Pertumbuhan Ekonomi NTB Berpotensi Menekan Pengangguran, tetapi Penyerapan Kerja Masih Jadi Tantangan


Gambar dibuat oleh AI


MATARAM, Formosa News — Pertumbuhan ekonomi di sejumlah kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB) berkaitan erat dengan tingkat pengangguran, tetapi peningkatan aktivitas ekonomi belum selalu diikuti penyerapan tenaga kerja yang optimal. Temuan ini terungkap dalam artikel karya Sahruddin, Heru Subiyantoro, dan Yolanda dari Universitas Borobudur Indonesia, dengan Sahruddin juga tercatat berafiliasi dengan Universitas Indraprasta PGRI. Artikel tersebut diterbitkan pada 2026 dan menganalisis hubungan partisipasi angkatan kerja, pembiayaan UMKM, pendidikan, serta investasi domestik terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terbuka di NTB.

Hasil analisis menunjukkan bahwa keempat faktor tersebut secara bersama-sama menjelaskan sekitar 61,25 persen variasi pertumbuhan ekonomi di wilayah yang diteliti. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan tingkat pengangguran terbuka. Artinya, ketika pertumbuhan ekonomi meningkat, tingkat pengangguran cenderung menurun.

Namun, penulis juga menemukan indikasi jobless growth, yaitu kondisi ketika perekonomian tumbuh tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Temuan ini membuat kualitas dan pemerataan pertumbuhan menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi NTB.

Pertumbuhan Ekonomi NTB Belum Merata

NTB memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama melalui sektor pertanian, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, perkembangan ekonomi antardaerah masih menunjukkan perbedaan.

Data yang disajikan dalam artikel memperlihatkan bahwa selama periode pengamatan, rata-rata pertumbuhan ekonomi kabupaten di NTB mencapai 3,02 persen, sedangkan rata-rata tingkat pengangguran terbuka berada di angka 3,22 persen. Rata-rata pertumbuhan UMKM tercatat 1,10 persen, indeks pendidikan 2,25 persen, dan investasi domestik mencapai 36,69 persen.

Perbedaan antardaerah terlihat cukup jelas. Kabupaten Lombok Timur mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,81 persen, sementara Kabupaten Sumbawa Barat tercatat mengalami pertumbuhan ekonomi negatif sebesar -0,46 persen dalam data yang disajikan. Tingkat pengangguran terbuka juga berbeda, mulai dari 1,78 persen di Lombok Utara hingga 4,91 persen di Sumbawa Barat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu dilihat dari besarnya angka pertumbuhan, tetapi juga dari bagaimana manfaatnya tersebar di berbagai wilayah dan kelompok masyarakat.

Empat Faktor Ekonomi Dianalisis

Sahruddin, Heru Subiyantoro, dan Yolanda menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data dari delapan kabupaten di NTB selama periode 2015–2024.

Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB dan portal NTB Satu Data. Seluruh delapan kabupaten digunakan sebagai unit pengamatan sehingga penelitian tidak mengambil sebagian wilayah sebagai sampel. Analisis dilakukan menggunakan regresi data panel dengan model fixed effects dan pengolahan data menggunakan EViews 13.

Empat faktor yang dianalisis adalah:

  • Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
  • Pembiayaan atau kredit UMKM
  • Indeks Pendidikan
  • Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) atau investasi domestik

Keempat faktor tersebut kemudian dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi dianalisis hubungannya dengan tingkat pengangguran terbuka.

Pendidikan, UMKM, Tenaga Kerja, dan Investasi Berperan

Hasil regresi menunjukkan bahwa TPAK, pembiayaan UMKM, indeks pendidikan, dan investasi domestik secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Model penelitian menghasilkan nilai R-squared sebesar 0,612468, yang kemudian dijelaskan penulis sebagai sekitar 61,25 persen variasi pertumbuhan ekonomi yang dapat diterangkan oleh variabel-variabel dalam model. Sementara sekitar 38,75 persen lainnya berkaitan dengan faktor di luar model.

Faktor di luar model tersebut antara lain kondisi infrastruktur, inflasi dan stabilitas harga, investasi asing, kualitas kelembagaan dan tata kelola, teknologi dan inovasi, serta sektor unggulan seperti pariwisata, pertanian, dan industri.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berhubungan. Peningkatan jumlah orang yang masuk ke pasar kerja perlu diimbangi dengan kualitas tenaga kerja dan tersedianya kesempatan kerja.

Hal serupa berlaku untuk UMKM. Akses pembiayaan dapat membantu usaha berkembang, meningkatkan aktivitas ekonomi, dan menciptakan kesempatan kerja. Pendidikan juga menjadi faktor penting karena peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat mendukung produktivitas dan kemampuan masyarakat mengikuti perubahan ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi Berkaitan dengan Penurunan Pengangguran

Bagian lain dari penelitian memperlihatkan hubungan yang cukup kuat antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran terbuka.

Hasil regresi menunjukkan nilai probabilitas 0,0304, lebih kecil dari 0,05. Koefisien pertumbuhan ekonomi tercatat -61,71235, yang menunjukkan hubungan negatif dan signifikan dengan tingkat pengangguran terbuka dalam model penelitian.

Penulis menjelaskan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi cenderung diikuti penurunan pengangguran. Dalam interpretasi koefisien yang disampaikan artikel, peningkatan 1 persen pertumbuhan ekonomi dikaitkan dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka sebesar 2,216 persen, dengan faktor lain dianggap tetap.

Model tersebut memiliki nilai R-squared 0,566806, yang berarti sekitar 56,68 persen variasi tingkat pengangguran terbuka dapat dijelaskan oleh pertumbuhan ekonomi dalam model, sedangkan 43,32 persen lainnya berkaitan dengan faktor di luar model.

Tantangan Berikutnya: Menciptakan Pertumbuhan yang Lebih Inklusif

Bagi NTB, hasil ini menunjukkan bahwa meningkatkan pertumbuhan ekonomi saja belum cukup. Struktur ekonomi juga menentukan seberapa besar pertumbuhan mampu menciptakan pekerjaan.

Penulis mengaitkan kondisi tersebut dengan fenomena jobless growth, ketika pertumbuhan ekonomi tidak sepenuhnya diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Kondisi ini dapat terjadi ketika pertumbuhan lebih banyak ditopang sektor yang membutuhkan modal besar dibandingkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Karena itu, kebijakan pembangunan perlu memperhatikan kualitas pertumbuhan sekaligus kemampuan sektor produktif dalam menyerap tenaga kerja secara luas.

Menurut Sahruddin, Heru Subiyantoro, dan Yolanda dari Universitas Borobudur, pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dapat didukung melalui peningkatan kualitas tenaga kerja, penguatan UMKM, pemerataan pendidikan, serta distribusi investasi yang lebih merata. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Implikasi bagi Pembangunan NTB

Temuan tersebut memberikan beberapa arah penting bagi pembangunan daerah.

Pertama, kualitas tenaga kerja perlu menjadi perhatian. Tingginya partisipasi angkatan kerja akan lebih bermanfaat apabila tersedia pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasar.

Kedua, UMKM perlu terus diperkuat. Akses pembiayaan, teknologi, dan kemampuan pengelolaan usaha dapat membantu UMKM meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja.

Ketiga, pemerataan pendidikan menjadi bagian dari strategi ekonomi. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga dengan produktivitas dan daya saing tenaga kerja.

Keempat, investasi perlu diarahkan secara lebih merata. Investasi yang tersebar di berbagai wilayah dan mampu menciptakan lapangan kerja berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan ekonomi NTB tidak hanya diukur berdasarkan peningkatan output daerah, tetapi juga berdasarkan kemampuan ekonomi menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Profil Penulis

Sahruddin, Heru Subiyantoro, dan Yolanda merupakan penulis artikel dari Universitas Borobudur Indonesia. Sahruddin juga tercatat memiliki afiliasi dengan Universitas Indraprasta PGRI, Indonesia. Artikel ini membahas isu pertumbuhan ekonomi regional, ketenagakerjaan, UMKM, pendidikan, investasi domestik, dan pengangguran terbuka.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of Factors That Influence Economic Growth and Its Impact on the Open Unemployment Rate. Districts in West Nusa Tenggara Province (NTB)
Penulis: Sahruddin, Heru Subiyantoro, Yolanda
Afiliasi: Universitas Borobudur Indonesia; Sahruddin juga berafiliasi dengan Universitas Indraprasta PGRI
Jurnal: International Journal of Finance and Business Management (IJFBM)
Tahun Publikasi: 2026
Volume: 4, No. 3
DOI: https://doi.org/10.59890/ijfbm.v4i3.6
Website Jurnal: https://journalijfbm.my.id/index.php/ijfbm/index

Posting Komentar

0 Komentar