Analisis Kehilangan Air di Perumda Air Minum Tirta Lestari Kabupaten Tuban Menggunakan Metode Neraca Air dan Indeks Kebocoran Infrastruktur

Gambar Ilustrasi AI

Perumda Tirta Lestari Tuban Rugi Rp 1,93 Miliar Per Tahun Akibat Kebocoran Pipa Air

TUBAN, Formosa News — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Lestari Kabupaten Tuban mengalami kehilangan air mencapai 984.739 meter kubik per tahun atau setara dengan 22,8 persen dari total air yang didistribusikan ke masyarakat. Temuan ilmiah ini diungkapkan oleh Syahfa Adinda Relyando dan Ali Masduqi dari Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam studi yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) volume 5 nomor 4 tahun 2026. Hasil riset ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah dan pengelola fasilitas publik karena tingginya tingkat kebocoran jaringan pipa tidak hanya memicu pemborosan sumber daya air, tetapi juga merugikan keuangan daerah hingga miliaran rupiah setiap tahunnya.

Pengelolaan Non-Revenue Water (NRW) atau air tak berpendapatan hingga kini menjadi tantangan besar bagi berbagai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia. Secara nasional, batas maksimal kehilangan air yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 27/PRT/M/2016 adalah sebesar 20 persen. Namun, rata-rata tingkat kehilangan air di tingkat nasional masih berada di angka 33,90 persen dengan perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 9,75 triliun per tahun. Kehilangan air yang melampaui batas toleransi ini berdampak langsung pada penurunan tekanan air ke rumah warga, risiko masuknya kontaminan ke dalam pipa distribusi, serta penyempitan ruang fiskal perusahaan untuk berinvestasi memperluas jangkauan layanan.

Guna mengukur tingkat kebocoran dan kinerja jaringan distribusi air minum di Kabupaten Tuban secara menyeluruh, peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggunakan kombinasi metode Water Balance (Neraca Air) standar International Water Association (IWA) dan indikator Infrastructure Leakage Index (ILI). Peneliti mengumpulkan data primer melalui observasi lapangan, pengukuran tekanan pipa, dan pemeriksaan meteran pelanggan, serta mengolah data sekunder berupa volume produksi, data penjualan air, dan panjang jaringan pipa Perumda Tirta Lestari selama periode Januari hingga Juli 2025.

Penelitian yang dilakukan oleh akademisi ITS ini menghasilkan beberapa temuan utama terkait kondisi distribusi air di Kabupaten Tuban:

  • Tingginya Dominasi Kebocoran Fisik: Dari total kehilangan air sebesar 984.739 meter kubik per tahun, sebanyak 78,6 persen (774.145 meter kubik per tahun) merupakan kehilangan fisik yang disebabkan oleh kebocoran pipa transmisi, distribusi, dan sambungan rumah.
  • Kerugian Komersial yang Signifikan: Kehilangan non-fisik (komersial) mencapai 179.259 meter kubik per tahun, yang dipicu oleh ketidakakuratan meteran pelanggan (80.744 meter kubik), potensi pencurian atau sambungan ilegal (6.205 meter kubik), serta kesalahan penanganan data administratif.
  • Kinerja Efisiensi Jaringan Masuk Kategori Sangat Buruk: Nilai Infrastructure Leakage Index (ILI) Perumda Tirta Lestari tercatat sebesar 13,18, yang menempatkan perusahaan air minum ini dalam Kategori D (kategori terburuk untuk negara berkembang) karena tingkat kebocoran fisik melampaui 200 liter per sambungan per hari.
  • Dampak Kerugian Finansial: Total kerugian finansial yang ditanggung perusahaan mencapai Rp 1,93 miliar per tahun, yang terdiri dari potensi kehilangan pendapatan sebesar Rp 935,23 juta akibat masalah komersial dan pemborosan biaya produksi pipa bocor sebesar Rp 997,96 juta.
  • Sistem Penanganan Masih Reaktif: Penanganan kebocoran selama ini masih bersifat reaktif (hanya diperbaiki setelah ada aduan) serta belum menerapkan pembagian zona meter terisolasi atau District Metered Area (DMA).

Implikasi dari temuan ini memberikan panduan strategis bagi Pemkab Tuban, manajemen PDAM, serta pembuat kebijakan infrastruktur publik. Penerapan strategi pengawasan aktif, seperti pembentukan zona DMA, pengaturan tekanan air pipa (pressure management), serta peremajaan pipa tua, terbukti dapat menurunkan tingkat kebocoran ke Kategori B atau A. Langkah perbaikan ini tidak hanya akan menyelamatkan anggaran daerah hingga miliaran rupiah, tetapi juga menjamin ketersediaan pasokan air bersih yang stabil dan aman bagi seluruh masyarakat Kabupaten Tuban.

"Tingginya nilai Infrastructure Leakage Index yang mencapai angka 13,18 mengindikasikan bahwa pengelolaan kebocoran di Perumda Air Minum Tirta Lestari Tuban masih memerlukan tindakan pembenahan yang mendasar dan menyeluruh," jelas Syahfa Adinda Relyando dan Ali Masduqi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam risetnya. "Penerapan District Metered Area (DMA) dan manajemen tekanan menjadi prioritas mendesak untuk menekan kerugian finansial serta meningkatkan efisiensi operasional secara berkelanjutan."

Profil Penulis

  1. Syahfa Adinda Relyando, S.T. Afiliasi: Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Indonesia, Bidang Keahlian: Teknik Lingkungan, Manajemen Penyediaan Air Minum, dan Pengendalian Kebocoran Air (Non-Revenue Water)
  2. Prof. Dr. Ir. Ali Masduqi, S.T., M.T. Afiliasi: Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Indonesia, Bidang Keahlian: Rekayasa Pengolahan Air Minum, Manajemen Sistem Distribusi Air, dan Infrastruktur Lingkungan

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar