Pengaruh Keseimbangan Kerja dan Kehidupan, Kepemimpinan, dan Motivasi terhadap Peningkatan Kinerja Karyawan di Rumah Sakit Doris Sylvanus di Kalimantan Tengah

Gambar Ilustrasi AI

Motivasi Jadi Faktor Terkuat Tingkatkan Kinerja Pegawai RSUD Doris Sylvanus Kalimantan Tengah

Motivasi kerja menjadi faktor paling dominan dalam meningkatkan kinerja pegawai di RSUD dr. Doris Sylvanus Kalimantan Tengah, berdasarkan penelitian yang dilakukan Rita Yuanita Toendan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) Volume 4 Nomor 5 Tahun 2026 ini menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance), kepemimpinan, dan motivasi kerja sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai, dengan motivasi sebagai faktor yang memberikan pengaruh terbesar. Temuan ini menjadi penting karena memberikan dasar ilmiah bagi rumah sakit dan organisasi pelayanan kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan melalui pengelolaan sumber daya manusia yang lebih efektif.

Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, rumah sakit menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memberikan pelayanan yang cepat dan profesional, tetapi juga harus mampu bekerja dalam tekanan tinggi, menghadapi jadwal kerja bergilir, serta menjaga kualitas pelayanan kepada pasien selama 24 jam.

Dalam kondisi tersebut, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan organisasi. Selain kompetensi teknis, kondisi psikologis pegawai, kualitas kepemimpinan, serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin diakui sebagai faktor penting yang memengaruhi produktivitas dan mutu pelayanan rumah sakit.

Rumah Sakit Membutuhkan Strategi Pengelolaan SDM yang Lebih Baik

RSUD dr. Doris Sylvanus merupakan salah satu rumah sakit rujukan utama di Provinsi Kalimantan Tengah. Sebagai rumah sakit pemerintah yang melayani masyarakat dalam berbagai jenis layanan kesehatan, institusi ini membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja secara profesional, disiplin, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Melihat pentingnya aspek tersebut, Rita Yuanita Toendan meneliti bagaimana work-life balance, kepemimpinan, dan motivasi kerja memengaruhi kinerja pegawai rumah sakit.

Survei Melibatkan 96 Pegawai Rumah Sakit

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 96 pegawai RSUD dr. Doris Sylvanus yang berasal dari berbagai unit kerja, termasuk tenaga kesehatan, tenaga administrasi, dan pegawai pendukung pelayanan.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala penilaian lima poin, kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 25. Sebelum analisis dilakukan, seluruh instrumen penelitian telah melalui pengujian validitas, reliabilitas, normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas sehingga hasil penelitian dinilai layak dan dapat dipercaya.

Motivasi Memberikan Pengaruh Terbesar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel yang diteliti sama-sama meningkatkan kinerja pegawai secara signifikan.

Namun, motivasi kerja menjadi faktor yang paling dominan.

Temuan utama penelitian meliputi:

  • Motivasi kerja memiliki pengaruh terbesar terhadap kinerja pegawai dengan koefisien standar 0,381.
  • Kepemimpinan berada pada posisi kedua dengan koefisien 0,337.
  • Work-life balance memberikan pengaruh positif dengan koefisien 0,291.
  • Ketiga faktor tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan 71,2 persen variasi kinerja pegawai.
  • Sisanya 28,8 persen dipengaruhi faktor lain seperti kompensasi, budaya organisasi, beban kerja, kepuasan kerja, pengembangan karier, serta kompetensi pegawai.

Hasil uji statistik juga menunjukkan seluruh variabel memiliki nilai signifikansi di bawah 0,05, yang berarti ketiganya terbukti memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan kinerja pegawai rumah sakit.

Motivasi Mendorong Pelayanan yang Lebih Baik

Penelitian menemukan bahwa pegawai yang memiliki motivasi tinggi cenderung bekerja lebih disiplin, bertanggung jawab, memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi, serta mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pasien.

Dalam lingkungan rumah sakit, motivasi menjadi sangat penting karena pegawai harus bekerja secara teliti, profesional, dan tetap menjaga kualitas pelayanan meskipun menghadapi tekanan pekerjaan yang tinggi.

Motivasi dapat ditingkatkan melalui berbagai cara, seperti pemberian penghargaan atas prestasi kerja, kesempatan promosi, pengembangan karier, pelatihan profesional, serta dukungan dari pimpinan.

Selain motivasi, kepemimpinan juga terbukti berperan besar dalam meningkatkan kinerja. Pemimpin yang mampu berkomunikasi secara efektif, memberikan arahan yang jelas, bersikap adil, dan memberikan dukungan kepada pegawai akan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan meningkatkan semangat kerja.

Sementara itu, work-life balance membantu pegawai menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pegawai yang memiliki waktu istirahat yang cukup serta dapat memenuhi kebutuhan keluarga cenderung memiliki kondisi emosional yang lebih stabil, tingkat stres yang lebih rendah, dan produktivitas yang lebih tinggi.

Rekomendasi untuk Manajemen Rumah Sakit

Berdasarkan hasil penelitian, Rita Yuanita Toendan memberikan sejumlah rekomendasi bagi pengelola rumah sakit, di antaranya:

  • memperbaiki sistem penjadwalan kerja agar lebih mendukung keseimbangan kehidupan kerja pegawai;
  • menyusun jadwal shift yang mempertimbangkan tingkat kelelahan dan tanggung jawab keluarga;
  • meningkatkan kualitas kepemimpinan melalui komunikasi yang terbuka, adil, dan suportif;
  • memperkuat program motivasi melalui penghargaan, promosi, pengembangan karier, dan pelatihan profesional;
  • melakukan evaluasi kinerja pegawai secara berkala menggunakan indikator yang terukur;
  • memperkuat program kesejahteraan pegawai untuk mengurangi stres dan kelelahan kerja (burnout);
  • menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan bagi kepala unit dan supervisor;
  • membangun budaya organisasi yang mendukung kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan pelayanan yang berorientasi pada pasien.

Rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja pegawai rumah sakit memerlukan strategi yang terpadu. Perbaikan tidak cukup dilakukan pada satu aspek saja, tetapi harus mengombinasikan keseimbangan kerja, kepemimpinan yang efektif, dan motivasi yang kuat.

Perspektif Penulis

Menurut Rita Yuanita Toendan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya, peningkatan kinerja pegawai di RSUD dr. Doris Sylvanus tidak dapat dicapai hanya melalui satu faktor. Penelitian ini menegaskan bahwa motivasi merupakan faktor yang paling dominan, sementara work-life balance dan kepemimpinan saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, meningkatkan komitmen pegawai, serta mendukung kualitas pelayanan rumah sakit secara berkelanjutan.

Dampak bagi Dunia Kesehatan

Temuan penelitian ini memiliki implikasi yang luas bagi rumah sakit pemerintah maupun swasta di Indonesia. Investasi pada kesejahteraan pegawai, pengembangan kepemimpinan, dan peningkatan motivasi terbukti menjadi strategi penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Selain itu, hasil penelitian juga dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumber daya manusia di sektor kesehatan. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja serta memberikan ruang bagi pengembangan karier dan penghargaan terhadap prestasi, rumah sakit memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas pegawai, mempertahankan tenaga kesehatan yang berkualitas, dan memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada masyarakat.

Profil Penulis

Rita Yuanita Toendan, S.E., M.M. merupakan akademisi dan peneliti pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya. Bidang keahliannya meliputi manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, kepemimpinan, motivasi kerja, manajemen sektor publik, serta peningkatan kinerja organisasi, dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia di sektor pelayanan kesehatan.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar