Bantuan untuk Inventarisasi Kerentanan Aset Publik Berdasarkan Prinsip “Build Back Better” di Desa Simpang Kuta Buluh

Gambar Ilutrasi AI

FORMOSA NEWS - Medan - Model Tata Kelola Aset Desa: Langkah Proaktif Mitigasi Risiko Banjir Berkelanjutan. Pengabdian ini diungkapkan dalam riset Lasma Melinda Siahaan dan Elisabet Siahaan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Yasir Riady dari Universitas Terbuka Medan, serta Taufika Ophiyandri dari Universitas Andalas Padang dalam artikel pengabdian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 9 Tahun 2026 menyoroti bahwa dinilai krusial untuk mengubah pola penanggulangan bencana dari yang bersifat reaktif menjadi kesiapsiagaan proaktif berbasis data spasial.

Banjir bandang dan tanah longsor besar yang melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025 meninggalkan dampak parah bagi infrastruktur publik. Di Desa Simpang Kuta Buluh yang terletak di hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Serangan, fasilitas pendidikan terendam, akses jalan utama lumpuh tertutup air setinggi orang dewasa, dan tanggul sungai jebol. Permasalahan utama yang diidentifikasi tim peneliti adalah pola penentuan lokasi aset publik di masa lalu yang kerap mengandalkan ketersediaan lahan dan kemudahan akses semata, alih-alih merujuk pada peta risiko banjir. Akibatnya, banyak fasilitas strategis berdiri di dataran rendah dekat aliran sungai dan mengalami kerusakan berulang setiap kali musim hujan tiba, sehingga membebani anggaran desa.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim pengabdian menerapkan metode partisipatif berbasis masyarakat (Participatory Rural Appraisal / PRA) yang melibatkan aparat desa, pengelola fasilitas, dan tokoh masyarakat. Kegiatan ini dimulai dengan sosialisasi pada 20 Juli 2026, dilanjutkan dengan inventarisasi fisik aset menggunakan smartphone GPS, pemrosesan data spasial melalui perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (GIS/QGIS), serta penilaian risiko berbasis tiga parameter utama: tingkat keterpaparan (exposure), kerentanan fisik dan fungsional (vulnerability), serta dampak terhadap layanan publik (impact). Setiap parameter dinilai menggunakan skala 1 hingga 3 untuk menghasilkan total skor risiko akhir.

Berdasarkan hasil analisis, aset desa dikelompokkan ke dalam tiga kategori risiko yang jelas
:

  • Risiko Rendah (Skor 3–4): Aset terletak jauh dari saluran sungai dengan kondisi fisik yang baik dan dampak gangguan yang terbatas, memerlukan pemantauan berkala.
  • Risiko Sedang (Skor 5–6): Aset berada di zona yang cukup rentan dan memerlukan penguatan fisik serta rencana perlindungan pencegahan.
  • Risiko Tinggi (Skor 7–9): Aset memiliki tingkat keterpaparan tinggi, kondisi rentan, serta dampak besar terhadap layanan dasar publik, sehingga ditetapkan sebagai prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).
Penerapan model ini mengintegrasikan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable—sebuah pendekatan agar infrastruktur yang rusak tidak sekadar dibangun ulang di lokasi dan desain yang sama, melainkan direlokasi ke elevasi yang lebih aman atau diperkuat secara struktural. Lasma Melinda Siahaan menjelaskan bahwa pelibatan aktif aparat desa dan warga lokal menjadi kunci utama agar data aset yang dihimpun benar-benar mencerminkan kondisi lapangan serta terintegrasi secara formal ke dalam dokumen perencanaan pembangunan desa seperti RPJMDes dan RKPDes.

Manfaat dari program ini dirasakan langsung oleh masyarakat, di antaranya peningkatan kapasitas aparat desa dalam manajemen aset, tersedianya instrumen pengukuran risiko yang objektif, serta penguatan Indeks Desa Membangun (IDM) khususnya pada dimensi ketahanan lingkungan dan sosial
. Dengan adanya peta risiko dan instrumen inventarisasi ini, pemerintah desa kini memiliki landasan kebijakan operasional untuk mengamankan fasilitas vital seperti pusat kesehatan, kantor desa, dan sarana pendidikan dari ancaman bencana di masa depan.

Profil Penulis
Lasma Melinda Siahaan, S.P., M.P. — Dosen dan Peneliti di Universitas Sumatera Utara (USU) dengan keahlian di bidang manajemen sumber daya dan pemberdayaan masyarakat.
Dr. Elisabet Siahaan, S.E., M.Si. — Dosen dan Peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara (USU) dengan keahlian di bidang manajemen publik dan strategis.
Dr. Yasir Riady, S.Sos., M.I.Kom. — Dosen dan Peneliti di Universitas Terbuka Medan yang ahli dalam bidang ilmu komunikasi digital, literasi informasi, dan teknologi pembelajaran.
Dr. Taufika Ophiyandri, S.T., M.T. — Dosen dan Peneliti di Departemen Teknik Sipil, Universitas Andalas Padang yang spesifik mendalami manajemen risiko bencana dan rekonstruksi pascabencana.

Sumber Penelitian
Lasma Melinda Siahaan, Elisabet Siahaan, Yasir Riady, Taufika Ophiyandri. Assistance for Inventory of Public Asset Vulnerabilities Based on Build Back Better in Simpang Kuta Buluh Village. Asian Journal of Community Services (AJCS), Vol. 5, No. 9, Tahun 2026, halaman 687–696
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i9.73
URL : https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

Posting Komentar

0 Komentar