Ilustrasi by AI

Kulon Progo – Folklore Subali–Sugriwo yang berkembang di Goa Kiskendo tidak hanya dikenal sebagai cerita rakyat, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai budaya, mitos, dan identitas masyarakat Kulon Progo. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Nino Chairisa dan Suminto A. Sayuti dari Universitas Negeri Yogyakarta, yang dipublikasikan pada tahun 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Subali–Sugriwo masih hidup dalam kehidupan masyarakat melalui tradisi lisan, pertunjukan budaya, serta berbagai praktik sosial yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan sastra lisan menghadapi tantangan yang semakin besar. Banyak cerita rakyat mulai ditinggalkan karena generasi muda lebih akrab dengan budaya digital dibandingkan tradisi tutur. Padahal, sastra lisan memiliki peran penting sebagai media penyampai nilai moral, norma sosial, serta pandangan hidup masyarakat. Salah satu cerita rakyat yang masih bertahan adalah kisah Subali–Sugriwo dari Goa Kiskendo, Kulon Progo, yang hingga kini tetap dipercaya memiliki makna historis, religius, dan budaya bagi masyarakat setempat.

Melalui pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, para peneliti mengkaji makna cerita rakyat tersebut menggunakan teori strukturalisme Claude Lévi-Strauss dan pendekatan semiotika mitos. Data diperoleh melalui wawancara dengan juru kunci Goa Kiskendo dan pengelola Desa Wisata Jatimulyo, observasi langsung di kawasan Goa Kiskendo, serta analisis berbagai dokumen pendukung. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk mengungkap makna simbolik serta proses pewarisan mitos dalam masyarakat Kulon Progo.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa cerita Subali–Sugriwo memiliki struktur naratif yang konsisten dengan tema kasih sayang, pengorbanan, persaudaraan, dan konflik. Alur cerita disampaikan secara linear dan berpusat pada Goa Kiskendo sebagai lokasi pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Tokoh Subali dan Sugriwo digambarkan sebagai sosok yang memiliki karakter kuat, tetapi juga memperlihatkan kelemahan manusia seperti kecemburuan, amarah, dan ambisi. Menurut analisis Lévi-Strauss, pertentangan tersebut mencerminkan dualisme kehidupan, yaitu baik melawan buruk, setia melawan pengkhianatan, serta kebijaksanaan melawan keserakahan.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa berbagai simbol dalam cerita memiliki makna budaya yang mendalam. Goa Kiskendo dipahami sebagai simbol perjuangan antara kebenaran dan kejahatan. Cupu Manik Astagina melambangkan perebutan kekuasaan sekaligus hilangnya keharmonisan keluarga, sedangkan Ajian Pancasona menjadi simbol kekuatan spiritual dan keteguhan menghadapi ujian kehidupan. Simbol-simbol tersebut masih dipahami masyarakat sebagai bagian dari ajaran moral yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar unsur fantasi dalam cerita rakyat.

Keberlangsungan cerita Subali–Sugriwo hingga saat ini tidak terlepas dari kuatnya tradisi lisan masyarakat Kulon Progo. Cerita diwariskan oleh juru kunci, tokoh adat, dan masyarakat melalui berbagai kegiatan budaya seperti pertunjukan sendratari, ritual adat, hingga aktivitas desa wisata. Penelitian menemukan adanya kesepakatan tidak tertulis untuk menjaga keaslian cerita dengan tidak mengubah alur maupun makna yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat cerita tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Sejak tahun 2015, pemerintah daerah bersama pengelola desa wisata juga aktif melestarikan kisah Subali–Sugriwo melalui pertunjukan seni kolosal yang melibatkan masyarakat. Pementasan tersebut memadukan topeng tradisional, musik gamelan, dialog berbahasa Jawa, serta narasi sejarah Goa Kiskendo sehingga tidak hanya menjadi daya tarik wisata budaya, tetapi juga media pendidikan bagi generasi muda. Keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan pelestarian menunjukkan bahwa cerita rakyat masih memiliki fungsi sosial yang kuat sebagai perekat identitas budaya lokal.

Menurut Nino Chairisa dan Suminto A. Sayuti, mitos Subali–Sugriwo tetap relevan dalam kehidupan modern karena nilai-nilai yang dikandungnya masih dijadikan pedoman oleh masyarakat. Nilai kesetiaan, pengorbanan, tanggung jawab, pengendalian diri, dan persaudaraan masih tercermin dalam berbagai norma sosial maupun tradisi yang dijalankan masyarakat sekitar Goa Kiskendo. Bahkan, beberapa pantangan dan etika ketika memasuki kawasan goa masih dipatuhi sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad. Hal tersebut menunjukkan bahwa mitos tidak hanya berfungsi sebagai cerita masa lalu, tetapi juga sebagai sarana membangun identitas budaya dan memperkuat hubungan masyarakat dengan sejarah serta lingkungan sosialnya.

Profil Penulis

Nino Chairisa dan Suminto A. Sayuti — Universitas Negeri Yogyakarta.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of the Meaning of the Subali–Sugriwo Goa Kiskendo Folktale in the Context of Myth Inheritance in Kulon Progo Regency

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.227

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr