Perilaku Keuangan Gen Z: Faktor Pendorong Keputusan Investasi Generasi Muda di Indonesia

Illustrasi by AI

Studi terbaru mengenai perilaku finansial generasi muda mengungkapkan bahwa Socially Responsible Investing (SRI) atau kesadaran investasi yang bertanggung jawab secara sosial menjadi pendorong utama bagi investor pemula dari kalangan Generasi Z dalam mengambil keputusan investasi. Penelitian ini dilakukan oleh Candys Fransiosca dan Ika Pratiwi Simbolon dari Universitas Bunda Mulia pada tahun 2026, guna memahami pola pikir dan pola perilaku ekonomi digital di kalangan anak muda. Hasil riset ini sangat krusial di tengah pesatnya perkembangan pasar modal digital di Indonesia agar para pemangku kepentingan dapat memahami pergeseran preferensi finansial generasi masa kini.

Sebelumnya, banyak pihak mengira bahwa tren investasi anak muda hanya didorong oleh rasa takut ketinggalan jaman atau FOMO (Fear of Missing Out) semata. Namun, dinamika pasar saat ini menunjukkan bahwa Gen Z mulai mempertimbangkan aspek nilai sosial, dampak lingkungan, serta rasionalitas dalam mengelola aset keuangan mereka.

Untuk mengupas fenomena ini secara mendalam, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei cross-sectional dan menganalisis data menggunakan teknik pemodelan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Sampel penelitian melibatkan sebanyak 321 investor dari kalangan Generasi Z yang sudah berpengalaman di wilayah Tangerang Selatan.

Berdasarkan analisis data statistik tersebut, ditemukan beberapa temuan utama terkait faktor-faktor psikologis dan perilaku yang memengaruhi keputusan investasi Gen Z:

  • Kesadaran SRI (SRI Awareness): Menempati peringkat teratas sebagai pendorong paling dominan dengan nilai koefisien $\beta = 0.371$.
  • Efek Disposisi (Disposition Effect): Menjadi faktor penting berikutnya yang memengaruhi pola jual-beli aset oleh investor muda.
  • Rasa Percaya Diri Berlebih (Overconfidence) dan Perilaku Mengikuti Tren (Herding Behavior): Turut membentuk pola keputusan finansial yang diambil oleh responden.
  • Dampak Negatif FOMO: Secara mengejutkan, rasa takut ketinggalan atau FOMO justru memberikan dampak negatif terhadap intensitas investasi dengan nilai $\beta = -0.109$.

Temuan ini memberikan implikasi luas bagi dunia usaha, industri keuangan, serta para pengambil kebijakan publik dalam merancang literasi keuangan yang tepat sasaran. Menurut Candys Fransiosca dan Ika Pratiwi Simbolon dari Universitas Bunda Mulia, pemahaman mendalam tentang bias perilaku ini dapat membantu lembaga keuangan dalam menciptakan instrumen investasi yang selaras dengan nilai etika dan keberlanjutan yang dicari oleh investor muda.

Profil Penulis

  • Candys Fransiosca – Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Bunda Mulia.
  • Ika Pratiwi Simbolon, S.E., M.M. – Dosen dan peneliti di Program Studi Manajemen, Universitas Bunda Mulia.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar