Menguji Ketahanan Tsunami Yogyakarta International Airport: Konstruksi Aman, Namun Evakuasi Perlu Dipercepat


Ilustrasi by AI 

Yogyakarta International Airport (YIA) yang terletak di pesisir Kulon Progo memiliki fondasi bangunan yang aman dari terjangan tsunami, namun sistem evakuasi penumpang dan integrasi komunikasi daruratnya masih memerlukan perbaikan besar. Temuan ini diungkapkan dalam penelitian terbaru oleh Prastomo Ardi Sudaliyo, Kusuma, Bambang Wahyudi, dan Wilopo dari Universitas Pertahanan Indonesia. Studi yang dipublikasikan di Formosa Journal of Social Sciences (FJSS) pada Juni 2026 ini sangat penting bagi ketahanan infrastruktur nasional, mengingat YIA merupakan jalur logistik utama dan pusat bantuan kemanusiaan jika terjadi bencana di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Ancaman Megathrust di Pesisir Selatan Jawa

Wilayah pesisir Kulon Progo berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif, tempat bertemunya lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Berdasarkan permodelan seismik dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kawasan ini menyimpan potensi gempa megathrust dengan kekuatan Magnitudo 8,5 hingga 9,0.

Gempa bumi berskala besar tersebut diprediksi dapat memicu gelombang tsunami setinggi 6,5 hingga 7,0 meter di atas permukaan laut, dengan jarak rendaman air mencapai 2 kilometer ke arah daratan. Hal yang paling krusial adalah waktu tempuh gelombang yang sangat singkat, di mana tsunami diperkirakan dapat mencapai bibir pantai Kulon Progo dalam waktu kurang dari 30 menit setelah gempa terjadi.

Mengombinasikan Analisis Spasial dan Wawancara Pakar

Guna mengukur kesiapan YIA dalam menghadapi ancaman tersebut, tim peneliti dari Universitas Pertahanan Indonesia menggunakan pendekatan analisis deskriptif yang mendalam. Metodologi riset ini dirancang untuk menguji ketahanan bandara melalui tiga pilar utama: keamanan struktural, rencana operasional darurat, dan kesiapan antarinstitusi.

Proses pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan terpadu:

  • Analisis Geografis dan Spasial: Menggunakan data elevasi digital (DEM) dan teknologi sensor laser (LiDAR) untuk memverifikasi ketinggian riil landasan pacu, apron, dan terminal bandara secara akurat.
  • Tinjauan Dokumen Regulasi: Memeriksa keandalan dokumen Rencana Darurat Bandara (AEP) milik PT Angkasa Pura I dan mencocokkannya dengan standar kode bangunan nasional.
  • Wawancara Mendalam: Berdiskusi langsung dengan para pemangku kepentingan kunci, termasuk manajemen risiko PT Angkasa Pura I, petugas pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia cabang Yogyakarta, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo.

Benteng Ketinggian yang Terganjal Waktu Evakuasi

Hasil investigasi para peneliti Universitas Pertahanan Indonesia menunjukkan adanya temuan yang beragam antara kekuatan fisik bangunan dan kesiapan prosedural.

Dari sisi konstruksi fisik, YIA terbukti memiliki pertahanan yang sangat baik. Landasan pacu, apron, dan terminal penumpang sengaja dibangun di atas lahan ter reklamasi yang ditinggikan, dengan rata-rata elevasi mencapai 7,5 meter di atas permukaan laut. Angka ini melampaui prediksi tinggi gelombang tsunami BMKG yang berada di angka 7,0 meter. Selain itu, utilitas penting seperti transformator listrik utama, genset cadangan, dan server komunikasi telah ditempatkan dengan aman di lantai dua dan tiga terminal.

Namun, riset ini menemukan titik lemah yang kritis pada manajemen penyelamatan manusia. Simulasi internal menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menggerakkan ribuan penumpang dari area publik (pintu keberangkatan dan kedatangan) menuju lantai atas gedung parkir sebagai titik evakuasi vertikal mencapai 22 menit. Mengingat Golden Time atau waktu datangnya gelombang tsunami di bawah 30 menit, margin keselamatan yang tersisa hanya beberapa menit saja. Keterlambatan ini diperparah oleh penumpukan massa di tangga darurat dan minimnya rambu evakuasi multibahasa.

Masalah lain muncul di sektor komunikasi. Sistem peringatan dini di dalam bandara ternyata masih diaktifkan secara manual oleh personel setelah menerima pesan SMS dari BMKG. Belum ada sistem otomatisasi yang mengintegrasikan jaringan deteksi tsunami BMKG, sirine Pemkab Kulon Progo, dan speaker internal bandara. Jika gempa merusak jaringan seluler publik, koordinasi antarinstansi terancam lumpuh total akibat tidak adanya jalur komunikasi satelit khusus.

Rekomendasi untuk Ketahanan Operasional Bandara

Menyikapi celah tersebut, tim peneliti Universitas Pertahanan Indonesia merumuskan tiga langkah strategis demi meningkatkan keselamatan publik di area bandara:

  1. Simulasi Skala Penuh Secara Rutin: Kewajiban melaksanakan simulasi evakuasi tsunami massal minimal dua kali dalam setahun untuk melatih kecepatan mobilitas penumpang dan menghitung durasi penutupan landasan pacu.
  2. Redundansi Jaringan Komunikasi: Menginstalasi perangkat komunikasi satelit darurat (seperti teknologi VSAT atau telepon satelit) yang menghubungkan komite darurat YIA, AirNav, dan BPBD Kulon Progo tanpa bergantung pada penyedia seluler publik.
  3. Standardisasi Komunikasi Risiko: Memasang peta dan rambu evakuasi tsunami multibahasa berbasis standar ISO 22324 di seluruh penjuru terminal untuk mengarahkan pergerakan penumpang secara mandiri dan mencegah kepanikan massal.

Para peneliti mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, kawasan pesisir Kulon Progo juga menghadapi tantangan penurunan muka tanah alami. Dengan sisa jarak aman (freeboard) yang saat ini hanya 0,5 meter, penurunan tanah secara bertahap dapat melenyapkan margin keselamatan struktural YIA dalam dua dekade mendatang jika tidak diantisipasi dari sekarang.

Profil Peneliti

Prastomo Ardi Sudaliyo adalah peneliti di bidang manajemen bencana dan ketahanan infrastruktur dari Universitas Pertahanan Indonesia. Fokus risetnya berpusat pada mitigasi risiko tsunami pada fasilitas publik strategis.
Kusuma merupakan akademisi dan staf pengajar di Universitas Pertahanan Indonesia dengan kepakaran di bidang rekayasa struktural dan analisis risiko bencana pesisir.
Bambang Wahyudi adalah pakar sosiologi bencana dan perencanaan darurat dari Universitas Pertahanan Indonesia, yang aktif mengkaji sistem evakuasi massa dan keselamatan logistik bandara.
Wilopo adalah dosen senior dan peneliti utama di Universitas Pertahanan Indonesia. Keahlian ilmiahnya berfokus pada integrasi antarlembaga dalam penanggulangan bencana dan ketahanan nasional.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Tsunami Disaster Mitigation Strategy for Yogyakarta International Airport (YIA)
Nama Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS)
Tahun Publikasi: 2026
Tautan DOI: https://doi.org/10.55927/fjss.v5i2.9
URL : https://journalfjss.my.id/index.php/fjss/index

Posting Komentar

0 Komentar