Pendekatan Sosiopragmatik Dinilai Efektif Membentuk Karakter Siswa Sekolah Dasar melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia


Gambar dibuat oleh AI

SUKOHARJO – Pendekatan sosiopragmatik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti mampu membentuk karakter siswa sekolah dasar melalui penggunaan bahasa yang santun, empatik, dan menghargai orang lain. Temuan ini dipublikasikan oleh Siti Aminah,  Farida Nugrahani, dan Suwarto dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo dalam penelitian yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Applied Educational Research (IJAER). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa cara guru berkomunikasi di kelas memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan karakter siswa, terutama dalam aspek kesantunan berbahasa, empati, rasa hormat, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama.

Pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama sistem pendidikan Indonesia. Kebijakan terbaru melalui Profil Lulusan dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 menempatkan penguatan karakter sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Di sisi lain, pembelajaran Bahasa Indonesia selama ini masih sering berorientasi pada penguasaan tata bahasa, membaca, dan menulis, sementara aspek penggunaan bahasa dalam kehidupan sosial sehari-hari belum memperoleh perhatian yang seimbang.

Padahal, bahasa bukan sekadar alat menyampaikan informasi. Cara seseorang berbicara mencerminkan sikap, nilai, dan penghargaan terhadap orang lain. Karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai media untuk menanamkan karakter positif sejak usia sekolah dasar.

Menurut tim peneliti Universitas Veteran Bangun Nusantara, pendekatan sosiopragmatik menawarkan solusi yang relevan. Pendekatan ini menempatkan bahasa dalam konteks sosial sehingga siswa tidak hanya belajar memilih kata yang benar secara tata bahasa, tetapi juga memahami kapan, kepada siapa, dan bagaimana suatu tuturan sebaiknya disampaikan secara santun.

Mengamati Interaksi Guru dan Siswa di Kelas

Penelitian dilakukan di SD Negeri 03 Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada semester pertama tahun ajaran 2025/2026.

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengamati secara langsung proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara semi-terstruktur, rekaman proses pembelajaran, serta dokumentasi pembelajaran.

Penelitian melibatkan seorang guru kelas V sebagai informan utama dan 22 siswa kelas V sebagai partisipan pendukung. Seluruh interaksi di kelas dianalisis untuk melihat bagaimana strategi berbahasa guru memengaruhi perilaku komunikasi siswa selama proses belajar berlangsung.

Bahasa Guru Menjadi Teladan bagi Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru secara konsisten menggunakan strategi komunikasi yang santun dalam berbagai situasi pembelajaran.

Saat membuka pelajaran, guru menggunakan sapaan yang hangat dan mengajak siswa belajar tanpa tekanan. Ketika memberikan instruksi, guru memilih kalimat permintaan yang halus dibandingkan perintah langsung. Saat siswa melakukan kesalahan, guru tidak menggunakan kata-kata yang menghakimi, melainkan memberikan dorongan agar siswa mencoba kembali dengan tenang.

Strategi komunikasi tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih nyaman, terbuka, dan mendorong siswa berani menyampaikan pendapat.

Peneliti menemukan bahwa penggunaan bahasa yang santun oleh guru secara bertahap ditiru oleh siswa ketika berinteraksi dengan guru maupun teman sekelas. Dengan kata lain, karakter tidak hanya diajarkan melalui materi pelajaran, tetapi juga dibentuk melalui contoh nyata dalam komunikasi sehari-hari di kelas.

Delapan Karakter Positif Berkembang Melalui Komunikasi

Penelitian ini mengidentifikasi sedikitnya delapan karakter yang berkembang melalui penerapan pendekatan sosiopragmatik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Karakter tersebut meliputi:

  • kesantunan berbahasa;
  • empati terhadap teman;
  • rasa hormat kepada guru dan sesama siswa;
  • kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat;
  • tanggung jawab terhadap tugas;
  • kemampuan bekerja sama;
  • toleransi terhadap perbedaan pendapat; serta
  • kepedulian sosial.

Pengamatan di kelas menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih terbiasa menunggu giliran berbicara, mendengarkan pendapat teman, menggunakan ungkapan yang sopan, serta membantu teman yang mengalami kesulitan belajar.

Menurut peneliti, perubahan tersebut terjadi karena siswa terus-menerus memperoleh contoh penggunaan bahasa yang menghargai orang lain dalam setiap aktivitas pembelajaran.

Guru Berperan sebagai Model Karakter

Salah satu temuan penting penelitian adalah bahwa guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai model komunikasi yang menjadi acuan bagi siswa.

Dalam wawancara, guru menjelaskan bahwa setiap kalimat yang digunakan di kelas dipilih secara sadar agar tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mengajarkan cara berkomunikasi yang baik.

Guru lebih memilih memberikan arahan secara halus daripada memerintah secara langsung. Pendekatan tersebut membuat siswa merasa dihargai sehingga lebih mudah menerima arahan tanpa merasa dipaksa.

Menurut tim peneliti, strategi semacam ini membantu membangun hubungan yang lebih positif antara guru dan siswa sekaligus memperkuat pembentukan karakter secara berkelanjutan.

Mendukung Implementasi Deep Learning

Temuan penelitian juga dinilai sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pendekatan Deep Learning.

Pembelajaran yang bermakna tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kemampuan sosial, komunikasi, dan karakter peserta didik.

Pendekatan sosiopragmatik dinilai mampu menjadi salah satu strategi pembelajaran yang mendukung implementasi Profil Lulusan karena menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual melalui interaksi nyata di kelas.

Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak lagi sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berbicara, tetapi juga membiasakan siswa menerapkan nilai-nilai kesopanan, empati, toleransi, serta penghargaan terhadap orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Implikasi bagi Dunia Pendidikan

Penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi bagi sekolah dan para pemangku kepentingan pendidikan.

Guru disarankan untuk secara konsisten menerapkan strategi komunikasi yang santun dalam setiap proses pembelajaran. Sekolah juga perlu membangun budaya komunikasi yang menghargai peserta didik agar pembentukan karakter berlangsung secara alami melalui interaksi sehari-hari.

Selain itu, lembaga pendidikan guru dan pengembang kurikulum diharapkan memberikan perhatian lebih besar terhadap kompetensi pragmatik guru, sehingga kemampuan berbahasa tidak hanya dinilai dari aspek linguistik, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan sosial yang positif di ruang kelas.

Tim peneliti juga mendorong penelitian lanjutan mengenai penerapan pendekatan sosiopragmatik di berbagai jenjang pendidikan, termasuk integrasinya dengan teknologi digital dan pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk memperkuat pendidikan karakter di Indonesia.

Pernyataan Peneliti

Menurut Siti Aminah, Farida Nugrahani, dan Suwarto dari Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, pembentukan karakter tidak harus dilakukan melalui pembelajaran moral yang bersifat eksplisit. Penggunaan bahasa yang santun, menghargai siswa, serta komunikasi yang penuh empati dalam proses pembelajaran terbukti mampu membangun karakter peserta didik secara bertahap melalui kebiasaan berinteraksi setiap hari di kelas.

Profil Penulis

Siti Aminah. merupakan peneliti dari Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo yang memiliki minat penelitian pada pembelajaran Bahasa Indonesia, pragmatik, sosiopragmatik, dan pendidikan karakter di sekolah dasar.

Farida Nugrahani adalah guru besar dan dosen di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dengan bidang keahlian penelitian bahasa, sastra, pragmatik, metodologi penelitian kualitatif, serta pendidikan karakter.

Suwarto merupakan dosen dan peneliti di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo yang menekuni bidang pendidikan dasar, pembelajaran, pengembangan kurikulum, dan evaluasi pendidikan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Role of Sociopragmatics in Indonesian Language Learning for Shaping the Character of Elementary School Students
Penulis: Siti Aminah, Farida Nugrahani, Suwarto
Afiliasi: Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, Indonesia
Jurnal: International Journal of Applied Educational Research (IJAER), Vol. 4 No. 3, 2026, hlm. 189–206
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i3.8

Posting Komentar

0 Komentar