Standar Proses Pembelajaran di Sekolah Inklusif Sudah Baik, Asesmen Formatif Masih Perlu Diperkuat

Created by AI

FORMOSA NEWS - DENPASAR – Penerapan Standar Proses Pembelajaran di sekolah dasar inklusif ternyata telah menunjukkan kemajuan dalam aspek perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Namun, praktik asesmen yang menjadi dasar pengembangan pembelajaran masih didominasi evaluasi akhir (sumatif) dan belum sepenuhnya mendukung pembelajaran yang terdiferensiasi. Temuan tersebut diungkap oleh Kadek Lisda Agistia Wiharta Pratiwi, bersama Ni Luh Kade Wahyu Pramacintya Putri, Ni Wayan Rati, dan I Wayan Lasmawan dari Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melalui penelitian yang dipublikasikan pada International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS) Vol. 4 No. 4 Tahun 2026.

Penelitian dilakukan di SDK Harapan Denpasar, sebuah sekolah dasar swasta inklusif di Bali yang melayani siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus dalam kelas yang sama. Hasil penelitian menjadi penting karena memberikan gambaran nyata bagaimana implementasi Standar Proses Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka dijalankan di ruang kelas, sekaligus menunjukkan tantangan yang masih dihadapi sekolah inklusif dalam mewujudkan pembelajaran yang benar-benar adaptif bagi seluruh peserta didik.

Pendidikan dasar merupakan fondasi utama pembentukan kemampuan akademik, karakter, dan keterampilan sosial anak. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan Standar Proses Pembelajaran sebagai salah satu Standar Nasional Pendidikan yang mengatur bagaimana guru merencanakan, melaksanakan, menilai, dan mengawasi proses pembelajaran.

Dalam Kurikulum Merdeka, proses pembelajaran tidak hanya menekankan penyampaian materi, tetapi juga mengharuskan guru memahami kebutuhan setiap peserta didik melalui asesmen diagnostik, asesmen formatif, dan asesmen sumatif. Ketiga jenis asesmen tersebut diharapkan menjadi satu siklus berkelanjutan agar pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa, terutama di sekolah inklusif.

Untuk melihat bagaimana kebijakan tersebut diterapkan di lapangan, tim peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung di kelas, wawancara semi-terstruktur dengan guru, serta analisis dokumen pembelajaran seperti modul ajar dan perangkat pembelajaran. Seluruh data kemudian dianalisis secara interaktif untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai proses pembelajaran di sekolah.

Perencanaan Pembelajaran Sudah Selaras dengan Kurikulum Merdeka

Penelitian menunjukkan bahwa guru di SDK Harapan Denpasar telah menyusun pembelajaran berdasarkan keterkaitan yang jelas antara Tujuan Pembelajaran (TP) dan Capaian Pembelajaran (CP) sesuai Kurikulum Merdeka.

Guru juga memilih model pembelajaran secara fleksibel sesuai karakter materi. Salah satu model yang paling sering digunakan adalah Problem-Based Learning (PBL), khususnya pada materi yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Namun, model tersebut tidak diterapkan secara kaku sehingga guru tetap menggunakan pendekatan lain apabila dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

Perencanaan pembelajaran juga mempertimbangkan tahap perkembangan kognitif anak usia sekolah dasar. Guru memanfaatkan media konkret seperti benda nyata, alat peraga, animasi, hingga simulasi digital agar konsep yang abstrak menjadi lebih mudah dipahami siswa.

Bagi peserta didik berkebutuhan khusus, guru telah menerapkan pembelajaran terdiferensiasi melalui penyesuaian tugas dan aktivitas belajar. Meskipun demikian, penyesuaian tersebut masih dilakukan secara informal dan belum dituangkan dalam dokumen pembelajaran individual.

Pelaksanaan Pembelajaran Berjalan Inklusif dan Adaptif

Observasi di kelas memperlihatkan bahwa pelaksanaan pembelajaran berlangsung sesuai tahapan pembelajaran yang terdiri atas kegiatan pembukaan, inti, dan penutup.

Pada tahap awal, guru membuka pembelajaran dengan salam, doa, presensi, serta menghubungkan materi sebelumnya dengan topik yang akan dipelajari. Selama proses pembelajaran berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator yang aktif membimbing siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kontekstual melalui diskusi kelompok maupun aktivitas individu.

Media digital dimanfaatkan secara konsisten untuk memperjelas konsep pembelajaran dan dipadukan dengan penggunaan media konkret. Guru juga melakukan berbagai strategi sederhana seperti menayangkan video singkat atau kegiatan penyegar ketika konsentrasi siswa mulai menurun.

Salah satu temuan menarik adalah pelaksanaan pembelajaran inklusif tetap dapat berjalan meskipun sekolah belum memiliki shadow teacher khusus. Pendampingan siswa berkebutuhan khusus dilakukan melalui kerja sama antara guru kelas dan guru pendamping umum dengan menerapkan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.

Menurut peneliti, kondisi tersebut menunjukkan komitmen guru dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif meskipun masih menghadapi keterbatasan sumber daya.

Asesmen Menjadi Bagian yang Masih Perlu Ditingkatkan

Di antara seluruh komponen Standar Proses Pembelajaran, aspek asesmen menjadi temuan yang paling menonjol.

Penelitian menemukan bahwa guru masih lebih banyak menggunakan asesmen sumatif, seperti ulangan dan tugas akhir, untuk menentukan nilai rapor. Sementara itu, asesmen diagnostik yang seharusnya dilakukan sebelum pembelajaran dan asesmen formatif selama proses belajar belum dilaksanakan secara sistematis.

Guru memang memberikan umpan balik secara langsung ketika siswa mengalami kesulitan belajar. Namun, proses tersebut belum didokumentasikan menggunakan rubrik, lembar observasi, atau instrumen penilaian lain yang memungkinkan perkembangan setiap siswa dipantau secara berkelanjutan.

Hal serupa juga terjadi pada peserta didik berkebutuhan khusus. Penyesuaian tingkat kesulitan tugas telah dilakukan, tetapi belum didukung oleh dokumen asesmen individual yang dapat menjadi dasar perencanaan pembelajaran berikutnya.

Tim peneliti menilai bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan kurangnya perhatian guru terhadap siswa, melainkan karena belum tersedianya sistem asesmen yang praktis dan mudah diterapkan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka tidak cukup hanya diukur dari kemampuan guru menyusun modul ajar atau menggunakan model pembelajaran inovatif. Keberhasilan juga sangat bergantung pada kemampuan sekolah membangun sistem asesmen yang mampu memotret perkembangan setiap peserta didik secara berkelanjutan.

Bagi sekolah inklusif, asesmen diagnostik dan formatif memiliki peran yang jauh lebih penting karena menjadi dasar penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan individu siswa. Tanpa data asesmen yang terdokumentasi dengan baik, guru berisiko memberikan tugas yang terlalu mudah atau justru terlalu sulit bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Peneliti dari Universitas Pendidikan Ganesha merekomendasikan agar sekolah mulai mengembangkan instrumen asesmen sederhana seperti daftar cek observasi, rubrik penilaian singkat, maupun pertanyaan diagnostik pada awal pembelajaran. Selain itu, pelatihan guru mengenai asesmen formatif dan penyediaan template bersama dinilai dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif.

Temuan ini memberikan masukan penting bagi sekolah, guru, pemerintah, maupun penyusun kebijakan pendidikan dalam memperkuat implementasi Standar Proses Pembelajaran di era Kurikulum Merdeka, khususnya pada sekolah dasar yang menerapkan pendidikan inklusif.

Profil Penulis

Kadek Lisda Agistia Wiharta Pratiwi merupakan mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Dasar Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Penelitian ini disusun bersama Ni Luh Kade Wahyu Pramacintya Putri, S.Pd., M.Pd., Dr. Ni Wayan Rati, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd. yang memiliki keahlian di bidang pendidikan dasar, pengembangan pembelajaran, kurikulum, serta evaluasi pendidikan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Implementation of the Learning Process Standard at the Elementary School Level: A Qualitative Case Study of Planning, Implementation, and Assessment Practices at SDK Harapan Denpasar

Penulis: Kadek Lisda Agistia Wiharta Pratiwi, Ni Luh Kade Wahyu Pramacintya Putri, Ni Wayan Rati, dan I Wayan Lasmawan

Jurnal: International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS), Vol. 4 No. 4, 2026.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijeps.v4i4.25

URL Jurnal: https://journalijeps.my.id/index.php/ijeps

Posting Komentar

0 Komentar