pada tingkat signifikansi 5 persen.
Dengan kata lain, organisasi tidak cukup hanya memperbaiki aturan atau fasilitas kerja. Perubahan tersebut perlu menciptakan pengalaman kerja yang membuat karyawan merasa lebih puas. Kepuasan tersebut kemudian dapat memperkuat dampaknya terhadap kinerja.
Implikasi bagi pengelolaan lembaga pendidikan
Temuan Laura Chintya Samosir, Thomas Sumarsan Goh, dan Sahat Parulian Remus Silalahi dari Universitas Methodist Indonesia memberikan gambaran bahwa peningkatan kinerja tenaga pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh.
Bagi PKMI-1 Medan, hasil penelitian dapat menjadi dasar untuk memperkuat pola kepemimpinan, meningkatkan kualitas komunikasi internal, menyediakan pelatihan yang lebih memadai, memperbaiki lingkungan kerja, serta membangun budaya disiplin yang konsisten.
Temuan tersebut juga relevan bagi lembaga pendidikan lain. Kinerja guru dan staf bukan hanya persoalan kemampuan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana organisasi membangun budaya kerja, bagaimana pemimpin memberikan arahan dan dukungan, serta seberapa kondusif lingkungan tempat mereka bekerja.
Para peneliti pada akhirnya menegaskan bahwa budaya organisasi, gaya kepemimpinan, dan lingkungan kerja secara kolektif berkontribusi terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja sebagai mekanisme penghubung.
Profil Penulis
Laura Chintya Samosir — Universitas Methodist Indonesia. Penulis pertama sekaligus corresponding author penelitian ini. Bidang kajian dalam artikel berkaitan dengan manajemen organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan.
Thomas Sumarsan Goh — Universitas Methodist Indonesia. Penulis kedua dalam penelitian mengenai faktor organisasi, kepemimpinan, lingkungan kerja, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan.
Sahat Parulian Remus Silalahi — Universitas Methodist Indonesia. Penulis ketiga dalam penelitian yang mengkaji hubungan faktor-faktor organisasi dengan kinerja karyawan.
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of Organizational Culture, Leadership Style and Work Environment on Employee Performance Through Employee Job Satisfaction at PKMI-1 Medan
Penulis: Laura Chintya Samosir, Thomas Sumarsan Goh, Sahat Parulian Remus Silalahi
Afiliasi: Universitas Methodist Indonesia
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS)
Volume: 4, Nomor 4
Tahun: 2026
Halaman: 597–610
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i4.3
URL jurnal: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar