Menjelajahi Etnosains Bola Rago dalam Permainan Tradisional Sepak Rago Tinggi sebagai Sumber Pembelajaran Kimia Kontekstual

Gambar Ilustrasi AI

Permainan Tradisional Sepak Rago Tinggi Jadi Media Belajar Kimia Berbasis Budaya Melayu

Permainan tradisional Sepak Rago Tinggi dari Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, menyimpan konsep-konsep kimia yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual di sekolah. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dipimpin Rosa Murwindra bersama Faizah, Adanan, Hermandra, dan Elmustian dari Universitas Riau. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) Volume 4 Nomor 5 Tahun 2026 menunjukkan bahwa bola rotan (rago) yang digunakan dalam permainan tradisional tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung pengetahuan ilmiah yang relevan dengan materi kimia modern. Hasil penelitian ini dinilai penting karena membuka peluang mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran sains sekaligus mendukung pelestarian budaya Indonesia.

Di berbagai daerah di Indonesia, banyak tradisi masyarakat berkembang melalui pengalaman turun-temurun tanpa disadari mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Dalam pendidikan modern, pendekatan etnosains semakin mendapat perhatian karena mampu menghubungkan konsep sains dengan budaya lokal sehingga pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis etnosains mampu meningkatkan pemahaman konsep, literasi sains, serta kebanggaan terhadap budaya daerah. Pendekatan ini membuat siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi memahami bagaimana ilmu pengetahuan hadir dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.

Bola Rago Menjadi Objek Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, yang dikenal sebagai salah satu daerah pelestari permainan tradisional Sepak Rago Tinggi.

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif etnografi dengan melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam, serta analisis dokumentasi budaya. Sebanyak 11 informan dilibatkan, terdiri atas tokoh adat, pemain tradisional, guru, dan siswa yang memahami sejarah, proses pembuatan bola rago, serta nilai budaya permainan tersebut.

Data kemudian dianalisis secara bertahap untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan lokal masyarakat dengan konsep-konsep kimia modern.

Bola Rotan Menyimpan Banyak Konsep Kimia

Penelitian menemukan bahwa proses pembuatan bola rago mengandung berbagai konsep ilmu kimia yang selama ini dipraktikkan masyarakat secara empiris.

Peneliti mengidentifikasi enam kelompok konsep kimia yang terdapat pada bola rago, yaitu:

  • komposisi biomaterial berupa selulosa, hemiselulosa, dan lignin;
  • interaksi molekul pada serat rotan;
  • perubahan kimia selama proses pengeringan dan pengasapan;
  • sifat kimia bahan seperti elastisitas dan higroskopisitas;
  • mekanisme perlindungan alami terhadap jamur dan mikroorganisme;
  • proses degradasi biomaterial akibat penggunaan dan lingkungan.

Rotan dipilih masyarakat karena memiliki karakter ringan, lentur, kuat, dan mudah dianyam menjadi bola yang stabil. Secara ilmiah, sifat tersebut berasal dari struktur lignoselulosa yang membentuk jaringan serat alami sehingga mampu memberikan elastisitas sekaligus ketahanan terhadap benturan.

Tradisi Pengasapan Ternyata Memiliki Dasar Ilmiah

Salah satu temuan menarik penelitian adalah praktik pengasapan (salai) yang dilakukan setelah bola selesai dianyam.

Masyarakat Melayu secara turun-temurun meyakini bahwa pengasapan membuat bola lebih awet, tidak mudah berjamur, dan memiliki warna cokelat tua yang lebih menarik.

Analisis ilmiah menunjukkan bahwa proses tersebut memang memicu berbagai perubahan kimia, antara lain:

  • mengurangi kadar air melalui proses penguapan;
  • menghasilkan senyawa fenolik yang bersifat antimikroba;
  • meningkatkan ketahanan rotan terhadap kelembapan;
  • memperlambat proses pembusukan biomaterial;
  • mengubah warna permukaan akibat oksidasi lignin.

Dengan kata lain, praktik tradisional yang diwariskan selama ratusan tahun ternyata memiliki dasar ilmiah yang dapat dijelaskan menggunakan konsep kimia material modern.

Anyaman Bola Mengajarkan Struktur Material

Penelitian juga menemukan bahwa pola anyaman bola rago bukan sekadar estetika.

Susunan anyaman berlapis menciptakan distribusi gaya yang merata ketika bola ditendang sehingga menghasilkan kombinasi antara kekuatan, elastisitas, dan ketahanan terhadap deformasi.

Menurut peneliti, fenomena tersebut berkaitan dengan ikatan hidrogen antarmolekul selulosa serta struktur lignin yang memperkuat jaringan serat rotan.

Konsep hubungan antara struktur material dan sifat mekanik ini merupakan salah satu materi penting dalam pembelajaran kimia modern.

Media Pembelajaran Kimia yang Dekat dengan Kehidupan Siswa

Guru-guru kimia yang menjadi informan penelitian menilai bola rago sangat potensial digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual.

Melalui bola rago, siswa dapat mempelajari berbagai konsep, antara lain:

  • polimer alami;
  • biomaterial lignoselulosa;
  • ikatan hidrogen;
  • perubahan fisika dan kimia;
  • oksidasi;
  • degradasi biomaterial;
  • sifat mekanik material.

Pendekatan tersebut membuat konsep kimia yang selama ini dianggap abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena dikaitkan langsung dengan budaya yang telah dikenal siswa sejak kecil. Selain meningkatkan pemahaman konsep, pembelajaran berbasis budaya lokal juga mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah.

Menjembatani Budaya dan Sains Modern

Menurut tim peneliti dari Universitas Riau, bola rago merupakan contoh nyata bahwa pengetahuan tradisional masyarakat tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, pengalaman empiris masyarakat dalam memilih rotan, mengolah bahan, mengasapi, hingga menguji kualitas bola dapat direkonstruksi menjadi konsep-konsep kimia yang ilmiah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi jembatan antara pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) dan sains modern, sehingga pembelajaran kimia menjadi lebih kontekstual, relevan, dan bermakna bagi peserta didik.

Dampak bagi Pendidikan dan Pelestarian Budaya

Hasil penelitian memiliki implikasi yang luas, tidak hanya bagi dunia pendidikan tetapi juga pelestarian budaya Indonesia.

Bagi sekolah, penelitian ini menawarkan alternatif pembelajaran kimia yang lebih kontekstual, menarik, dan sesuai dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis lingkungan serta budaya lokal.

Bagi masyarakat, dokumentasi ilmiah terhadap proses pembuatan bola rago membantu menjaga pengetahuan tradisional agar tidak hilang akibat modernisasi.

Sementara bagi pemerintah daerah, hasil penelitian dapat menjadi dasar dalam mengembangkan kebijakan pelestarian budaya sekaligus memperkuat integrasi kearifan lokal dalam pendidikan formal.

Perspektif Penulis

Rosa Murwindra dan tim peneliti dari Universitas Riau menyimpulkan bahwa bola rago dalam permainan tradisional Sepak Rago Tinggi bukan hanya artefak budaya, tetapi juga sumber pembelajaran kimia yang kaya akan konsep ilmiah. Pengetahuan masyarakat mengenai pemilihan rotan, pengolahan bahan, pengasapan, hingga teknik anyaman menunjukkan adanya sistem pengetahuan empiris yang memiliki landasan ilmiah kuat dan layak diintegrasikan ke dalam pendidikan kimia berbasis budaya lokal.

Profil Penulis

Rosa Murwindra merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Riau yang menekuni bidang pendidikan kimia, etnosains, etnokimia, pembelajaran kontekstual, serta integrasi kearifan lokal dalam pendidikan sains. Penelitian ini dilakukan bersama Faizah, Adanan, Hermandra, dan Elmustian, yang juga berasal dari Universitas Riau dan memiliki fokus penelitian pada pendidikan, budaya Melayu, serta pengembangan pembelajaran berbasis budaya.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar