Peran Sektor Pertanian dalam Struktur Ekonomi Nusa Tenggara Barat dan Tantangan Hilirisasi

Ilustrasi by AI

Tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram yang terdiri dari Intan Azura, Baiq Saripta W, dan Muhammad Dzul Fadlli mengkaji struktur ekonomi, nilai pengganda, serta keterkaitan antar-sektor pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2026. Penelitian ini menjadi sangat penting di tengah tantangan pembangunan daerah, karena memberikan evaluasi mendalam mengenai sejauh mana sektor pertanian mampu menggerakkan roda perekonomian secara optimal di tengah fluktuasi pertumbuhan regional.

Secara historis, struktur ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat sangat didominasi oleh sektor pertanian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di wilayah ini meningkat dari Rp18,92 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp22,99 triliun pada tahun 2024. Meskipun demikian, laju pertumbuhan sektor ini cenderung berfluktuasi dan sempat mengalami kontraksi sebesar -0,41 persen pada tahun 2020. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kontribusi besar dari sektor pertanian belum otomatisdiikuti oleh kuatnya integrasi lintas sektor untuk menciptakan dampak ekonomi yang merata.

Untuk membedah dinamika tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis Input-Output (I-O) berdasarkan tabel input-output Provinsi NTB tahun 2016 yang mencakup 17 klasifikasi sektor. Melalui model matriks Leontief, analisis ini mengukur distribusi output, input antara, permintaan akhir, nilai tambah bruto, serta kekuatan keterkaitan antar-sektor dalam sistem produksi regional.

Berdasarkan hasil analisis yang diterbitkan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences pada Juli 2026, ditemukan beberapa poin penting sebagai berikut:

  • Sebagian besar output sektor pertanian terserap untuk memenuhi permintaan akhir seperti konsumsi rumah tangga dan ekspor antar-wilayah, sementara pemanfaatannya sebagai input antara oleh industri lain masih tergolong terbatas.
  • Nilai pengganda output (output multiplier) sektor pertanian tercatat sebesar 1,175910, yang berarti setiap kenaikan satu satuan permintaan akhir pada sektor pertanian akan mendongkrak total output ekonomi sebesar 1,175910 unit.
  • Angka keterkaitan ke belakang (backward linkage) berada di angka 1,175910, menunjukkan tingkat ketergantungan sektor pertanian terhadap pasokan input dari sektor lain yang berada sedikit di atas rata-rata.
  • Angka keterkaitan ke depan (forward linkage) tercatat jauh lebih tinggi, yakni mencapai 2,170587, yang membuktikan bahwa peran utama sektor pertanian di NTB adalah sebagai penyedia pasokan bahan baku bagi sektor hilir seperti industri pengolahan, perdagangan, dan transportasi.

Temuan ini memberikan implikasi strategis bagi perumusan kebijakan pembangunan ekonomi regional. Menurut para peneliti dari Universitas Mataram, tingginya nilai keterkaitan ke depan mengindikasikan perlunya penguatan hilirisasi berbasis produk pertanian. Dengan mengembangkan industri pengolahan di tingkat lokal, pemerintah daerah dan pelaku usaha dapat meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas kesempatan kerja, serta memaksimalkan efek pengganda bagi kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Profil Penulis:

  • Intan Azura – Peneliti dan akademisi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mataram.
  • Baiq Saripta W – Peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mataram.
  • Muhammad Dzul Fadlli – Peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mataram.

Sumber Penelitian:

  • Judul Artikel: Analysis of the Structure, Multiplier and Role of the Agricultural Sector in the Economy West Nusa Tenggara
  • Nama Jurnal: Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4, No. 7, Juli 2026, halaman 715-720
  • DOI / URL Resmi: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i7.204

Posting Komentar

0 Komentar