Surabaya – Kedewasaan emosi pada masa dewasa awal tidak terbentuk hanya dari bertambahnya usia. Sebuah kajian ilmiah yang dilakukan oleh Asmaul Chusna, Suhadianto, dan IGAA Noviekayati dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menunjukkan bahwa kematangan emosi dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal, dukungan keluarga, lingkungan sosial, hingga kondisi ekonomi dan budaya. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) ini merangkum berbagai temuan empiris dari sejumlah negara untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang membentuk kedewasaan emosi pada individu dewasa muda.
Masa dewasa awal merupakan periode penting dalam kehidupan seseorang. Pada fase ini, individu mulai membangun karier, menjalin hubungan yang lebih serius, mempersiapkan pernikahan, serta mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan sosial. Seluruh perubahan tersebut menuntut kemampuan mengelola emosi secara matang agar mampu menghadapi tekanan, konflik, dan perubahan yang terjadi sepanjang proses menuju kehidupan dewasa.
Namun, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa kelompok usia muda justru menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Peningkatan kasus kecemasan, depresi, hingga fenomena quarter life crisis menunjukkan bahwa banyak individu dewasa muda masih mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi ketika menghadapi tantangan kehidupan. Kondisi serupa juga terlihat di Indonesia, di mana kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Asmaul Chusna dan tim melakukan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Penelitian tidak mengumpulkan responden secara langsung, tetapi menganalisis berbagai penelitian empiris yang telah dipublikasikan selama periode 2022–2025. Pencarian artikel dilakukan melalui tiga basis data ilmiah, yaitu ScienceDirect, PubMed, dan Google Scholar menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan kematangan emosi dan dewasa awal.
Proses seleksi dilakukan secara bertahap. Dari 560 artikel yang ditemukan pada tahap awal, sebanyak 140 artikel dihapus karena merupakan data duplikat. Setelah proses penyaringan berdasarkan judul, abstrak, dan isi lengkap artikel, hanya 9 penelitian yang memenuhi seluruh kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Studi-studi tersebut berasal dari Iran, India, Turki, Rusia, Filipina, dan Indonesia sehingga memberikan gambaran lintas budaya mengenai perkembangan kematangan emosi.
Hasil sintesis menunjukkan bahwa faktor intrapersonal merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kematangan emosi. Faktor ini meliputi kecerdasan emosi, kemampuan mengendalikan diri, kesadaran diri (self-awareness), belas kasih terhadap diri sendiri (self-compassion), optimisme, kemampuan merefleksikan diri, serta regulasi emosi. Individu yang mampu memahami serta mengendalikan emosinya cenderung lebih mudah menghadapi tekanan hidup, mengambil keputusan secara rasional, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat.
Penelitian juga menemukan bahwa dukungan sosial memiliki peran yang sangat penting. Hubungan yang baik dengan keluarga, pasangan, teman, maupun lingkungan sekitar memberikan ruang bagi individu untuk belajar mengelola emosi secara lebih adaptif. Kajian yang berasal dari Indonesia menunjukkan bahwa dukungan sosial berkontribusi terhadap kesiapan menikah melalui peningkatan kematangan emosi. Pola pengasuhan orang tua juga ditemukan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan emosi sejak usia muda hingga memasuki masa dewasa.
Selain faktor pribadi dan sosial, kondisi kehidupan juga turut berpengaruh. Penelitian yang berasal dari Rusia menunjukkan bahwa kesejahteraan ekonomi, pengalaman hidup, serta tanggung jawab sebagai orang tua dapat mempercepat perkembangan pola pikir menuju kedewasaan. Semakin besar tanggung jawab yang dihadapi seseorang, semakin tinggi pula peluang berkembangnya kemampuan mengendalikan emosi dan mengambil keputusan secara matang.
Kajian ini juga mengidentifikasi faktor moral dan spiritual sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kematangan emosi. Tanggung jawab pribadi, nilai moral, serta orientasi terhadap pengembangan diri ditemukan berperan dalam membantu individu menghadapi tekanan kehidupan. Faktor ini lebih banyak ditemukan pada masyarakat dengan budaya kolektivistik yang menekankan tanggung jawab terhadap keluarga maupun kelompok sosial.
Meskipun demikian, penelitian juga menemukan beberapa perbedaan hasil antarnegara. Salah satu contohnya adalah faktor gender. Penelitian di India menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat kematangan emosi yang lebih tinggi, sedangkan penelitian dari negara lain memperlihatkan hasil yang berbeda. Variasi tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh budaya, karakteristik responden, serta metode penelitian yang digunakan di masing-masing negara.
Menurut Asmaul Chusna dan tim dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, temuan ini menunjukkan bahwa kematangan emosi merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor psikologis, keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, hingga budaya. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesehatan mental pada dewasa muda tidak cukup hanya berfokus pada individu, tetapi juga perlu melibatkan keluarga, institusi pendidikan, serta masyarakat secara luas.
Hasil penelitian ini memiliki implikasi yang penting bagi dunia pendidikan, layanan psikologi, maupun pembuat kebijakan. Perguruan tinggi dapat mengembangkan program pelatihan kecerdasan emosi, penguatan resiliensi, dan keterampilan interpersonal untuk membantu mahasiswa menghadapi masa transisi menuju dunia kerja dan kehidupan keluarga. Di sisi lain, keluarga juga perlu menciptakan lingkungan yang suportif agar anak mampu mengembangkan kemampuan mengelola emosi secara sehat sejak dini.
Penelitian ini juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan dengan menggunakan pendekatan longitudinal dan mixed methods untuk memahami bagaimana kematangan emosi berkembang dari waktu ke waktu. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan layanan konseling berbasis kecerdasan buatan juga berpotensi menjadi inovasi baru dalam mendukung kesehatan mental generasi muda.
Temuan ini menegaskan bahwa kedewasaan emosi bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis seiring bertambahnya usia. Kematangan emosi merupakan hasil dari proses belajar yang dipengaruhi oleh kemampuan mengenali diri sendiri, kualitas hubungan sosial, pengalaman hidup, serta lingkungan yang mendukung. Semakin baik individu mengembangkan seluruh aspek tersebut, semakin besar peluangnya untuk menjalani kehidupan dewasa dengan lebih sehat, produktif, dan sejahtera.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Judul: Factors Influencing Emotional Maturity in Early Adulthood: A Systematic Review of the Literature
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.228
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar