Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Berastagi - Petani hortikultura kini memiliki alternatif pengganti mulsa plastik yang lebih ramah lingkungan. Penelitian yang dilakukan Theo Nicodemus Tarigan, S.P., bersama Chaula Lutfia Saragih dan Agus Susanto Ginting dari Universitas Quality Berastagi menunjukkan bahwa lembaran mulsa organik berbahan pelepah pisang dan eceng gondok mampu menekan pertumbuhan gulma secara efektif pada budidaya sawi caisim (Brassica juncea L.). Penelitian yang dilaksanakan pada September 2025 hingga Maret 2026 di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ini menawarkan solusi yang memanfaatkan limbah organik lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada mulsa plastik.

Penggunaan mulsa plastik memang telah lama menjadi pilihan utama dalam budidaya sayuran karena praktis dan tahan lama. Namun, limbah plastik yang sulit terurai menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan. Residu plastik dapat mencemari tanah, mengganggu aktivitas mikroorganisme, dan membutuhkan biaya tinggi dalam proses pengelolaannya.

Sebaliknya, mulsa organik berasal dari bahan alami yang dapat terurai secara biologis sehingga lebih aman bagi lingkungan. Selain menjaga kelembapan tanah, mulsa organik juga membantu mengurangi penguapan air, memperbaiki struktur tanah, serta menambah kandungan bahan organik setelah mengalami dekomposisi.

Melihat potensi tersebut, tim peneliti Universitas Quality Berastagi memanfaatkan dua bahan yang melimpah di Kabupaten Karo, yaitu pelepah pisang (Musa sp.) dan eceng gondok (Eichhornia crassipes). Eceng gondok selama ini dikenal sebagai gulma perairan yang sering mengganggu ekosistem sungai dan danau, sedangkan pelepah pisang merupakan limbah pertanian yang umumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Keduanya kemudian diolah menjadi Organic Mulch Sheet (OMS) atau lembaran mulsa organik.

Menguji Mulsa Organik di Lahan Pertanian

Penelitian dilakukan menggunakan rancangan percobaan dengan empat perlakuan, yaitu:

  • Tanpa mulsa (kontrol)
  • Mulsa pelepah pisang
  • Mulsa eceng gondok
  • Mulsa campuran pelepah pisang dan eceng gondok dengan komposisi 1:1

Seluruh perlakuan diterapkan pada budidaya sawi caisim di lahan pertanian Desa Barusjahe, Kabupaten Karo, yang berada pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Peneliti mengamati karakteristik fisik mulsa, tingkat kerusakan selama penggunaan, kemampuan menutup permukaan tanah, jumlah gulma, berat gulma, hingga hasil panen sawi.

Selain pengujian di lapangan, setiap jenis mulsa juga diuji menggunakan Universal Testing Machine (UTM) di Laboratorium Fakultas Teknik Industri Universitas Sumatera Utara untuk mengetahui kekuatan tarik, tingkat elastisitas, dan ketahanan material sebelum digunakan di lahan pertanian. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kombinasi dua bahan menghasilkan karakteristik mekanik yang lebih seimbang dibandingkan penggunaan satu bahan saja.

Campuran Dua Bahan Memberikan Hasil Terbaik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa campuran pelepah pisang dan eceng gondok menjadi perlakuan paling efektif.

Beberapa temuan penting penelitian meliputi:

  • Memiliki kekuatan tarik 0,9761 MPa.
  • Memiliki modulus Young 15,7532 MPa, menunjukkan struktur yang cukup kuat.
  • Tingkat kerusakan paling rendah selama penggunaan, yaitu 45%.
  • Efektivitas penutupan tanah mencapai 80%, tertinggi dibanding perlakuan lainnya.
  • Menghasilkan jumlah gulma paling sedikit, yaitu 28,33 individu.
  • Berat gulma hanya 6,33 gram, jauh lebih rendah dibanding lahan tanpa mulsa.

Sebaliknya, lahan tanpa mulsa menghasilkan sekitar 140,67 gulma, sedangkan mulsa pelepah pisang maupun eceng gondok tunggal masih menghasilkan sekitar 44–46 gulma. Hasil ini menunjukkan bahwa struktur campuran kedua bahan mampu menghalangi masuknya cahaya ke permukaan tanah sehingga perkecambahan gulma menjadi jauh lebih terbatas.

Analisis statistik juga memperlihatkan bahwa penggunaan mulsa memberikan pengaruh nyata terhadap berat gulma. Perlakuan tanpa mulsa menghasilkan berat gulma sekitar 183,33 gram, sedangkan seluruh perlakuan mulsa mampu menurunkannya secara signifikan.

Tidak Langsung Meningkatkan Hasil Panen

Menariknya, meskipun mulsa organik sangat efektif mengendalikan gulma, penelitian ini menemukan bahwa perbedaan jenis mulsa belum memberikan pengaruh nyata terhadap berat tanaman sawi caisim.

Menurut peneliti, hasil panen tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan gulma, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti ketersediaan unsur hara, kelembapan tanah, suhu, hingga proses dekomposisi bahan organik. Pada tahap awal, dekomposisi mulsa bahkan dapat menyebabkan sebagian nitrogen di tanah digunakan oleh mikroorganisme sehingga belum sepenuhnya tersedia bagi tanaman.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengendalian gulma memang penting, tetapi peningkatan produktivitas tanaman memerlukan pengelolaan budidaya yang lebih menyeluruh.

Solusi Ramah Lingkungan bagi Pertanian Berkelanjutan

Penelitian ini memperlihatkan bahwa limbah organik lokal dapat diubah menjadi produk pertanian yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat lingkungan.

Pemanfaatan pelepah pisang dan eceng gondok tidak hanya mengurangi limbah biomassa, tetapi juga membantu mengurangi penggunaan mulsa plastik yang selama ini menjadi sumber pencemaran tanah. Bagi petani hortikultura, penggunaan mulsa organik berpotensi menekan biaya pengendalian gulma sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

Tim peneliti juga merekomendasikan pengembangan lebih lanjut terhadap teknologi mulsa organik ini, terutama dengan meningkatkan ketebalan lembaran mulsa agar lebih tahan terhadap hujan serta melakukan pengujian dalam lebih dari satu musim tanam untuk mengetahui dampaknya terhadap kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Theo Nicodemus Tarigan dan tim dari Universitas Quality Berastagi menegaskan bahwa campuran 50% pelepah pisang dan 50% eceng gondok merupakan komposisi paling seimbang karena mampu menghasilkan kekuatan mekanik yang baik, daya tahan lebih tinggi di lapangan, serta efektivitas terbaik dalam menekan pertumbuhan gulma.

Profil Penulis

Theo Nicodemus Tarigan merupakan peneliti dari Universitas Quality Berastagi yang berfokus pada bidang budidaya tanaman, teknologi pertanian, dan pemanfaatan limbah organik untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian ini juga melibatkan Chaula Lutfia Saragih dan Agus Susanto Ginting, yang berasal dari institusi yang sama.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Characteristics of the Use of Organic Mulch Sheets on Weed Growth in Caisim Mustard (Brassica juncea L.)
Penulis: Theo Nicodemus Tarigan, Chaula Lutfia Saragih, Agus Susanto Ginting
Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)
Volume 5, Nomor 2, Tahun 2026, halaman 215–232