Pelatihan dan Budaya Keselamatan Terbukti Jadi Kunci Meningkatkan Kinerja K3 Pekerja

Ilustrasi by AI

Samarinda – Pelatihan keselamatan kerja dan komunikasi keselamatan belum tentu langsung meningkatkan kinerja keselamatan karyawan. Sebaliknya, keberhasilan keduanya sangat bergantung pada terbentuknya budaya keselamatan yang kuat di dalam organisasi. Temuan tersebut diungkap oleh Dwi Furi Oktaviani, Zainal Ilmi, dan Doddy Adhimursandi dari Universitas Mulawarman melalui penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Studi ini memberikan bukti bahwa budaya keselamatan (Safety Culture) merupakan faktor utama yang menghubungkan berbagai program keselamatan perusahaan dengan perilaku kerja yang aman di lapangan.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam industri berisiko tinggi, terutama sektor manufaktur peralatan minyak dan gas. Perusahaan tidak hanya dituntut mencapai target produksi, tetapi juga harus memastikan seluruh pekerja dapat menjalankan aktivitas secara aman tanpa mengalami kecelakaan kerja. Karena itu, berbagai perusahaan terus mengembangkan pelatihan keselamatan, komunikasi risiko, hingga penguatan budaya keselamatan sebagai bagian dari strategi operasional.

Penelitian ini berangkat dari kondisi nyata yang terjadi di PT Sagatrade Murni Samarinda, sebuah perusahaan manufaktur peralatan industri migas di Kalimantan Timur. Data perusahaan menunjukkan bahwa jumlah Lost Time Injury (LTI) dan Lost Workday Case (LWC) mengalami fluktuasi selama periode 2021–2023. Pada tahun 2021 masing-masing tercatat enam kasus, kemudian turun menjadi nol kasus pada tahun 2022 setelah perusahaan memperkuat program keselamatan. Namun, pada tahun 2023 angka tersebut kembali meningkat menjadi tiga kasus. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan program keselamatan saja belum cukup menjamin terciptanya perilaku kerja yang aman secara berkelanjutan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Dwi Furi Oktaviani bersama tim meneliti 160 karyawan operasional PT Sagatrade Murni yang bekerja pada bagian produksi, quality control, gudang, logistik, dan Health, Safety and Environment (HSE). Seluruh responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria telah bekerja minimal satu tahun dan terlibat langsung pada aktivitas berisiko tinggi. Pengumpulan data dilakukan pada Januari hingga Mei 2026, kemudian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui aplikasi SmartPLS.

Karakteristik responden menunjukkan bahwa 92,5 persen merupakan laki-laki. Kelompok usia terbesar berada pada rentang 25–29 tahun sebanyak 35,63 persen, sedangkan sebagian besar memiliki pendidikan SMA atau SMK sebesar 71,88 persen. Mayoritas responden juga bekerja pada departemen produksi yang memang memiliki tingkat risiko keselamatan paling tinggi dalam proses operasional perusahaan.

Analisis deskriptif memperlihatkan bahwa seluruh variabel penelitian memperoleh penilaian tinggi dari responden. Safety Training memperoleh skor rata-rata 4,26, Safety Communication sebesar 4,19, Safety Culture sebesar 4,21, dan Safety Performance sebesar 4,17. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan telah memiliki sistem pelatihan, komunikasi, budaya keselamatan, dan perilaku kerja aman yang relatif baik menurut persepsi para pekerja.

Namun, hasil pengujian hubungan antarvariabel memberikan temuan yang lebih menarik. Penelitian membuktikan bahwa Safety Training berpengaruh positif dan signifikan terhadap Safety Culture dengan koefisien jalur sebesar 0,440. Hal serupa juga terjadi pada Safety Communication yang berpengaruh positif terhadap Safety Culture dengan koefisien 0,496. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik kualitas pelatihan maupun komunikasi keselamatan, semakin kuat pula budaya keselamatan yang berkembang di dalam perusahaan.

Selanjutnya, Safety Culture terbukti memiliki pengaruh paling besar terhadap Safety Performance dengan koefisien 0,677. Artinya, budaya keselamatan yang telah tertanam dalam perilaku sehari-hari pekerja menjadi faktor utama yang menentukan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, penggunaan alat pelindung diri, pelaporan bahaya, hingga partisipasi aktif dalam menjaga keselamatan kerja.

Sebaliknya, penelitian ini menemukan bahwa Safety Training maupun Safety Communication tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap Safety Performance. Koefisien pengaruh langsung pelatihan keselamatan terhadap kinerja keselamatan bahkan bernilai -0,070, sedangkan komunikasi keselamatan hanya mencapai 0,122 dan keduanya tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan maupun komunikasi tidak otomatis menghasilkan perilaku kerja yang aman apabila belum berhasil membentuk budaya keselamatan di lingkungan kerja.

Analisis mediasi memperkuat kesimpulan tersebut. Safety Culture terbukti memediasi secara penuh hubungan antara Safety Training dengan Safety Performance maupun hubungan antara Safety Communication dengan Safety Performance. Dengan kata lain, pelatihan keselamatan dan komunikasi keselamatan baru akan memberikan dampak nyata terhadap perilaku kerja aman apabila nilai-nilai keselamatan telah menjadi bagian dari budaya organisasi dan diinternalisasi oleh seluruh pekerja.

Menurut Dwi Furi Oktaviani bersama tim dari Universitas Mulawarman, perusahaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan pelatihan atau penyampaian informasi keselamatan secara rutin. Program tersebut harus dibangun menjadi budaya organisasi melalui keterlibatan pimpinan, komunikasi dua arah, evaluasi terhadap insiden, pelaporan near miss, pemberian penghargaan atas perilaku aman, serta pengawasan langsung di lapangan. Ketika budaya keselamatan telah tertanam sebagai nilai bersama, pekerja akan lebih sadar terhadap risiko dan secara sukarela menjalankan prosedur keselamatan tanpa harus selalu diawasi.

Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi berbagai perusahaan dengan tingkat risiko kerja tinggi. Investasi pada pelatihan dan komunikasi keselamatan memang tetap diperlukan, tetapi keberhasilan keduanya sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi membangun budaya keselamatan yang kuat. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengintegrasikan seluruh program K3 ke dalam budaya kerja sehari-hari agar keselamatan tidak hanya menjadi aturan administratif, melainkan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh pekerja.

Temuan ini juga memperkuat pandangan bahwa keberhasilan sistem keselamatan kerja tidak hanya bergantung pada prosedur teknis, tetapi juga pada perilaku manusia. Budaya keselamatan yang kuat mampu menjembatani berbagai program organisasi menjadi tindakan nyata di tempat kerja, sehingga dapat menurunkan risiko kecelakaan, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan.

Profil Penulis

Dwi Furi Oktaviani
Universitas Mulawarman

Zainal Ilmi
Universitas Mulawarman

Doddy Adhimursandi
Universitas Mulawarman

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Safety Training and Safety Communication on Safety Performance: The Mediating Role of Safety Culture

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i7.97

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr


Posting Komentar

0 Komentar