Bandung — Beban kerja dan kepuasan kerja terbukti berpengaruh terhadap motivasi kerja guru Aparatur Sipil Negara (ASN) di SMA Negeri 13 Bandung. Temuan ini berasal dari penelitian Shella Rosmalinda dan Aam Rachmat Mulyana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 tersebut melibatkan 39 guru ASN di SMA Negeri 13 Bandung dan menunjukkan bahwa beban kerja serta kepuasan kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru.
Motivasi guru menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kualitas pendidikan. Guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjalankan berbagai tugas pendukung yang berkaitan dengan administrasi dan kegiatan sekolah. Ketika beban pekerjaan tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memengaruhi bagaimana guru menjalankan tanggung jawabnya.
Di SMA Negeri 13 Bandung, guru ASN tidak hanya menjalankan tugas mengajar. Berdasarkan wawancara dengan wakil kepala sekolah yang dikutip dalam penelitian, guru juga menghadapi berbagai pekerjaan administratif. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan peneliti melihat pentingnya pengelolaan beban kerja dalam kaitannya dengan motivasi kerja guru.
Selain beban kerja, kepuasan terhadap pekerjaan juga menjadi perhatian. Kepuasan kerja menggambarkan bagaimana seseorang menilai berbagai aspek pekerjaannya, termasuk perasaan dan sikap terhadap lingkungan kerja. Guru yang merasa puas terhadap pekerjaannya cenderung memiliki dorongan yang lebih besar untuk menjalankan tanggung jawab dan mencapai hasil yang diharapkan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh 39 guru ASN di SMA Negeri 13 Bandung sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumen pendukung. Para peneliti mengukur tiga variabel utama, yaitu beban kerja, kepuasan kerja, dan motivasi kerja menggunakan skala diferensial semantik 1 sampai 5. Data kemudian dianalisis menggunakan SPSS 23 melalui pengujian validitas, reliabilitas, asumsi klasik, serta regresi linear berganda.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Seluruh pernyataan memiliki nilai korelasi lebih besar dibandingkan nilai pembanding 0,316. Pengujian reliabilitas juga menghasilkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,713 untuk variabel motivasi kerja, sementara nilai masing-masing variabel menunjukkan bahwa instrumen dapat digunakan secara reliabel.
Pengujian statistik kemudian menunjukkan adanya pengaruh positif beban kerja terhadap motivasi kerja guru. Nilai t untuk variabel beban kerja mencapai 3,649, lebih tinggi dibandingkan nilai t-tabel sebesar 1,690, dengan tingkat signifikansi 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa beban kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap motivasi kerja guru ASN dalam penelitian ini.
Peneliti menjelaskan bahwa temuan tersebut tidak semata-mata berarti semakin banyak pekerjaan selalu membuat guru semakin termotivasi. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya kesesuaian dan pengelolaan beban kerja. Beban kerja yang dianggap sesuai dengan tanggung jawab dan kemampuan guru dapat mendorong mereka untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik. Karena itu, pembagian pekerjaan dan penetapan target perlu disesuaikan dengan kondisi guru.
Kepuasan kerja juga terbukti memiliki pengaruh positif terhadap motivasi kerja. Nilai t yang diperoleh mencapai 2,840, lebih tinggi dibandingkan nilai t-tabel sebesar 1,690, dengan tingkat signifikansi 0,007. Artinya, semakin tinggi kepuasan kerja guru, semakin tinggi pula motivasi mereka dalam menjalankan pekerjaan.
Ketika beban kerja dan kepuasan kerja dianalisis secara bersamaan, keduanya terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru. Uji simultan menghasilkan nilai F sebesar 7,305, lebih tinggi daripada F-tabel sebesar 3,259, dengan tingkat signifikansi 0,002. Hasil tersebut memperkuat kesimpulan bahwa kedua faktor tersebut secara bersama-sama berkaitan dengan motivasi kerja guru ASN di SMA Negeri 13 Bandung.
Di antara kedua faktor tersebut, beban kerja menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan kepuasan kerja. Nilai t beban kerja sebesar 3,649 lebih tinggi daripada nilai t kepuasan kerja sebesar 2,840. Temuan ini membuat pengelolaan beban kerja menjadi salah satu perhatian utama yang perlu diprioritaskan sekolah untuk membantu meningkatkan motivasi guru.
Meski demikian, penelitian menunjukkan bahwa beban kerja dan kepuasan kerja belum menjelaskan seluruh variasi motivasi kerja guru. Nilai adjusted R-squared sebesar 0,289 menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut menjelaskan 28,9 persen variasi motivasi kerja. Sementara itu, 71,1 persen lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian.
Temuan tersebut memberikan sejumlah implikasi bagi pengelolaan tenaga pendidik. Sekolah perlu memperhatikan kesesuaian antara volume pekerjaan dan target yang diberikan kepada guru. Penelitian mencatat bahwa indikator target yang harus dicapai masih relatif rendah dibandingkan indikator lainnya sehingga penyesuaian target dan volume pekerjaan dinilai perlu dilakukan.
Dari sisi kepuasan kerja, struktur organisasi menjadi salah satu indikator yang masih relatif rendah dibandingkan indikator lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi yang lebih baik antara guru dan antarbagian di lingkungan sekolah. Hubungan kerja yang lebih terbuka dapat membantu menciptakan suasana kerja yang mendukung kepuasan dan motivasi guru.
Penelitian juga menemukan bahwa aspek pengakuan atau penghargaan terhadap guru masih relatif rendah dalam variabel motivasi kerja. Karena itu, sekolah dapat meningkatkan bentuk apresiasi terhadap guru, baik melalui penghargaan dari rekan kerja maupun program penghargaan yang diberikan oleh institusi. Pengakuan terhadap kontribusi guru dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat dorongan mereka dalam menjalankan tugas.
Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas kerja guru tidak hanya berkaitan dengan kompetensi dan kemampuan mengajar. Faktor pengelolaan pekerjaan, kepuasan terhadap organisasi, komunikasi internal, serta penghargaan terhadap kontribusi guru juga perlu mendapat perhatian. Lingkungan kerja yang mampu memberikan pembagian tugas yang sesuai sekaligus menghargai kontribusi guru dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih mendukung motivasi kerja.
Shella Rosmalinda dan Aam Rachmat Mulyana menyimpulkan bahwa beban kerja dan kepuasan kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja guru ASN di SMA Negeri 13 Bandung. Beban kerja menjadi faktor yang memiliki pengaruh lebih dominan dalam penelitian tersebut. Karena itu, strategi pengelolaan beban kerja menjadi salah satu langkah yang dapat diprioritaskan oleh institusi pendidikan untuk meningkatkan motivasi kerja guru.
Penelitian berikutnya disarankan menggunakan teori dan indikator yang lebih luas serta melibatkan sekolah atau institusi pendidikan lain. Perbandingan antarinstansi dapat membantu melihat apakah pola hubungan antara beban kerja, kepuasan kerja, dan motivasi kerja juga ditemukan pada lingkungan pendidikan yang berbeda.
Profil Penulis
Shella Rosmalinda — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.
Aam Rachmat Mulyana — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Effect of Workload and Job Satisfaction on the Work Motivation of ASN Teachers at SMA Negeri 13 Bandung
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3399–3408.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.268
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar