Tren "67" di TikTok bagi Generasi Alpha: Simbol Komunikasi Absurd yang Menjadi Fenomena Budaya Digital Global


Ilustrasi by AI 

Pola komunikasi anak-anak zaman sekarang telah bergeser ke arah visual dan simbolis, didorong oleh paparan media sosial sejak lahir. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa fenomena viral tren "67" di platform TikTok telah menjadi bahasa universal baru bagi Generasi Alpha, meskipun tidak memiliki makna literal yang jelas. Penelitian bertajuk komunikasi digital ini dilakukan oleh Leni Wijayanti, Teguh Priyo Sadono, dan Merry Frida Tri Palupi dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dipublikasikan pada Juni 2026 dalam Formosa Journal of Social Sciences (FJSS), kajian fenomenologi ini berhasil memetakan bagaimana budaya brainrot—istilah untuk konten internet absurd tanpa makna rasional—dapat membentuk identitas dan solidaritas komunitas digital anak-anak.

Ketika Angka dan Gerakan Menggeser Bahasa Konvensional

Generasi Alpha yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025 tumbuh di dalam ekosistem digital yang sangat dinamis. Dalam kehidupan sehari-hari, ekspresi komunikasi mereka banyak dipengaruhi oleh tren global, meme, dan platform permainan seperti Roblox. Munculnya angka "67" sebagai slang viral, yang bahkan dinobatkan sebagai Word of the Year oleh Dictionary.com, sempat membingungkan para orang tua dan pendidik.

Dari sudut pandang teori hiperrealitas Jean Baudrillard, batasan antara kenyataan nyata dan simulasi media menjadi kabur. Tren "67" menjadi contoh nyata hyperrealitas tersebut: maknanya tidak jelas dan abstrak, namun melalui pengulangan audio, meme, dan interaksi di TikTok, simbol tersebut terasa sangat nyata, penting, dan dipahami secara kolektif oleh Generasi Alpha. Budaya FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal tren semakin mempercepat penyebaran fenomena ini, karena anak-anak merasa harus ikut serta agar tetap relevan di lingkungan pergaulan digital mereka.

Mengintip Metode Penelitian Digital

Untuk membedah bagaimana anak-anak memaknai tren absurd ini, tim peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi komunikasi digital. Desain penelitian yang dipilih adalah deskriptif-interpretif guna menganalisis pengalaman hidup (lived experience) subjek secara mendalam.

Pengumpulan data dalam penelitian ini mengombinasikan beberapa teknik berikut:

  • Wawancara Mendalam: Dilakukan terhadap empat informan anak yang lahir tahun 2010 atau setelahnya (dua siswa kelas 3 SD dan dua siswa kelas 9 SMP) untuk menggali pandangan subjektif mereka.
  • Observasi Digital: Mengamati konten video, audio, penggunaan tagar (#), dan interaksi pada akun-akun TikTok yang mengunggah tren "67".
  • Dokumentasi Digital: Mengumpulkan data pelengkap berupa lirik lagu, tangkapan layar joget viral, serta melacak asal-usul tren di internet.
  • Triangulasi Data dan Teori: Validitas data diuji secara konsisten untuk memastikan objektivitas interpretasi budaya siber ini.

Asal-Usul dan Temuan Utama Tren "67"

Berdasarkan hasil analisis dokumen dan lapangan, para peneliti berhasil merangkum sejumlah temuan penting mengenai anatomi tren "67":

  • Akar dari Subkultur Rapper AS: Tren ini awalnya dipicu oleh lagu tidak resmi berjudul "Doot Doot (67)" karya rapper Amerika Serikat bernama Skrilla yang beredar pada Desember 2024, di mana frasa six-seven diulang terus-menerus.
  • Evolusi Menjadi "67 Kid": Istilah ini meledak secara global setelah seorang anak bernama Mav Trevillian (@Mav.67Kid&Mom) berteriak "67" dengan gerakan tangan khas saat menonton pertandingan basket, hingga ia dijuluki "67 Kid". Angka ini juga sering dikaitkan secara kebetulan dengan tinggi badan pebasket LaMelo Ball (6 kaki 7 inci).
  • Bahasa Tubuh yang Konsisten: Di TikTok, pengucapan kata six-seven bertransformasi menjadi Joged 67. Gerakannya khas, yaitu kedua telapak tangan menghadap ke atas lalu digerakkan bergantian seperti sedang menimbang sesuatu secara ritmis mengikuti ketukan lagu. Tren ini kerap diawali visual coretan matematika matematika sederhana seperti $20+20+20+7 = 67$.
  • Diadopsi demi Humoris dan Koneksi: Wawancara dengan siswa SD dan SMP di East Java menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang tahu arti harfiah dari "67". Mereka menirunya semata-mata karena menganggapnya lucu, absurd, termasuk kategori brainrot, dan ingin terhubung secara sosial dengan teman sebaya yang membicarakannya di sekolah.

Implikasi Kebijakan: Literasi Digital Adaptif untuk Guru dan Orang Tua

Temuan dari studi ini memberikan rekomendasi penting bagi sektor pendidikan dan pola asuh keluarga di era digital. Fenomena "67" membuktikan bahwa media sosial memegang kendali kuat dalam membentuk perilaku berbahasa anak di sekolah.

Oleh karena itu, para guru dan lembaga pendidikan disarankan untuk tidak memakai pendekatan represif seperti pelarangan tanpa penjelasan, karena hal itu justru memperlebar jarak komunikasi antargenerasi. Sebaliknya, pendidik harus meningkatkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis siswa terhadap konten viral, bahkan bisa memanfaatkan fenomena populer tersebut sebagai alat bantu pembelajaran kreatif. Bagi orang tua, riset ini mengingatkan pentingnya komunikasi terbuka dan pengawasan yang bijak agar anak-anak tidak terjebak dalam kecemasan FOMO dan konsumsi gadget berlebih, seraya tetap menghargai ruang ekspresi identitas digital mereka.

Profil Penulis

Leni Wijayanti, S.I.Kom., M.Med.Kom. beserta Teguh Priyo Sadono dan Merry Frida Tri Palupi adalah staf pengajar dan peneliti di lingkungan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Fokus riset mereka bergerak di bidang komunikasi digital, budaya pop, studi media baru, perilaku media generasi muda, serta dinamika siber dalam masyarakat kontemporer.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: The "67" Trend on TikTok from the Perspective of Generation Alpha: A Phenomenological Study of Digital Communication
Nama Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS)
Tahun Publikasi: Vol. 5, No. 2, Juni 2026: hal. 81-96
DOI :  https://doi.org/10.55927/fjss.v5i2.8

Posting Komentar

0 Komentar