Chatbot Facebook Messenger Dinilai Efektif Layani Pelanggan Kafe, tetapi Belum Terbukti Mendorong Kinerja Pemasaran

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Subic Bay, Filipina - Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) di Facebook Messenger dinilai mampu meningkatkan kecepatan layanan dan membangun kepercayaan pelanggan kafe, tetapi belum terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja pemasaran. Temuan ini berasal dari penelitian Keane Rafael Abdon, Alliyah Kaye Abiva, Ruscel Carl Arbilo, Gerick Gonzales, Janine Mae Angel Ong, Fhreiana Roxas, Joy Ann Ragasa, dan Roger Idos dari Gordon College, Filipina, yang mengkaji penggunaan chatbot pada bisnis kafe di Subic Bay Freeport Zone. Artikel tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL).

Penelitian ini penting karena chatbot semakin banyak digunakan bisnis untuk menjawab pertanyaan pelanggan secara otomatis, memberikan informasi, membantu pemesanan, serta menjaga komunikasi tanpa harus selalu melibatkan staf manusia. Dalam konteks bisnis kafe, teknologi tersebut dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai menu, harga, jam operasional, reservasi, ketersediaan produk, hingga pesanan.

Namun, para peneliti menemukan adanya pertanyaan yang belum banyak dijawab oleh penelitian sebelumnya: apakah interaksi pelanggan dengan chatbot benar-benar berkaitan dengan peningkatan kinerja pemasaran kafe, khususnya dalam tingkat konversi penjualan dan pertumbuhan penjualan.

Menilai Respons Chatbot hingga Pertumbuhan Penjualan

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 20 pemilik atau manajer kafe mikro dan kecil di Subic Bay Freeport Zone. Seluruh responden merupakan pengelola bisnis yang aktif menggunakan chatbot Facebook Messenger dalam kegiatan pemasaran atau layanan pelanggan selama 12 bulan terakhir. Responden dipilih secara purposive, sehingga hasil penelitian tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh bisnis kafe di wilayah tersebut.

Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibuat oleh peneliti dan disebarkan menggunakan Google Forms. Kuesioner mengukur keterlibatan pelanggan melalui tiga aspek utama, yaitu persepsi terhadap responsivitas chatbot, kepercayaan pelanggan, serta kesediaan pelanggan untuk berinteraksi. Sementara itu, kinerja pemasaran dilihat dari tingkat konversi penjualan dan pertumbuhan penjualan.

Para peneliti kemudian menggunakan statistik deskriptif dan korelasi Spearman untuk melihat pola hubungan antara keterlibatan pelanggan dan kinerja pemasaran. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah 0,05.

Chatbot Dinilai Sangat Responsif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemilik dan manajer kafe memberikan penilaian positif terhadap kemampuan chatbot dalam melayani pelanggan. Responsivitas chatbot memperoleh nilai rata-rata 3,63 pada skala empat poin dan masuk kategori “sangat setuju”.

Kemampuan chatbot menangani banyak pertanyaan pelanggan secara efisien menjadi aspek dengan nilai tertinggi, yaitu 3,85. Sementara itu, kemampuan menyelesaikan pertanyaan tanpa bantuan manusia mendapat nilai terendah, yakni 3,40. Temuan tersebut menunjukkan bahwa chatbot dianggap efektif untuk menangani berbagai pertanyaan rutin, tetapi keterlibatan manusia masih diperlukan ketika pelanggan menghadapi persoalan yang lebih kompleks.

Kepercayaan dan kesediaan pelanggan untuk berinteraksi dengan chatbot juga memperoleh penilaian positif, dengan nilai rata-rata 3,59. Indikator tertinggi adalah kesediaan pelanggan berinteraksi dengan chatbot meskipun mereka mengetahui bahwa sistem tersebut bersifat buatan, dengan skor 3,75.

Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam komunikasi bisnis mulai diterima oleh pelanggan dalam konteks kafe yang diteliti. Chatbot bukan hanya dipandang sebagai alat otomatisasi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang dapat memberikan informasi secara cepat dan konsisten.

Dinilai Membantu Penjualan, tetapi Hubungannya Tidak Signifikan

Dari sisi konversi penjualan, responden juga memberikan penilaian positif dengan nilai rata-rata 3,45. Mereka menilai chatbot dapat membantu mengubah pertanyaan pelanggan menjadi pesanan, memengaruhi keputusan pembelian, serta mendorong pelanggan menyelesaikan transaksi lebih cepat.

Pertumbuhan penjualan memperoleh nilai rata-rata 3,50. Kemampuan chatbot mendorong pembelian ulang menjadi indikator dengan nilai tertinggi, yaitu 3,70. Sementara itu, peningkatan penjualan bulanan sejak penggunaan chatbot mendapat nilai 3,35. Peneliti mencatat bahwa pengaruh chatbot terhadap pertumbuhan penjualan kemungkinan berlangsung secara bertahap dan tidak selalu terlihat secara langsung.

Meski seluruh indikator tersebut mendapat penilaian positif, hasil analisis statistik memberikan kesimpulan yang lebih hati-hati. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara keterlibatan pelanggan melalui chatbot dan kinerja pemasaran.

Nilai signifikansi untuk responsivitas chatbot adalah 0,110, sedangkan kepercayaan pelanggan dan kesediaan berinteraksi memiliki nilai 0,533. Keduanya berada di atas batas signifikansi 0,05. Dengan demikian, penelitian tidak menemukan bukti statistik yang cukup untuk menyatakan bahwa keterlibatan pelanggan melalui chatbot berkaitan secara signifikan dengan kinerja pemasaran kafe.

Dengan kata lain, chatbot dapat membuat komunikasi dengan pelanggan menjadi lebih cepat dan nyaman, tetapi teknologi tersebut tidak otomatis menghasilkan peningkatan kinerja pemasaran.

Chatbot Bukan Pengganti Strategi Pemasaran

Menurut Abdon dan rekan-rekannya dari Gordon College, hasil tersebut menunjukkan bahwa chatbot sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan satu-satunya strategi untuk meningkatkan penjualan. Kualitas layanan, produk yang ditawarkan, harga, kepuasan pelanggan, serta strategi pemasaran secara keseluruhan kemungkinan memiliki peran yang lebih besar terhadap keberhasilan bisnis.

Para peneliti merekomendasikan pendekatan yang menggabungkan chatbot dengan dukungan manusia. Chatbot dapat menangani pertanyaan sederhana dan berulang, sedangkan staf manusia menangani persoalan yang membutuhkan empati, pertimbangan, atau solusi yang lebih personal.

Kafe juga disarankan mengintegrasikan chatbot dengan strategi pemasaran digital lainnya, seperti kampanye media sosial, program loyalitas, promosi, dan komunikasi yang lebih personal. Konten serta fitur chatbot perlu diperbarui secara berkala agar informasi yang diberikan tetap akurat dan kepercayaan pelanggan terjaga.

Bagi pelaku usaha kecil, temuan ini memberikan pesan penting: investasi pada AI dapat membantu meningkatkan efisiensi komunikasi, tetapi manfaat bisnisnya akan lebih optimal jika teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi yang lebih luas.

Keterbatasan Penelitian

Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasannya. Studi hanya melibatkan 20 pemilik atau manajer kafe. Jumlah responden yang kecil dapat mengurangi kemampuan analisis statistik dalam menemukan hubungan yang signifikan sekaligus membatasi penerapan hasil pada populasi kafe yang lebih luas.

Selain itu, pengukuran kinerja pemasaran didasarkan pada persepsi yang dilaporkan sendiri oleh pemilik atau manajer. Penelitian tidak menggunakan catatan penjualan yang diverifikasi secara independen, laporan keuangan, maupun data transaksi secara langsung. Karena itu, penilaian responden dapat berbeda dari kondisi kinerja bisnis yang sebenarnya.

Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan jumlah responden yang lebih besar dan wilayah yang lebih luas. Faktor lain seperti kepuasan pelanggan, kualitas layanan, loyalitas merek, dan retensi pelanggan juga dapat diteliti untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai pengaruh chatbot terhadap kinerja bisnis.

Profil Penulis

Penelitian ini ditulis oleh Keane Rafael Abdon, Alliyah Kaye Abiva, Ruscel Carl Arbilo, Gerick Gonzales, Janine Mae Angel Ong, Fhreiana Roxas, Joy Ann Ragasa, dan Roger Idos. Seluruh penulis berafiliasi dengan Gordon College, Filipina. Alliyah Kaye Abiva tercatat sebagai corresponding author. Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber lain.

Sumber Penelitian

Judul: The Impact of Customer Engagement Using Facebook Messenger Chatbots on the Marketing Performance of Cafés in Subic Bay Freeport Zone
Penulis: Keane Rafael Abdon, Alliyah Kaye Abiva, Ruscel Carl Arbilo, Gerick Gonzales, Janine Mae Angel Ong, Fhreiana Roxas, Joy Ann Ragasa, Roger Idos
Afiliasi: Gordon College, Philippines
Jurnal: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital (MINISTAL)
Volume: 5, Nomor 3
Tahun: 2026
Halaman: 191–202

Posting Komentar

0 Komentar