Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Kalimantan Timur - Ekstrak etanol dari akar tanaman akar kuning (Fibraurea tinctoria Lour.) menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang berkaitan dengan infeksi luka diabetes. Temuan ini diperoleh Ayuni Syahira, I Gede Andika Sukarya, Tiara Dini Harlita, dan Askur dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur melalui penelitian laboratorium yang dilakukan pada Oktober-November 2025. Hasilnya diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research dan menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri meningkat seiring kenaikan konsentrasi ekstrak, meski efek serupa tidak ditemukan pada Pseudomonas aeruginosa.

Temuan tersebut menarik karena luka pada penderita diabetes memiliki risiko tinggi mengalami infeksi dan sulit sembuh. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan gangguan sirkulasi, kerusakan saraf, serta melemahnya respons imun. Kondisi tersebut membuat luka kaki diabetik lebih rentan terhadap kolonisasi bakteri, memperlambat penyembuhan, dan dalam kasus berat dapat meningkatkan risiko kecacatan hingga amputasi.

Salah satu bakteri yang sering ditemukan pada luka diabetes adalah S. aureus. Bakteri Gram-positif ini dapat menghasilkan berbagai faktor virulensi, merusak jaringan, dan membentuk biofilm yang membuat infeksi lebih sulit ditangani. Sementara itu, P. aeruginosa merupakan bakteri Gram-negatif yang dikenal memiliki berbagai mekanisme pertahanan terhadap antimikroba, termasuk permeabilitas membran yang rendah, pompa pengeluaran obat, serta kemampuan membentuk biofilm.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap resistensi antimikroba, tanaman obat menjadi salah satu sumber yang terus dieksplorasi untuk menemukan senyawa antibakteri baru. Fibraurea tinctoria atau akar kuning merupakan tanaman obat yang tersebar di Kalimantan dan telah digunakan secara tradisional untuk menangani infeksi serta peradangan. Tanaman ini diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif, antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, dan senyawa fenolik. Berberin menjadi salah satu senyawa yang mendapat perhatian karena telah dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan aktivitas antibakteri F. tinctoria, tetapi sebagian besar menggunakan bagian batang atau infus tanaman. Bukti mengenai kemampuan ekstrak etanol bagian akar terhadap dua bakteri penting pada luka diabetes, yakni S. aureus dan P. aeruginosa, masih terbatas. Karena itu, penelitian Ayuni Syahira dan tim membandingkan respons kedua bakteri tersebut terhadap ekstrak akar pada konsentrasi yang relatif rendah, yaitu 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%.

Pengujian dilakukan di laboratorium

Eksperimen dilakukan di Laboratorium Bakteriologi, Departemen Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Identifikasi tanaman dilakukan di Laboratorium Anatomi dan Sistematika Tumbuhan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman. Akar F. tinctoria dikumpulkan dari Kalimantan Tengah, kemudian dicuci, dikeringkan, digiling menjadi bubuk, dan dimaserasi menggunakan etanol 96 persen. Ekstrak yang diperoleh kemudian dibuat menjadi lima konsentrasi.

Para peneliti menguji ekstrak terhadap S. aureus ATCC 10145 dan P. aeruginosa ATCC 25923 menggunakan metode difusi cakram. Setelah bakteri ditumbuhkan pada media agar dan cakram berisi ekstrak ditempatkan di atasnya, kultur diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 derajat Celsius. Aktivitas antibakteri kemudian dinilai berdasarkan diameter zona bening di sekitar cakram. Ciprofloxacin digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan air suling steril menjadi kontrol negatif.

Konsentrasi 10 persen memberikan zona hambat terbesar

Hasil pengujian menunjukkan pola yang jelas pada S. aureus. Ekstrak dengan konsentrasi 2 persen belum menghasilkan zona hambat. Namun, aktivitas mulai terlihat pada konsentrasi 4 persen dan terus meningkat hingga 10 persen.

Pada konsentrasi 4 persen, rata-rata zona hambat mencapai 10,00 ± 0,58 milimeter. Angka tersebut meningkat menjadi 11,33 ± 0,47 milimeter pada konsentrasi 6 persen, 12,00 ± 1,15 milimeter pada 8 persen, dan mencapai 13,67 ± 0,82 milimeter pada konsentrasi 10 persen.

Analisis statistik memperkuat temuan tersebut. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara konsentrasi ekstrak dalam menghambat pertumbuhan S. aureus, dengan nilai p < 0,001. Peneliti juga menghitung ukuran efek dan memperoleh eta squared sebesar 0,97. Berdasarkan analisis tersebut, konsentrasi ekstrak menjelaskan sekitar 97 persen variasi diameter zona hambat yang ditemukan pada S. aureus.

