TikTok Bentuk Pola Komunikasi Siswa SD, Pengawasan Orang Tua Jadi Faktor Penentu

Illustration by Ai

FORMOSA NEWS- Sumatera Utara

Penggunaan media sosial, khususnya TikTok, terbukti memengaruhi pola komunikasi siswa sekolah dasar. Temuan tersebut disampaikan oleh Febri Ichwan Butsi dan Eka Mawarni dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) melalui penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) Volume 6 Nomor 6 Tahun 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa akses gawai tanpa pengawasan rutin dari orang tua menjadi faktor utama yang membentuk cara anak berkomunikasi dengan teman sebayanya.

Hasil penelitian menjadi penting karena penggunaan media sosial kini telah menjangkau anak-anak usia sekolah dasar. Pada usia ini, anak berada dalam tahap perkembangan bahasa dan sosial yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Paparan konten digital tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga membentuk kebiasaan berbicara, meniru perilaku, hingga cara berinteraksi dengan teman sebaya.

Media sosial semakin dekat dengan anak-anak

Kemajuan teknologi membuat internet dan media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Anak-anak kini dapat dengan mudah mengakses berbagai platform digital menggunakan telepon genggam milik orang tua.

Peneliti mengamati fenomena tersebut di SD Negeri 106238 Desa Serbananti, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai. Banyak siswa kelas III telah terbiasa menggunakan gawai untuk bermain gim, menonton YouTube, maupun mengakses TikTok. Sebagian besar penggunaan tersebut berlangsung tanpa pendampingan langsung dari orang tua.

Selama observasi, peneliti juga menemukan anak-anak berkumpul di sekitar kantor desa untuk memanfaatkan jaringan Wi-Fi sambil menggunakan telepon genggam bersama teman-temannya. Durasi penggunaan gawai bahkan dapat berlangsung sejak pulang sekolah hingga sore hari.

Penelitian melibatkan siswa, orang tua, guru, dan psikolog

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif agar dapat memahami perilaku komunikasi anak secara mendalam.

Sebanyak 12 siswa kelas III dipilih sebagai informan utama menggunakan teknik purposive sampling. Seluruh peserta merupakan anak berusia sekitar 8–9 tahun yang mengenal atau aktif menggunakan TikTok.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, peneliti juga mewawancarai orang tua siswa, wali kelas, serta seorang psikolog. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi sebelum dianalisis secara sistematis.

Anak cenderung meniru teman dan konten TikTok

Penelitian menemukan bahwa pola komunikasi siswa terbentuk melalui dua jalur utama.

Pertama, anak meniru ucapan maupun perilaku teman di sekolah. Kedua, anak meniru konten yang sering mereka lihat di media sosial, terutama TikTok.

Peneliti memberikan contoh ketika seorang siswi menyanyikan potongan lagu yang sedang menjadi tren di TikTok. Teman-temannya kemudian ikut mengucapkan lirik tersebut secara berulang meskipun tidak memahami maknanya. Fenomena ini menunjukkan bahwa pola komunikasi menyebar secara linear, dimulai dari satu anak lalu ditiru oleh anak-anak lainnya.

Selain itu, penelitian menemukan beberapa karakteristik penggunaan media sosial pada siswa, yaitu:

  • Durasi penggunaan telepon genggam berkisar 30 menit hingga lebih dari satu jam setiap hari.
  • Siswi perempuan lebih banyak mengikuti tren TikTok.
  • Siswa laki-laki lebih banyak mengakses permainan digital.
  • Seluruh siswa yang aktif menggunakan media sosial memperoleh akses telepon genggam dari orang tua.
  • Pengawasan orang tua umumnya hanya membatasi waktu penggunaan, bukan isi konten yang diakses.

Pengawasan orang tua menjadi kunci

Menurut hasil penelitian, proses belajar sosial anak dimulai sejak mereka memperoleh akses terhadap telepon genggam. Anak yang berulang kali melihat konten tertentu akan menyimpan informasi tersebut dalam ingatan, kemudian terdorong untuk menirukan ucapan, perilaku, maupun tren yang sedang populer.

Peneliti menilai sebagian besar orang tua belum sepenuhnya menyadari besarnya pengaruh media sosial terhadap perkembangan komunikasi anak. Di rumah, anak sering menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan ketika bersama teman-temannya, sehingga orang tua tidak selalu mengetahui bagaimana anak berkomunikasi di lingkungan sosialnya.

Karena itu, peningkatan literasi digital orang tua dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak negatif media sosial terhadap perkembangan anak. Orang tua memiliki kemampuan membedakan informasi yang baik dan buruk, sehingga pendampingan saat anak menggunakan media sosial menjadi sangat diperlukan.

Ada manfaat, tetapi risikonya tetap besar

Penelitian juga menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif.

Dari sisi perkembangan bahasa, paparan media sosial dapat memperkaya kosakata anak dan meningkatkan rasa percaya diri saat berbicara. Anak menjadi lebih berani mengekspresikan pendapat dan lebih cepat mengikuti perkembangan bahasa yang digunakan teman-temannya.

Namun, manfaat tersebut harus diimbangi dengan pengawasan yang memadai. Pada usia sekolah dasar, anak belum mampu sepenuhnya membedakan perilaku yang baik dan yang kurang tepat. Akibatnya, mereka berpotensi meniru berbagai konten tanpa mempertimbangkan nilai moral maupun dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

Implikasi bagi pendidikan dan keluarga

Temuan ini memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan maupun keluarga.

Sekolah dapat memperkuat program literasi digital sejak jenjang sekolah dasar agar siswa mampu menggunakan media sosial secara lebih bijak. Guru juga dapat bekerja sama dengan orang tua untuk memantau perubahan perilaku komunikasi anak.

Sementara itu, orang tua tidak cukup hanya membatasi durasi penggunaan gawai. Pendampingan saat anak mengakses media sosial, berdialog mengenai konten yang ditonton, serta memberikan contoh komunikasi yang baik menjadi langkah yang lebih efektif dalam membentuk karakter dan kemampuan berbahasa anak.

Menurut Febri Ichwan Butsi dan Eka Mawarni dari Universitas Islam Sumatera Utara, pengawasan keluarga merupakan faktor yang paling menentukan dalam meminimalkan dampak negatif media sosial sekaligus mengoptimalkan manfaatnya bagi perkembangan komunikasi anak.

Profil Penulis

Febri Ichwan Butsi merupakan akademisi dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Bidang keahliannya meliputi komunikasi, media sosial, komunikasi digital, dan perilaku komunikasi masyarakat.

Eka Mawarni merupakan dosen di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang berfokus pada kajian ilmu komunikasi, media digital, dan komunikasi sosial.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of Social Media Exposure in Shaping the Communication Patterns of 3rd Grade Children at State Elementary School 106238 Serbananti Village, Sipispis District, Serdang Bedagai Regency
Penulis: Febri Ichwan Butsi, Eka Mawarni
Vol. 6, No. 6, Juni 2026
Halaman: 893–897

Posting Komentar

0 Komentar