Ketahanan SDM Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Pedesaan

Created by AI

FORMOSA NEWS -  Ketahanan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan desa wisata di tengah perubahan kebutuhan wisatawan dan keterbatasan pengelolaan di tingkat lokal. Temuan tersebut disampaikan Syech Idrus dari Mataram Tourism College dalam artikel yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI). Melalui kajian terhadap 12 informan yang terlibat langsung dalam pengelolaan desa wisata, Idrus menemukan empat unsur utama yang memperkuat ketahanan SDM, yaitu keterampilan adaptif, kepemimpinan kolaboratif, pengetahuan lokal, dan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan.

Temuan ini penting karena desa wisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam atau daya tarik budaya. Keberhasilan destinasi juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola wisatawan, mempertahankan kualitas layanan, mengembangkan produk, memanfaatkan teknologi, serta menjaga nilai budaya dan lingkungan.

Pariwisata Pulih, Desa Wisata Menghadapi Tantangan Baru

Pemulihan pariwisata global membuat kebutuhan terhadap SDM yang adaptif semakin besar. United Nations Tourism mencatat sekitar 790 juta wisatawan internasional melakukan perjalanan pada Januari hingga Juli 2024, atau sekitar 96 persen dari tingkat kedatangan sebelum pandemi.

Indonesia juga mengalami perkembangan signifikan dalam pengelolaan desa wisata. Sebanyak 6.016 desa wisata berpartisipasi dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa desa wisata semakin diposisikan sebagai bagian penting dari pengembangan ekonomi lokal dan pariwisata berbasis masyarakat.

Namun, pertumbuhan tersebut tidak otomatis diikuti kesiapan SDM. Pengelola desa wisata masih menghadapi persoalan seperti keterbatasan pelatihan, kemampuan digital yang belum merata, kurangnya kompetensi bahasa asing, pengelolaan yang masih informal, hingga regenerasi pengelola yang belum optimal.

Dalam kondisi tersebut, ketahanan SDM menjadi penting. Ketahanan bukan sekadar kemampuan menghadapi krisis, tetapi juga kemampuan untuk belajar, beradaptasi, mempertahankan kinerja, dan memperbaiki cara kerja ketika menghadapi perubahan.

Menggali Pengalaman 12 Pelaku Desa Wisata

Idrus menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami bagaimana ketahanan SDM terbentuk dalam pengelolaan desa wisata. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Sebanyak 12 informan terlibat dalam penelitian. Mereka terdiri dari tiga pengelola desa wisata, tiga anggota kelompok sadar wisata, dua anggota masyarakat lokal, dua pelaku usaha lokal, dan dua perangkat desa.

Informasi dari berbagai kelompok tersebut kemudian dibandingkan untuk melihat pola yang muncul dalam praktik pengelolaan pariwisata. Analisis dilakukan dengan mereduksi data, menyajikannya dalam bentuk temuan, kemudian menarik kesimpulan.

Pendekatan tersebut memungkinkan Idrus melihat ketahanan SDM bukan hanya sebagai kemampuan individu, tetapi sebagai kapasitas bersama yang terbentuk melalui kepemimpinan, kerja sama, pembelajaran, dan keterlibatan masyarakat.

Empat Faktor yang Memperkuat Ketahanan SDM

Hasil penelitian menunjukkan empat faktor utama yang berperan dalam membangun ketahanan SDM desa wisata.

Pertama, keterampilan adaptif. Pelaku pariwisata perlu mampu menyesuaikan layanan dengan perubahan kebutuhan wisatawan. Penyesuaian dilakukan melalui peningkatan pelayanan, komunikasi dengan wisatawan, pengembangan paket wisata, hingga pemanfaatan media sosial untuk promosi.

Kemampuan tersebut membantu pengelola menghadapi perubahan permintaan pasar sekaligus keterbatasan fasilitas dan anggaran. Ketika jumlah wisatawan berubah atau kondisi tertentu memengaruhi kegiatan wisata, pengelola dapat menyesuaikan jadwal, produk, dan pelayanan berdasarkan kondisi desa.

Kedua, kepemimpinan kolaboratif. Pengelolaan desa wisata tidak efektif jika hanya bergantung pada satu pemimpin. Hasil penelitian menunjukkan adanya pembagian peran antara pengelola desa wisata, kelompok sadar wisata, masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah desa.

Kolaborasi tersebut membantu membagi tanggung jawab dalam penerimaan wisatawan, pemanduan, promosi, pemeliharaan fasilitas, kegiatan budaya, dan pengembangan produk lokal. Dengan demikian, keberlanjutan pengelolaan tidak terlalu bergantung pada satu individu.

Ketiga, pengetahuan lokal. Budaya, sejarah desa, makanan tradisional, produk lokal, lingkungan alam, dan nilai masyarakat menjadi aset penting dalam pengembangan pariwisata.

Menurut temuan Idrus, pengetahuan lokal membantu menciptakan pengalaman wisata yang autentik sekaligus menjaga identitas masyarakat. Masyarakat tidak hanya menjadi tenaga kerja dalam industri pariwisata, tetapi juga menjadi pemilik pengetahuan dan budaya yang menjadi bagian dari daya tarik destinasi.

Keempat, pengembangan kapasitas secara berkelanjutan. Pelatihan, pendampingan, pembelajaran antarpelaku, serta pengalaman langsung membantu meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri pengelola desa wisata.

Pelatihan yang dibutuhkan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan wisata. Kemampuan digital, promosi, pemanduan, pengembangan produk, kebersihan, pengelolaan keuangan, dan kesadaran lingkungan juga diperlukan agar SDM mampu menghadapi perubahan pariwisata.

Ketahanan SDM Tidak Terbentuk Sekali Jadi

Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa ketahanan SDM tidak dapat dibangun melalui pelatihan satu kali. Kemampuan masyarakat berkembang melalui proses pembelajaran yang terus berlangsung.

Dalam praktiknya, pembelajaran juga terjadi melalui pengalaman sehari-hari. Masukan wisatawan, interaksi dengan pelaku usaha, kerja sama antaranggota masyarakat, dan pengalaman menghadapi persoalan operasional menjadi sumber pembelajaran bagi pengelola.

Pelaku yang lebih berpengalaman dapat membantu anggota baru memahami cara melayani wisatawan, mengembangkan produk, dan menjalankan aktivitas wisata. Pola tersebut menciptakan proses transfer pengetahuan di dalam komunitas.

Namun, penelitian juga menemukan sejumlah hambatan, termasuk keterbatasan kemampuan manajerial, rendahnya kompetensi digital, pelatihan yang belum konsisten, keterbatasan infrastruktur, dan partisipasi masyarakat yang belum merata.

Karena itu, pengembangan SDM desa wisata perlu dilakukan secara terencana dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa.

Manfaat bagi Pengelola dan Pemerintah Desa

Temuan Idrus memberikan implikasi langsung bagi pengelola desa wisata, pemerintah desa, kelompok sadar wisata, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan pariwisata.

Pengembangan SDM dapat diarahkan pada program pelatihan berkelanjutan, literasi digital, kepemimpinan, pelayanan wisata, pengembangan produk lokal, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, serta pelestarian lingkungan dan budaya.

Pemerintah desa juga dapat memperkuat mekanisme koordinasi agar masyarakat memiliki ruang dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Dengan keterlibatan yang lebih besar, masyarakat dapat memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan wisata sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

Bagi dunia usaha lokal, ketahanan SDM dapat membantu menciptakan produk wisata yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Sementara bagi sektor pendidikan dan pelatihan, hasil penelitian ini menunjukkan perlunya program pengembangan kompetensi yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

Ketahanan SDM sebagai Penghubung Pariwisata dan Keberlanjutan

Idrus menempatkan ketahanan SDM sebagai penghubung antara manajemen sumber daya manusia, pariwisata berbasis masyarakat, dan tata kelola destinasi berkelanjutan.

Pandangan tersebut memperluas pembahasan manajemen SDM yang selama ini banyak berfokus pada organisasi formal seperti hotel dan perusahaan pariwisata. Desa wisata memiliki karakter berbeda karena pengelolaannya melibatkan komunitas, nilai sosial, budaya lokal, dan sistem kelembagaan desa.

Dengan demikian, keberlanjutan desa wisata tidak cukup diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan. Kemampuan masyarakat dalam mempertahankan budaya, mengelola lingkungan, bekerja sama, mengembangkan usaha, dan beradaptasi terhadap perubahan juga menjadi indikator penting.

Penelitian ini menunjukkan bahwa desa wisata yang memiliki SDM tangguh akan lebih siap menghadapi perubahan pasar sekaligus menjaga manfaat pariwisata bagi masyarakat lokal.

Profil Penulis

Syech Idrus merupakan akademisi dan peneliti dari Mataram Tourism College yang menaruh perhatian pada bidang manajemen sumber daya manusia, ketahanan SDM, pariwisata berkelanjutan, desa wisata pedesaan, dan pariwisata berbasis masyarakat.

Artikel ini memperlihatkan perhatian Idrus terhadap hubungan antara pengembangan kapasitas masyarakat dan keberlanjutan pengelolaan destinasi wisata di tingkat lokal.

Sumber Penelitian

Artikel yang menjadi sumber berita ini berjudul “Building Human Resource Resilience for Sustainable Tourism in Rural Tourism Villages”, ditulis oleh Syech Idrus dari Mataram Tourism College dan diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI).

ISSN-E: 3025-5589
Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI)

Penelitian ini menegaskan bahwa masa depan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh potensi alam dan budaya, tetapi juga oleh kemampuan manusia yang mengelolanya. Ketika masyarakat memiliki keterampilan adaptif, kepemimpinan kolaboratif, pengetahuan lokal, dan kesempatan belajar secara berkelanjutan, desa wisata memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang secara inklusif dan berkelanjutan.

Posting Komentar

0 Komentar