Hasil tersebut penting karena kemampuan bahasa pada usia dini berkaitan erat dengan kemampuan anak berkomunikasi, berinteraksi secara sosial, memahami informasi, serta menyampaikan pikiran dan perasaan. Namun, pengamatan awal di PAUD Pelangi Ceria menunjukkan sejumlah anak masih mengalami kesulitan berbicara secara jelas dan runtut.
Sebagian anak hanya memberikan jawaban sangat pendek ketika guru mengajukan pertanyaan. Ada pula anak yang lebih banyak menggunakan gestur daripada menjelaskan pengalaman secara lisan. Keterbatasan kosakata dan kesulitan menyusun pengalaman menjadi cerita yang runtut juga terlihat dalam proses pembelajaran.
Kondisi tersebut semakin terlihat ketika anak diminta berbicara di depan teman-temannya. Hanya sebagian kecil yang aktif menjawab pertanyaan atau menyampaikan pendapat. Sementara itu, sebagian anak masih diam, menghindari kontak mata, atau membutuhkan bantuan guru untuk mengungkapkan pikirannya.
Bercerita Diubah Menjadi Aktivitas Interaktif
Menurut artikel yang ditulis Meiliawati, A.E, dan Mulyanti, penggunaan boneka tangan sebelumnya sudah diperkenalkan di kelas, tetapi penerapannya masih cenderung berpusat pada guru. Guru menjadi pencerita utama, sedangkan anak lebih banyak mendengarkan.
Pendekatan tersebut kemudian diperbaiki dengan menjadikan anak sebagai peserta aktif dalam kegiatan bercerita. Boneka tangan digunakan sebagai media visual untuk memperkenalkan karakter dan peristiwa dalam cerita. Anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak menjawab pertanyaan, berdialog sederhana, memainkan peran, menyampaikan pendapat, menggunakan kosakata baru, dan menceritakan kembali isi cerita menggunakan kata-kata sendiri.
Strategi tersebut membuat kegiatan bercerita menjadi lebih dari sekadar hiburan. Anak memperoleh kesempatan berulang untuk mendengarkan bahasa, memahami cerita, merespons pertanyaan, serta menggunakan bahasa secara langsung.
Meiliawati, Yon A.E, dan Mulyanti menempatkan boneka tangan bukan sekadar alat bantu mengajar, melainkan bagian dari strategi pembelajaran interaktif. Perubahan cara mengajar dari aktivitas yang dominan dilakukan guru menjadi kegiatan yang melibatkan anak secara aktif menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan kemampuan bahasa yang diamati.
Kemampuan Bahasa Naik 44 Poin Persentase
Penelitian dilakukan terhadap 16 anak kelompok B berusia 5–6 tahun di PAUD Pelangi Ceria. Peneliti menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
Pengamatan dilakukan sebelum intervensi dan selama dua siklus pembelajaran. Peneliti menilai empat aspek utama, yaitu kemampuan mendengarkan dan memperhatikan cerita, memahami isi cerita, menyampaikan jawaban atau pendapat secara lisan, serta menceritakan kembali cerita dengan bahasa sederhana.
Perkembangan kemampuan anak dinilai menggunakan kategori perkembangan anak usia dini, yaitu Belum Berkembang, Mulai Berkembang, Berkembang Sesuai Harapan, dan Berkembang Sangat Baik.
Hasilnya menunjukkan peningkatan yang konsisten:
- Pra-siklus: tingkat pencapaian 41 persen.
- Siklus I: meningkat menjadi 64 persen.
- Siklus II: meningkat lagi menjadi 85 persen.
Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 44 poin persentase dari kondisi awal hingga Siklus II. Angka tersebut juga melampaui kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan peneliti, yakni sedikitnya 75 persen anak mencapai kategori Berkembang Sesuai Harapan atau Berkembang Sangat Baik.
Pada Siklus I, anak mulai lebih mampu memperhatikan cerita, menjawab pertanyaan sederhana, dan mengungkapkan pendapat. Namun, sebagian anak masih mengalami kesulitan mempertahankan fokus, menceritakan kembali peristiwa secara berurutan, dan menggunakan kosakata yang sesuai.
Guru kemudian melakukan perbaikan pada Siklus II. Kegiatan dibuat lebih interaktif melalui penggunaan media yang lebih menarik, bimbingan yang lebih intensif, permainan bahasa, cerita bergambar, dialog, dan kesempatan lebih besar bagi anak untuk bercerita secara mandiri.
Pada akhir Siklus II, anak menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam memahami isi cerita, menjawab pertanyaan secara lisan, mengungkapkan pendapat sederhana, serta menceritakan kembali cerita dengan bahasa mereka sendiri.
Boneka Membantu Anak Lebih Aktif Berbicara
Menurut Meiliawati dan rekan-rekannya, peningkatan kemampuan bahasa tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan boneka tangan. Cara guru mengimplementasikan kegiatan juga menjadi bagian penting.
Pada Siklus I, anak mulai dilibatkan melalui pertanyaan sederhana mengenai tokoh dan isi cerita. Pada Siklus II, keterlibatan tersebut diperluas melalui dialog interaktif, permainan peran, permainan bahasa, dan kegiatan menceritakan kembali.
Boneka tangan memberikan rangsangan visual dan konkret yang membantu anak memusatkan perhatian pada tokoh serta kejadian dalam cerita. Bagi anak usia dini, media yang dapat dilihat dan dimainkan juga membuat aktivitas belajar lebih dekat dengan pengalaman bermain dan imajinasi mereka.
Temuan ini menunjukkan bahwa guru pendidikan anak usia dini dapat mengubah kegiatan bercerita menjadi ruang latihan komunikasi. Anak dapat diminta memprediksi kejadian berikutnya, menjawab pertanyaan, menirukan karakter, mengidentifikasi kosakata, menyampaikan pendapat, hingga menceritakan kembali cerita.
Pendekatan tersebut berpotensi membantu perkembangan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif sekaligus meningkatkan kepercayaan diri serta partisipasi anak di kelas.
Manfaat untuk Pendidikan Anak Usia Dini
Temuan dari PAUD Pelangi Ceria memberikan contoh praktis bagi guru yang ingin menggunakan media sederhana untuk mendorong kemampuan komunikasi anak. Boneka tangan relatif mudah diintegrasikan ke dalam kegiatan bercerita tanpa mengubah aktivitas menjadi pembelajaran yang kaku.
Namun, penulis menekankan bahwa kegiatan tidak sebaiknya berhenti pada guru yang bercerita sementara anak hanya mendengarkan. Anak perlu memperoleh ruang untuk berbicara dan menggunakan bahasa secara mandiri.
Guru juga disarankan memilih cerita sesuai usia, minat, kemampuan bahasa, dan konteks belajar anak. Cerita yang relevan dengan pengalaman anak dapat digunakan untuk memancing percakapan dan membantu anak menghubungkan isi cerita dengan kehidupan sehari-hari.
Meski hasilnya positif, penulis mengingatkan bahwa penelitian hanya melibatkan 16 anak dari satu lembaga PAUD. Karena itu, hasilnya belum dapat langsung digeneralisasikan ke semua anak atau sekolah. Penelitian lanjutan disarankan melibatkan lebih banyak peserta dan beberapa lembaga pendidikan, serta membandingkan boneka tangan dengan media seperti buku bergambar, cerita digital, atau multimedia.
Profil Penulis
Irma Nur Meiliawati — Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia. Penulis tercatat sebagai corresponding author artikel. Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik tidak dicantumkan dalam artikel yang tersedia.
Yon A.E — Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik dan bidang keahlian spesifik penulis.
Fitrah Mulyanti — Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik dan bidang keahlian spesifik penulis.
Sumber Penelitian
Artikel yang menjadi sumber berita ini berjudul “Improving Early Childhood Storytelling Skills Through Hand Puppet Storytelling Activities”, ditulis oleh Irma Nur Meiliawati, Yon A.E, dan Fitrah Mulyanti dari Universitas Panca Sakti Bekasi, Indonesia.
Artikel diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Volume 5, Nomor 3, 2026, halaman 389–404. Penelitian dilaksanakan pada semester kedua tahun akademik 2025/2026, yaitu April hingga Juni 2026.
jurnal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH).
DOI: 10.55927/jiph.v5i3.27.
URL:https://journaljiph.my.id/index.php/jiph/index
0 Komentar