Analisis Gaya Bahasa Lagu Punk Mandarin "Linzhong Nuedai" Ungkap Kritik Sosial dan Sejarah

Ilustrasi by AI

Peneliti Niza Ayuningtias dan Lawrence Sihotang dari Universitas Sumatera Utara mengkaji penggunaan bahasa figuratif sebagai strategi retoris untuk membangun kritik sosial dalam lagu punk Mandarin berjudul "Linzhong Nuedai" oleh band SMZB. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini sangat penting karena memperluas kajian stilistika bahasa Mandarin melampaui musik pop komersial, serta membuktikan bahwa lirik musik dapat menjadi instrumen perlawanan politik dan kritik ideologis yang kuat.

Latar Belakang dan Konteks Masalah

Selama ini, studi stilistika pada lirik lagu Mandarin cenderung berfokus pada genre pop populer dan sebatas mengklasifikasikan perangkat retorika tanpa menggali makna sosiopolitiknya. Sebaliknya, genre musik punk seperti yang dibawakan oleh band SMZB asal Wuhan secara konsisten mengangkat isu kekuasaan politik, trauma sejarah, dan ketimpangan sosial melalui ekspresi simbolik yang tajam.

Metodologi Penelitian

Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis lirik resmi lagu menggunakan kerangka kerja stilistika kontekstual serta teori perangkat retorika Tiongkok dari Huang dan Liao. Data dikumpulkan melalui metode dokumentasi, kemudian dianalisis melalui proses identifikasi, klasifikasi bentuk retorika, dan interpretasi konteks sosio-historisnya.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis menunjukkan bahwa berbagai perangkat gaya bahasa beroperasi secara kolektif sebagai sistem terpadu untuk menyampaikan pesan kritis. Temuan utamanya mencakup:

  • Penggunaan hiperbola dan ironi, seperti pada frasa "bahkan kematian pun diklasifikasikan ke dalam tingkat yang berbeda", untuk menggambarkan absurditas kontrol ideologis yang ekstrem.
  • Inversi simbolik melalui citra "Matahari Merah" yang dipadukan dengan jutaan mayat guna merefleksikan tragedi sejarah nyata seperti Revolusi Kebudayaan dan Kelaparan Besar Tiongkok.
  • Pemanfaatan personifikasi dan paradoks yang mengkritik dominasi ideologis serta kecenderungan menyalahkan alam atau pihak luar atas kegagalan kebijakan politik.

Implikasi dan Dampak Penelitian

Menurut Niza Ayuningtias dan Lawrence Sihotang dari Universitas Sumatera Utara, bahasa figuratif dalam musik punk tidak hanya berfungsi sebagai keindahan estetika, melainkan sebagai strategi retoris penting untuk mempertahankan memori kolektif masyarakat. Dalam bidang pendidikan, temuan ini dapat dimanfaatkan oleh para pendidik sebagai bahan ajar alternatif untuk mengajarkan stilistika bahasa, interpretasi sastra, dan analisis wacana kritis berbasis konteks sosiokultural.

Profil Penulis

  • Niza Ayuningtias – Peneliti dan akademisi di Universitas Sumatera Utara dengan keahlian di bidang stilistika dan linguistik.
  • Lawrence Sihotang – Peneliti dan akademisi di Universitas Sumatera Utara.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Constructing Social Criticism through Figurative Language in the Mandarin Punk Song Linzhong Nuedai: A Stylistic Analysis
  • Nama Jurnal: Journal of Language Development and Linguistics (JLDL), Vol. 5 No. 1
  • Tahun Publikasi: 2026
  • DOI: https://doi.org/10.55927/jldl.v5i1.16883

Posting Komentar

0 Komentar