Pengalaman Menyenangkan dan Perilaku Impulsif Menentukan Keberlanjutan Investasi Digital

Ilustrasi by AI

Bandung - Pertumbuhan investor digital di Indonesia melonjak 499 persen dalam lima tahun, dari 2,48 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2019 menjadi 14,87 juta SID pada Desember 2024. Namun, hanya sekitar 147.000 investor yang tercatat aktif melakukan transaksi setiap hari. Kesenjangan antara jumlah investor terdaftar dan investor aktif ini menjadi perhatian dalam penelitian Ghifary Alfarisy, Nurafni Rubiyanti, dan Yogi Suprayogi dari Universitas Telkom. Artikel mereka yang diterbitkan pada 2026 mengungkap bahwa pengalaman menyenangkan saat menggunakan platform investasi menjadi faktor paling kuat dalam mendorong keputusan investasi awal, sementara perilaku trading impulsif justru dapat membuat investor berhenti menggunakan platform.

Temuan tersebut dimuat dalam artikel berjudul “Strategic Determinants of Investment Sustainability on Digital Investment Platforms: Integrating the Technology Acceptance Model and Impulsive Trading Behavior with the Mediating Role of Initial Investment Decisions” di International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS) Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026. Artikel diterima pada 10 Agustus 2026 setelah melalui proses revisi, dengan penelitian menggunakan data 220 investor ritel aktif di Indonesia.

Ledakan Investor Digital Belum Diikuti Aktivitas Transaksi

Kemudahan berinvestasi melalui smartphone telah membawa jutaan masyarakat Indonesia ke pasar modal. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dikutip dalam artikel menunjukkan jumlah SID meningkat dari 2,48 juta pada 2019 menjadi 14,87 juta pada 2024. Sebagian besar investor individu juga berasal dari kelompok usia muda. Lebih dari 79 persen SID individu berusia di bawah 40 tahun dan sekitar 73 persen merupakan investor ritel individu.

Namun, pertumbuhan tersebut menyimpan persoalan. Pada Desember 2024, rata-rata investor yang benar-benar melakukan transaksi setiap hari hanya sekitar 147.000 orang, atau kurang dari satu persen dari total investor terdaftar. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pasar modal digital bukan hanya menarik pengguna baru, tetapi juga mempertahankan mereka agar terus berinvestasi.

Para peneliti melihat bahwa kemudahan teknologi saja belum cukup untuk menjelaskan keberlanjutan penggunaan platform investasi. Karena itu, penelitian menggabungkan Technology Acceptance Model (TAM), yang melihat manfaat, kemudahan, dan kesenangan dalam menggunakan teknologi, dengan Impulsive Trading Behavior, yaitu kecenderungan melakukan transaksi secara spontan dan emosional.

220 Investor dari Lima Platform Digital

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan investor ritel Indonesia yang aktif menggunakan salah satu dari lima platform, yaitu Bibit, Ajaib, Stockbit, IPOT, dan Bareksa.

Responden dipilih dengan kriteria tertentu, termasuk telah melakukan lebih dari satu transaksi atau aktif dalam tiga bulan terakhir. Nilai transaksi minimal yang dipersyaratkan adalah Rp500.000 untuk satu transaksi atau Rp1 juta secara kumulatif. Dari 258 kuesioner yang diterima, sebanyak 38 respons dikeluarkan setelah proses pemeriksaan kualitas data. Dengan demikian, 220 responden digunakan dalam analisis akhir.
Mayoritas responden berusia 25–30 tahun, yakni 45 persen. Platform yang paling banyak digunakan dalam sampel adalah Bibit sebesar 35,5 persen, disusul Stockbit 24,5 persen dan Ajaib 18,2 persen. Sebanyak 46,4 persen responden melakukan transaksi satu hingga empat kali per bulan.

Data dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4. Analisis tersebut digunakan untuk melihat hubungan antara persepsi terhadap platform, keputusan investasi awal, perilaku trading impulsif, dan keinginan untuk terus menggunakan platform.

Rasa Menyenangkan Menjadi Faktor Terkuat

Hasil penelitian menunjukkan keenam hipotesis yang diuji diterima. Dari tiga faktor dalam TAM, Perceived Enjoyment, atau persepsi bahwa platform menyenangkan untuk digunakan, menjadi faktor paling kuat dalam mendorong keputusan investasi awal.

Pengaruh Perceived Enjoyment terhadap Purchase Decision mencapai β=0,411 dengan ukuran efek besar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Perceived Usefulness atau persepsi manfaat sebesar β=0,339 dan Perceived Ease of Use atau persepsi kemudahan penggunaan sebesar β=0,276.

Dengan kata lain, investor tidak hanya mempertimbangkan apakah sebuah aplikasi bermanfaat atau mudah digunakan. Pengalaman ketika berinteraksi dengan platform juga berperan besar dalam mendorong seseorang melakukan transaksi pertamanya.

Ghifary Alfarisy dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa kondisi tersebut relevan bagi pasar investasi digital yang digunakan secara sukarela dan didominasi investor muda. Ketika sebagian besar platform sudah menawarkan antarmuka yang relatif mudah digunakan, aspek pengalaman dan kenyamanan emosional dapat menjadi pembeda yang lebih penting.

Trading Impulsif Justru Mengurangi Keberlanjutan Investasi

Temuan lain menunjukkan sisi yang berlawanan. Impulsive Trading Behavior memiliki pengaruh negatif terhadap keberlanjutan penggunaan platform investasi dengan koefisien β=-0,300.

Perilaku impulsif dalam penelitian ini mencakup keputusan spontan, dominasi dorongan emosional dibandingkan pertimbangan rasional, serta kecenderungan mengabaikan konsekuensi. Pada aplikasi investasi, perilaku tersebut dapat dipicu oleh berbagai elemen seperti notifikasi harga secara real-time, peringkat saham, grafik volatilitas, dan tampilan informasi yang terus berubah.

Ketika keputusan spontan berulang kali menghasilkan kerugian atau kekecewaan, investor dapat membangun pengalaman emosional negatif terhadap platform. Akibatnya, keinginan untuk terus berinvestasi dapat menurun.

Penelitian juga menemukan bahwa keputusan investasi awal menjadi penghubung penting antara persepsi terhadap platform dan keberlanjutan investasi. Purchase Decision berpengaruh positif terhadap Investment Continuance dengan β=0,354. Sementara itu, model penelitian mampu menjelaskan 74 persen variasi keputusan investasi awal dan 66,3 persen variasi keberlanjutan investasi.

Implikasi bagi Platform, Investor, dan Regulator

Bagi perusahaan sekuritas dan pengembang platform investasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengalaman pengguna perlu mendapat perhatian yang sama dengan kelengkapan informasi dan biaya transaksi. Desain yang responsif, personalisasi konten, dan alur transaksi yang intuitif dapat membantu menciptakan pengalaman yang lebih baik.

Namun, desain aplikasi juga perlu mempertimbangkan potensi perilaku impulsif. Peneliti merekomendasikan evaluasi terhadap penggunaan notifikasi harga, peringkat saham, dan grafik volatilitas yang terlalu dominan. Mekanisme cooling-off sebelum transaksi besar bagi investor pemula serta notifikasi edukatif berbasis portofolio dapat menjadi alternatif.

Bagi investor ritel, penelitian ini memberikan pesan penting bahwa tidak semua informasi yang muncul secara real-time harus langsung ditindaklanjuti. Mengurangi paparan notifikasi dan menentukan jadwal khusus untuk mengevaluasi portofolio dapat membantu mengurangi dorongan transaksi spontan.

Bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), temuan tentang pengaruh desain platform terhadap perilaku investor memberikan dasar untuk mempertimbangkan aspek desain digital dalam upaya perlindungan investor ritel.

Profil Penulis

Ghifary Alfarisy merupakan penulis utama dan corresponding author dari Universitas Telkom. Nurafni Rubiyanti dan Yogi Suprayogi juga berasal dari Universitas Telkom. 
Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Data dikumpulkan secara cross-sectional, sehingga belum dapat memastikan hubungan perilaku impulsif dan keberlanjutan investasi dalam jangka panjang. Pengukuran perilaku impulsif juga masih menggunakan kuesioner, bukan data transaksi aktual. Peneliti merekomendasikan studi longitudinal selama 12–24 bulan dan penggunaan data transaksi nyata dari platform untuk penelitian berikutnya.

Sumber Penelitian

Judul: Strategic Determinants of Investment Sustainability on Digital Investment Platforms: Integrating the Technology Acceptance Model and Impulsive Trading Behavior with the Mediating Role of Initial Investment Decisions
Penulis: Ghifary Alfarisy, Nurafni Rubiyanti, Yogi Suprayogi
Afiliasi: Universitas Telkom
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS)
Volume: 4, Nomor 4, 2026, halaman 333–352
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i4.18
URL: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs

Posting Komentar

0 Komentar