Anak Tanpa ASI Eksklusif Berisiko Stunting 8,6 Kali Lebih Tinggi, Menurut Studi Peneliti UKI

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Anak usia 2 hingga 4 tahun yang tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif pada enam bulan pertama kehidupannya memiliki risiko mengalami tengkes atau stunting hingga 8,6 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang menerima ASI eksklusif. Temuan penting ini diungkapkan dalam penelitian yang dipimpin oleh Ida Bagus Eka Utama Wija bersama tim peneliti dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) pada tahun 2026. Penelitian yang dilakukan di Posyandu Warakas RW 010 Jakarta Utara pada pertengahan tahun 2022 ini menegaskan betapa krusialnya pemberian ASI eksklusif sebagai tindakan pencegahan dini terhadap gangguan pertumbuhan fisik dan kognitif anak.

Latar belakang penelitian ini berakar dari tingginya beban masalah stunting pada anak balita di Indonesia. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini dinilai sangat merugikan karena tidak hanya memengaruhi tinggi badan anak, tetapi juga perkembangan otak, kekebalan tubuh, dan produktivitas masa depan. Meskipun ASI dikenal kaya akan zat gizi serta antibodi yang melindungi pencernaan bayi, efektivitas riwayat ASI eksklusif terhadap kejadian stunting di tingkat komunitas lokal perlu terus dibuktikan secara ilmiah guna memperkuat program kesehatan masyarakat di tingkat dasar.

Untuk menguji hubungan tersebut, tim peneliti menerapkan metodologi studi observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 70 pasangan ibu dan anak berusia 2–4 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling di Posyandu Warakas RW 010. Pengumpulan data primer dilakukan pada 18 Juli 2022 dengan mengukur berat dan tinggi badan anak secara langsung, lalu diolah menggunakan perangkat lunak WHO Anthro untuk mengukur indeks tinggi badan menurut umur berdasarkan standar Z-score WHO. Informasi mengenai riwayat ASI eksklusif—yaitu pemberian hanya ASI tanpa makanan atau minuman tambahan selama enam bulan pertama—serta karakteristik ibu dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara statistik menggunakan uji Fisher’s exact dan Odds Ratio (OR).

Hasil penelitian menunjukkan angka yang sangat signifikan. Dari total 70 anak yang diteliti, sebanyak 12 anak (17,1%) teridentifikasi mengalami stunting, sementara 58 anak (82,9%) memiliki pertumbuhan tinggi badan yang normal. Ketika dilihat dari riwayat pemberian ASI, sebanyak 46 anak (65,7%) pernah mendapatkan ASI eksklusif dan 24 anak (34,3%) tidak mendapatkan ASI eksklusif.

Temuan utama penelitian mencakup:

  • Pada kelompok anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, persentase kejadian stunting mencapai 37,5% (9 dari 24 anak).
  • Pada kelompok anak yang mendapatkan ASI eksklusif, angka kejadian stunting jauh lebih rendah, yaitu hanya 6,5% (3 dari 46 anak).
  • Uji statistik Fisher’s exact menghasilkan nilai p sebesar 0,002 (p < 0,05), yang membuktikan adanya hubungan yang sangat signifikan secara statistik antara riwayat ASI eksklusif dan kejadian stunting.
  • Nilai Odds Ratio (OR) tercatat sebesar 8,6, yang berarti anak tanpa riwayat ASI eksklusif berpeluang 8,6 kali lebih besar untuk mengalami stunting dibanding anak yang ASI eksklusif.

Implikasi dan dampak dari hasil penelitian ini sangat besar bagi kebijakan kesehatan masyarakat dan layanan kesehatan tingkat dasar seperti Posyandu. Penelitian ini membuktikan bahwa edukasi dan pendampingan ASI eksklusif tidak boleh berhenti pada tataran teori, melainkan harus didukung secara praktis di lingkungan keluarga dan masyarakat. Meskipun mayoritas ibu dalam studi ini memiliki pengetahuan gizi yang baik (78,6%), pemberian ASI eksklusif masih menghadapi tantangan nyata di lapangan. Oleh karena itu, penguatan peran kader Posyandu dalam memberikan konseling menyusui sejak masa kehamilan serta pemantauan gizi berkesinambungan setelah usia enam bulan—melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang—menjadi kunci utama untuk memutus rantai stunting di Indonesia.

Dalam keterangannya, para peneliti menekankan pentingnya perlindungan gizi awal bagi tumbuh kembang anak. “ASI eksklusif menyediakan nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis bayi serta memberikan perlindungan imunologis di masa kritis pertumbuhan. Kurangnya riwayat ASI eksklusif meningkatkan risiko infeksi dan kekurangan gizi yang berujung pada gagal tumbuh,” jelas tim peneliti dari Universitas Kristen Indonesia.

Profil Peneliti

  • Ida Bagus Eka Utama Wija: Dosen dan peneliti di Universitas Kristen Indonesia (UKI) dengan keahlian di bidang ilmu kesehatan anak dan gizi masyarakat.
  • Nia Reviani: Peneliti dan akademisi dari Universitas Kristen Indonesia.
  • Ribka Sebrina: Peneliti dari Universitas Kristen Indonesia.
  • Chatrine Angelica: Peneliti dari Universitas Kristen Indonesia.
  • Sena Pongtuluran: Peneliti dan akademisi dari Universitas Kristen Indonesia.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar