Yogyakarta International Airport (YIA) yang terletak di pesisir Kulon Progo memiliki fondasi bangunan yang aman dari terjangan tsunami, namun sistem evakuasi penumpang dan integrasi komunikasi daruratnya masih memerlukan perbaikan besar
Ancaman Megathrust di Pesisir Selatan Jawa
Wilayah pesisir Kulon Progo berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif, tempat bertemunya lempeng Indo-Australia dan Eurasia
Gempa bumi berskala besar tersebut diprediksi dapat memicu gelombang tsunami setinggi 6,5 hingga 7,0 meter di atas permukaan laut, dengan jarak rendaman air mencapai 2 kilometer ke arah daratan
Mengombinasikan Analisis Spasial dan Wawancara Pakar
Guna mengukur kesiapan YIA dalam menghadapi ancaman tersebut, tim peneliti dari Universitas Pertahanan Indonesia menggunakan pendekatan analisis deskriptif yang mendalam
Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan terpadu
- Analisis Geografis dan Spasial: Menggunakan data elevasi digital (DEM) dan teknologi sensor laser (LiDAR) untuk memverifikasi ketinggian riil landasan pacu, apron, dan terminal bandara secara akurat
. - Tinjauan Dokumen Regulasi: Memeriksa keandalan dokumen Rencana Darurat Bandara (AEP) milik PT Angkasa Pura I dan mencocokkannya dengan standar kode bangunan nasional
. - Wawancara Mendalam: Berdiskusi langsung dengan para pemangku kepentingan kunci, termasuk manajemen risiko PT Angkasa Pura I, petugas pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia cabang Yogyakarta, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo
.
Benteng Ketinggian yang Terganjal Waktu Evakuasi
Hasil investigasi para peneliti Universitas Pertahanan Indonesia menunjukkan adanya temuan yang beragam antara kekuatan fisik bangunan dan kesiapan prosedural
Dari sisi konstruksi fisik, YIA terbukti memiliki pertahanan yang sangat baik
Namun, riset ini menemukan titik lemah yang kritis pada manajemen penyelamatan manusia
Masalah lain muncul di sektor komunikasi
Rekomendasi untuk Ketahanan Operasional Bandara
Menyikapi celah tersebut, tim peneliti Universitas Pertahanan Indonesia merumuskan tiga langkah strategis demi meningkatkan keselamatan publik di area bandara
- Simulasi Skala Penuh Secara Rutin: Kewajiban melaksanakan simulasi evakuasi tsunami massal minimal dua kali dalam setahun untuk melatih kecepatan mobilitas penumpang dan menghitung durasi penutupan landasan pacu
. - Redundansi Jaringan Komunikasi: Menginstalasi perangkat komunikasi satelit darurat (seperti teknologi VSAT atau telepon satelit) yang menghubungkan komite darurat YIA, AirNav, dan BPBD Kulon Progo tanpa bergantung pada penyedia seluler publik
. - Standardisasi Komunikasi Risiko: Memasang peta dan rambu evakuasi tsunami multibahasa berbasis standar ISO 22324 di seluruh penjuru terminal untuk mengarahkan pergerakan penumpang secara mandiri dan mencegah kepanikan massal
.
Para peneliti mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, kawasan pesisir Kulon Progo juga menghadapi tantangan penurunan muka tanah alami
Profil Peneliti
Prastomo Ardi Sudaliyo adalah peneliti di bidang manajemen bencana dan ketahanan infrastruktur dari Universitas Pertahanan IndonesiaKusuma merupakan akademisi dan staf pengajar di Universitas Pertahanan Indonesia dengan kepakaran di bidang rekayasa struktural dan analisis risiko bencana pesisir
Bambang Wahyudi adalah pakar sosiologi bencana dan perencanaan darurat dari Universitas Pertahanan Indonesia, yang aktif mengkaji sistem evakuasi massa dan keselamatan logistik bandara
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Tsunami Disaster Mitigation Strategy for Yogyakarta International Airport (YIA)
Nama Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS)
Tahun Publikasi: 2026
Tautan DOI:
0 Komentar