Pemilihan Konjungsi yang Tepat Memperkuat Keterkaitan Ide dalam Tulisan Siswa


Gambar Dibuat oleh AI

Pemilihan kata penghubung atau konjungsi yang tepat dapat membuat hubungan antarkalimat dan antarparagraf dalam sebuah tulisan menjadi lebih jelas. Temuan ini terlihat dalam penelitian Sri Muryati, Sukarno, Muhlis Fajar Wicaksana, Dewi Kusumaningsih, dan Dilla Alvita Devi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara yang menganalisis penggunaan konjungsi dalam artikel opini siswa kelas XII SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo. Penelitian tersebut menggunakan artikel siswa tahun ajaran 2020/2021 dan dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Applied Educational Research (IJAER). Hasilnya menunjukkan bahwa pemilihan konjungsi yang sesuai berperan penting dalam memperkuat kohesi atau keterkaitan makna dalam sebuah teks.

Konjungsi sering dianggap sekadar kata penghubung. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa fungsinya lebih penting dari itu. Kata seperti oleh karena itu, selain itu, namun, agar, dan misalnya membantu pembaca memahami hubungan antara satu gagasan dengan gagasan berikutnya. Ketika kata penghubung yang digunakan tidak sesuai, alur pemikiran penulis dapat menjadi kurang jelas dan bahkan membuat hubungan antarkalimat atau antarparagraf terasa terputus.

Masalah tersebut menjadi penting dalam pembelajaran menulis di sekolah. Siswa kelas XII diharapkan mampu menyampaikan pendapat dalam bentuk artikel dengan memperhatikan struktur dan unsur kebahasaan. Kemampuan menggunakan konjungsi menjadi salah satu bagian yang mendukung agar gagasan yang disampaikan dapat dipahami pembaca secara efektif. Peneliti juga mencatat bahwa kesalahan penggunaan konjungsi masih ditemukan dalam tulisan siswa, antara lain karena kurangnya latihan menulis dan pemahaman mengenai prinsip penggunaan konjungsi.

Mengamati Tulisan Siswa Kelas XII

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Para peneliti menganalisis artikel opini yang ditulis siswa kelas XII IPA 2 dan XII IPA 4 SMA Negeri 1 Weru Sukoharjo pada tahun ajaran 2020/2021. Artikel tersebut diperoleh melalui koordinasi dengan guru Bahasa Indonesia dalam konteks ujian akhir sekolah.

Para peneliti membaca dan mencatat kata atau frasa yang berfungsi sebagai konjungsi, kemudian mengelompokkannya berdasarkan posisi dan maknanya. Konjungsi dibedakan menjadi konjungsi antarkalimat dan konjungsi antarparagraf. Selanjutnya, penggunaannya dianalisis untuk melihat bentuk, makna, ketepatan, serta hubungan gagasan yang dibangun dalam keseluruhan tulisan.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti tidak hanya melihat apakah sebuah kata termasuk konjungsi, tetapi juga apakah kata tersebut memang tepat digunakan untuk menghubungkan dua gagasan.

Lima Fungsi Utama Konjungsi Antarkalimat

Dalam artikel siswa yang dianalisis, para peneliti menemukan lima kelompok makna utama konjungsi antarkalimat.

Pertama adalah hubungan sebab-akibat. Konjungsi seperti sebab, karena, oleh karena itu, dengan demikian, jadi, maka, dan maka dari itu digunakan untuk menunjukkan hubungan antara suatu alasan dan konsekuensinya.

Kedua adalah penambahan, dengan contoh seperti demikian juga, selain itu, seperti halnya, dan di samping itu. Konjungsi tersebut digunakan ketika kalimat berikutnya menambahkan informasi yang masih berkaitan dengan gagasan sebelumnya.

Ketiga adalah pertentangan, antara lain akan tetapi dan namun. Fungsi ini menunjukkan bahwa gagasan berikutnya memiliki hubungan yang berlawanan atau berbeda dengan pernyataan sebelumnya.

Keempat adalah tujuan, seperti supaya dan agar. Kelima adalah fungsi pemberian contoh, penjelasan singkat, atau identifikasi, misalnya melalui kata misalnya dan contohnya.

Penelitian menemukan bahwa tidak semua konjungsi digunakan secara tepat. Salah satu contohnya adalah penggunaan kata jadi. Dalam salah satu artikel siswa, kata tersebut digunakan untuk menghubungkan dua pernyataan yang sebenarnya memiliki hubungan serupa, bukan hubungan kesimpulan. Peneliti menilai penggunaan sama halnya lebih sesuai dalam konteks tersebut.

Kesalahan lain ditemukan pada penggunaan tetapi untuk menghubungkan antarkalimat. Menurut analisis penelitian, tetapi lebih tepat digunakan untuk menghubungkan unsur dalam satu kalimat, sedangkan akan tetapi dapat digunakan sebagai konjungsi antarkalimat.

Antarparagraf Juga Membutuhkan Penghubung yang Tepat

Penelitian tidak berhenti pada hubungan antarkalimat. Para peneliti juga melihat bagaimana sebuah paragraf dihubungkan dengan paragraf berikutnya.

Konjungsi antarparagraf yang ditemukan mencakup hubungan sebab-akibat seperti oleh karena itu, oleh sebab itu, akibatnya, dengan demikian, jadi, dan maka dari itu. Ada pula konjungsi penambahan seperti selain itu dan kemudian, pertentangan seperti akan tetapi dan namun, serta konjungsi yang berfungsi sebagai rangkuman atau penjelasan, seperti itulah dan dari ... di atas.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa konjungsi tidak dapat dipilih hanya berdasarkan kebiasaan. Hubungan logis antarbagian tulisan harus diperhatikan terlebih dahulu.

Dalam salah satu contoh, penggunaan oleh karena itu justru membuat paragraf terasa tidak menyatu karena paragraf berikutnya hanya terdiri atas satu kalimat yang masih berkaitan langsung dengan gagasan sebelumnya. Peneliti menilai kalimat tersebut seharusnya tetap ditempatkan dalam paragraf sebelumnya agar alur gagasannya lebih kohesif.

Dampak bagi Pembelajaran Menulis

Bagi pendidikan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis tidak cukup hanya mengajarkan siswa untuk menghasilkan teks. Siswa juga perlu memahami bagaimana menghubungkan gagasan secara logis sehingga tulisan dapat diikuti pembaca dengan mudah.

Konjungsi dapat menjadi salah satu indikator kemampuan siswa dalam mengorganisasi pemikiran. Penggunaan kata penghubung yang tepat membantu pembaca mengenali apakah suatu pernyataan merupakan sebab, akibat, tambahan, pertentangan, tujuan, atau contoh.

Dengan kata lain, persoalan konjungsi bukan sekadar masalah tata bahasa. Ketepatan memilih kata penghubung juga berkaitan dengan kejelasan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan. Sumber data berasal dari konteks dan kelompok siswa yang terbatas sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan ke seluruh siswa atau sekolah. Peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan dengan sumber data yang lebih beragam, periode pengamatan yang lebih panjang, serta metode yang berbeda agar pemahaman mengenai penggunaan konjungsi Bahasa Indonesia dapat diperluas.

Profil Singkat Penulis

Sri Muryati merupakan penulis korespondensi penelitian ini dari Universitas Veteran Bangun Nusantara. Ia menulis penelitian bersama Sukarno, Muhlis Fajar Wicaksana, Dewi Kusumaningsih, dan Dilla Alvita Devi. Kelima penulis berasal dari Universitas Veteran Bangun Nusantara. Artikel mencantumkan Sri Muryati sebagai corresponding author.

Artikel ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis yang baik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya gagasan yang dimiliki seseorang. Cara menghubungkan gagasan tersebut juga menentukan apakah sebuah tulisan terasa runtut dan mudah dipahami. Karena itu, memilih konjungsi yang tepat menjadi bagian penting dalam membangun tulisan yang kohesif, baik pada tingkat antarkalimat maupun antarparagraf.

Sumber Penelitian

Judul: Strengthening Between-Sentences and Between-Paragraphs Cohesion by Selecting the Most Appropriate Conjunction
Penulis: Sri Muryati, Sukarno, Muhlis Fajar Wicaksana, Dewi Kusumaningsih, Dilla Alvita Devi
Afiliasi: Universitas Veteran Bangun Nusantara
Jurnal: International Journal of Applied Educational Research (IJAER)
Volume: 4, Nomor 3
Tahun: 2026
Halaman: 153–170
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i3.2

Posting Komentar

0 Komentar