Meski konsentrasi 10 persen menghasilkan zona hambat terbesar, uji lanjutan menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara konsentrasi 8 persen dan 10 persen. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi di atas 8 persen mungkin hanya memberikan tambahan efek yang terbatas dalam kondisi percobaan tersebut. Peneliti menyebut diperlukan pengujian dengan rentang konsentrasi yang lebih luas untuk memastikan apakah aktivitas tersebut memang mulai mencapai titik jenuh.

Berbeda dengan S. aureus, P. aeruginosa tidak menunjukkan zona hambat pada seluruh konsentrasi yang diuji. Tidak ditemukan aktivitas antibakteri yang terukur pada konsentrasi 2 hingga 10 persen. Karena tidak ada zona hambat, analisis statistik tidak dilakukan untuk bakteri tersebut.

Mengapa hanya satu bakteri yang terhambat?

Menurut Ayuni Syahira dan tim dari Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur, perbedaan respons kedua bakteri kemungkinan berkaitan dengan karakteristik dinding dan membran selnya. Senyawa bioaktif seperti berberin, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, dan senyawa fenolik diduga berkontribusi terhadap aktivitas terhadap S. aureus. Senyawa-senyawa tersebut dapat memengaruhi integritas dinding atau membran bakteri, sintesis asam nukleat, serta proses metabolisme.

Namun, peneliti menekankan bahwa hubungan antara senyawa tertentu dan efek antibakteri tersebut masih berupa dugaan berbasis penelitian sebelumnya. Studi ini sendiri tidak melakukan analisis fitokimia kuantitatif terhadap ekstrak akar yang digunakan. Karena itu, belum dapat dipastikan senyawa mana yang paling bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri yang diamati.

Tidak adanya efek terhadap P. aeruginosa juga belum otomatis berarti tanaman tersebut sama sekali tidak memiliki potensi terhadap bakteri itu. Membran luar P. aeruginosa yang kaya lipopolisakarida dapat membatasi masuknya berbagai senyawa. Bakteri ini juga memiliki pompa pengeluaran, porin dengan kemampuan masuk yang terbatas, dan mekanisme pembentukan biofilm. Selain itu, metode difusi cakram yang digunakan memiliki keterbatasan dalam mendeteksi aktivitas yang memerlukan kontak lebih lama atau konsentrasi tertentu.

Potensi untuk riset obat alami, bukan terapi siap pakai

Hasil penelitian ini memberikan bukti awal bahwa ekstrak etanol akar F. tinctoria berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami, khususnya terhadap bakteri Gram-positif seperti S. aureus. Namun, temuan tersebut belum berarti ekstrak akar kuning dapat langsung digunakan sebagai obat untuk luka diabetes.

Peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan menggunakan metode yang dapat menentukan konsentrasi hambat minimum (MIC) dan konsentrasi bunuh minimum (MBC), analisis kandungan fitokimia secara kuantitatif, pengujian terhadap bakteri yang telah mengalami resistensi multidrug, serta pengujian kemampuan menghambat biofilm dan toksisitas. Penelitian pada model luka diabetes juga diperlukan sebelum potensi penggunaannya dapat dinilai lebih jauh pada manusia.

Dengan demikian, akar kuning menunjukkan prospek ilmiah yang menjanjikan, tetapi masih berada pada tahap awal pengembangan. Temuan paling kuat dari penelitian ini adalah kemampuannya menghambat S. aureus secara bergantung konsentrasi dalam kondisi laboratorium, dengan zona hambat terbesar 13,67 ± 0,82 milimeter pada konsentrasi 10 persen.

Profil Penulis

Penelitian ini ditulis oleh Ayuni Syahira, I Gede Andika Sukarya, Tiara Dini Harlita, dan Askur, yang seluruhnya berafiliasi dengan Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. I Gede Andika Sukarya tercatat sebagai penulis korespondensi. Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian individual masing-masing penulis secara rinci, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber pendukung.

Sumber Penelitian

Judul: “Antibacterial Activity of Ethanolic Root Extract of Fibraurea tinctoria Lour. Against Diabetic Wound Pathogenic Bacteria”
Penulis: Ayuni Syahira, I Gede Andika Sukarya, Tiara Dini Harlita, Askur
Afiliasi: Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research
Volume/Nomor: Vol. 5 No. 8
Tahun: 2026
Halaman: 2565–2578
DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.169