Inovasi Sistem Budidaya Mikroalga Pintar Berbasis Tenaga Surya dan IoT Buatan Politeknik Negeri Bali

Ilustrasi by AI

Tim peneliti dari Politeknik Negeri Bali yang beranggotakan I Gede Suputra Widharma, I Made Sajayasa, I Gde Nyoman Sangka, I Nengah Sunaya, Putu Sutawinaya, dan Dewa Ayu Indah Cahya Dewi berhasil merancang sistem pencahayaan LED multi-spektral bertenaga surya yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) pada Juli 2026. Inovasi ini sangat penting untuk menghadirkan platform budidaya mikroalga yang mandiri energi, efisien, serta ramah lingkungan tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional.

Tantangan dan Latar Belakang Energi Hijau

Kebutuhan terhadap bioteknologi berkelanjutan terus meningkat seiring tingginya potensi mikroalga untuk industri pangan, kosmetik, hingga biofuel. Namun, sebagian besar sistem budidaya laboratorium saat ini masih mengandalkan pasokan listrik konvensional dari grid yang menaikkan biaya operasional dan mengurangi aspek keberlanjutan. Selain itu, pemantauan parameter lingkungan secara manual dinilai kurang efektif dan memakan waktu.

Teknologi Cerdas Tanpa Listrik Konvensional

Para peneliti mengembangkan purwarupa yang menggabungkan panel surya monokristalin 50 Wp, pengisi daya surya, baterai penyimpan energi, dan mikrokontroler ESP32. Sistem pencahayaan menggunakan enam modul lampu LED dengan spektrum warna berbeda—yakni merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan violet—untuk menguji respons pertumbuhan mikroalga. Sementara itu, sensor suhu dan tingkat keasaman (pH) dipasang untuk mengumpulkan data lingkungan yang kemudian dikirim secara otomatis ke platform cloud ThingsBoard melalui jaringan nirkabel.

Temuan Utama Penelitian

  • Penggunaan subskistem tenaga surya menghasilkan daya rata-rata sebesar 24,13 Watt dengan tegangan panel 18,42 Volt, yang sangat memadai untuk menopang beban sistem lampu sebesar 15,84 Watt.
  • Sistem komunikasi IoT berbasis protokol MQTT mencatatkan tingkat keberhasilan pengiriman data sebesar 98,6 persen dengan latensi rata-rata 1,8 detik
  • Kondisi lingkungan kultur terpantau stabil dengan suhu rata-rata 27,5 derajat Celsius dan tingkat pH di kisaran 7,71.

Dampak dan Implikasi Luas

Kehadiran teknologi ini memberikan manfaat nyata bagi sektor riset bioteknologi, pertanian presisi, hingga dunia pendidikan vokasi teknik. Dengan memanfaatkan energi surya dan pemantauan jarak jauh secara real-time, operasional laboratorium menjadi lebih mandiri, hemat biaya, dan mendukung transisi energi hijau. "Integrasi energi terbarukan, sistem pencahayaan spektral, dan teknologi IoT menghasilkan platform budidaya yang kompak dan dapat diskalakan," jelas para peneliti Politeknik Negeri Bali.

Profil Penulis

  • I Gede Suputra Widharma, M.T. dan tim peneliti (I Made Sajayasa, I Gde Nyoman Sangka, I Nengah Sunaya, Putu Sutawinaya, dan Dewa Ayu Indah Cahya Dewi) merupakan kelompok akademisi dan ahli teknik elektro dari Politeknik Negeri Bali yang berfokus pada pengembangan sistem cerdas dan energi terbarukan.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar