Studi STAI Al-Falah Ungkap Tiga Kunci Bacaan Al-Qur’an Mujawwad yang Indah dan Tepat

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandung - Membaca Al-Qur’an dengan gaya mujawwad tidak cukup hanya mengandalkan suara yang merdu. Studi Nurulhusna Muhajir dan Nanang Naisabur dari Program Pascasarjana STAI Al-Falah Cicalengka, Indonesia, menunjukkan bahwa kualitas bacaan mujawwad sangat bergantung pada keterpaduan mad far’i, gunnah, dan tempo bacaan. Ketiganya berperan menjaga ketepatan tajwid sekaligus membentuk keindahan, irama, dan kelancaran lantunan Al-Qur’an. Artikel tersebut diterima jurnal pada 20 Agustus 2026.

Gaya mujawwad merupakan salah satu bentuk pembacaan Al-Qur’an yang menonjolkan keindahan suara dan penggunaan melodi atau nagham, tetapi tetap harus mengikuti kaidah tajwid. Gaya ini kerap digunakan dalam acara formal maupun perlombaan membaca Al-Qur’an. Menurut Muhajir dan Naisabur, keindahan lantunan tidak boleh mengalahkan ketepatan pengucapan dan aturan bacaan.

Persoalannya, masih terdapat pembaca Al-Qur’an yang belum memahami secara mendalam jenis-jenis mad far’i, karakter gunnah, maupun pilihan tempo yang sesuai. Kondisi tersebut dapat membuat bacaan kurang optimal, baik dari sisi ketepatan tajwid maupun kualitas estetikanya.

Penelitian Berbasis Literatur Tajwid

Muhajir dan Naisabur menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Mereka mengumpulkan, membaca, dan mengkaji berbagai literatur yang berkaitan dengan mad far’i, gunnah, dan tempo bacaan dalam mujawwad.

Sumber utama yang digunakan antara lain kitab klasik seperti An-Nasyr fi al-Qira'at al-'Asyr karya Ibnu Al-Jazari dan Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an karya Al-Suyuthi. Peneliti juga menggunakan buku tajwid modern, jurnal ilmiah, serta literatur pendidikan Islam yang relevan. Data kemudian dipilih berdasarkan relevansinya, disusun secara sistematis, lalu ditarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis.

Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak menguji kemampuan pembaca secara langsung. Fokusnya adalah menguraikan konsep dan penerapan tiga unsur utama yang membentuk karakter bacaan mujawwad berdasarkan sumber-sumber tajwid dan literatur terkait.

Mad Far’i Mengatur Panjang Pendek Bacaan

Temuan pertama berkaitan dengan mad far’i, yaitu bacaan panjang yang merupakan pengembangan dari mad asli karena adanya sebab tertentu, seperti hamzah atau sukun. Dalam kajian tersebut, peneliti menguraikan sejumlah bentuk mad far’i, antara lain Mad Wajib Muttasil, Mad Jaiz Munfasil, Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi, Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi, Mad Layyin, Mad ‘Arid Lissukun, Mad Shilah, hingga Mad Badal, Mad Tamkin, dan Mad Farqi.

Dalam bacaan mujawwad, panjang pendek tersebut bukan sekadar aturan teknis. Durasi bacaan memberikan ruang bagi pembaca untuk mengembangkan nada dan melodi secara bertahap. Peneliti mencontohkan Mad Wajib Muttashil yang dalam pembahasan mereka dibaca sekitar 4–5 harakat, sedangkan Mad Lazim mencapai 6 harakat. Kesalahan memperpendek atau memperpanjang bacaan di luar ketentuan dapat mengganggu keseimbangan ritme dan kualitas lantunan.

Gunnah Memberikan Karakter Suara

Unsur kedua adalah gunnah, yakni suara berdengung yang keluar melalui rongga hidung atau khaisyum. Dalam pembahasan penelitian, gunnah memiliki ukuran dua harakat pada kondisi tertentu dan muncul, antara lain, pada nun atau mim bertasydid serta sejumlah hukum tajwid seperti ikhfa’, idgham bighunnah, dan iqlab.

Peneliti membedakan gunnah ashliyah dan gunnah ‘aridliyah. Gunnah ashliyah merupakan sifat dasar huruf nun dan mim, sedangkan gunnah ‘aridliyah muncul karena kondisi atau hukum tajwid tertentu. Pada gunnah ‘aridliyah, dengungan digambarkan lebih jelas dan memiliki durasi sekitar dua harakat.

Dalam praktik mujawwad, kestabilan gunnah menjadi penting. Dengungan yang terlalu pendek dapat menghilangkan karakter bacaan, sementara dengungan yang terlalu panjang berpotensi mengganggu ritme. Karena itu, penguasaan suara, durasi dengungan, dan kesinambungan nada perlu dijaga secara seimbang.

Empat Pilihan Tempo Bacaan

Unsur ketiga adalah tempo. Penelitian ini membagi tempo membaca Al-Qur’an menjadi empat tingkatan, yakni tahqiq, tartil, tadwir, dan hadr.

Tahqiq merupakan pembacaan yang sangat perlahan dan tenang dengan perhatian penuh pada makhraj, sifat huruf, dan hukum bacaan. Tartil dilakukan secara perlahan dan teratur sambil memperhatikan makna serta kaidah tajwid. Tadwir berada di antara tahqiq dan hadr, sedangkan hadr merupakan pembacaan cepat dengan tetap mempertahankan ketepatan tajwid.

Dalam konteks mujawwad, tempo yang seimbang membantu pembaca mengatur napas, menjaga kestabilan suara, memperjelas pengucapan huruf, sekaligus memberikan ruang untuk menampilkan variasi maqamat. Tempo yang baik bukan berarti harus sangat lambat, melainkan harus stabil dan mampu mempertahankan kesinambungan ritme.

Tiga Unsur Harus Dilatih Bersamaan

Muhajir dan Naisabur menekankan bahwa mad far’i, gunnah, dan tempo tidak seharusnya dipelajari sebagai unsur yang berdiri sendiri. Mad far’i mengatur dimensi panjang nada, gunnah memberikan warna dan karakter suara, sedangkan tempo menjaga aliran serta ritme bacaan.

Ketiganya harus berpadu agar bacaan memenuhi dua aspek sekaligus: akurat menurut tajwid dan indah secara musikal. Jika salah satu unsur diabaikan—misalnya panjang mad keliru, gunnah tidak stabil, atau tempo berubah-ubah—kualitas bacaan mujawwad dapat menurun meskipun aturan tajwid lainnya sudah diterapkan.

Temuan ini juga memiliki implikasi bagi pembelajaran Al-Qur’an. Peneliti merekomendasikan agar latihan tidak hanya dilakukan dengan mempelajari setiap unsur secara terpisah, tetapi melalui pembacaan ayat secara utuh di bawah bimbingan guru. Dengan cara tersebut, pembelajar dapat sekaligus melatih panjang bacaan, dengungan, pengaturan napas, dan kesinambungan ritme.

Penelitian ini juga membuka peluang penggunaan teknologi analisis suara digital untuk penelitian berikutnya. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengukur ketepatan harakat, kestabilan gunnah, dan konsistensi tempo secara lebih objektif sehingga evaluasi pembelajaran tajwid dapat menjadi lebih terukur.

Profil Penulis

Nurulhusna Muhajir — Penulis pertama dan penulis korespondensi. Afiliasi: Program Pascasarjana, STAI Al-Falah Cicalengka, Indonesia. Bidang kajian yang tercermin dalam artikel ini meliputi ilmu tajwid, pembelajaran dan kualitas bacaan Al-Qur’an, khususnya penerapan mad far’i, gunnah, dan tempo dalam bacaan mujawwad.

Nanang Naisabur — Penulis kedua, berafiliasi dengan Program Pascasarjana, STAI Al-Falah Cicalengka, Indonesia. Artikel ini menempatkan kajiannya pada bidang tajwid dan seni pembacaan Al-Qur’an, terutama hubungan mad far’i, gunnah, dan tempo dalam mujawwad.

Catatan: artikel jurnal tidak mencantumkan gelar akademik maupun jabatan/fungsi profesional kedua penulis secara spesifik, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menghindari klaim yang tidak didukung sumber.

Sumber Penelitian

Judul: Mad Far’i, Gunnah, and Recitation Pace in the Mujawwad Qur’an
Penulis: Nurulhusna Muhajir dan Nanang Naisabur
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 2865–2874
DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i8.168

Posting Komentar

0 Komentar