Maluku Tenggara- Potensi ekowisata bahari berbasis terumbu karang di Desa Ur Pulau, Kabupaten Maluku Tenggara, dinilai cukup berkelanjutan berkat kuatnya penerapan kearifan lokal Sasi. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Osin Eltina Rumheng, Dr. I Gede Astra Wesnawa, dan Dr. Gede Iwan Setiabudi dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang dipublikasikan pada Juni 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA). Penelitian ini penting karena menunjukkan bagaimana tradisi adat dapat berperan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung pengembangan ekonomi masyarakat pesisir melalui ekowisata.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Salah satu wilayah yang memiliki kekayaan terumbu karang adalah Desa Ur Pulau di Kecamatan Kei Kecil Barat, Maluku Tenggara. Kawasan ini memiliki lebih dari 14 ribu hektare potensi terumbu karang yang menjadi daya tarik wisata bawah laut.
Namun, kekayaan tersebut menghadapi berbagai ancaman. Aktivitas penangkapan ikan yang merusak, penggunaan racun dan bahan peledak, pencemaran, serta pengelolaan wisata yang belum optimal dapat menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko mengurangi manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat dari sektor perikanan dan pariwisata.
Di tengah tantangan tersebut, masyarakat Ur Pulau masih mempertahankan tradisi Sasi, yaitu sistem adat yang mengatur waktu, lokasi, dan tata cara pemanfaatan sumber daya alam. Sasi telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kei dan terbukti membantu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan serta pelestarian lingkungan.
Untuk mengetahui tingkat keberlanjutan pengelolaan ekowisata berbasis konservasi terumbu karang, tim peneliti melakukan kajian multidimensi menggunakan pendekatan RAPFISH yang dimodifikasi untuk sektor ekowisata. Penelitian melibatkan 38 responden yang terdiri atas masyarakat desa, tokoh adat, nelayan, pelaku usaha wisata, pemerintah desa, instansi pemerintah, serta aktivis lingkungan.
Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi lapangan. Penilaian dilakukan pada lima dimensi utama, yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastruktur, serta hukum dan kelembagaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ekowisata berbasis konservasi terumbu karang di Desa Ur Pulau memperoleh indeks keberlanjutan 60,56, yang masuk dalam kategori cukup berkelanjutan.
Penilaian pada masing-masing dimensi menunjukkan hasil sebagai berikut:
- Hukum dan kelembagaan: 67,93
- Ekologi: 64,65
- Sosial budaya: 62,77
- Ekonomi: 58,76
- Teknologi dan infrastruktur: 48,71
Dimensi hukum dan kelembagaan menjadi aspek terkuat dalam pengelolaan ekowisata. Kondisi ini didukung oleh masih kuatnya penerapan Sasi sebagai aturan sosial yang dihormati masyarakat. Kepatuhan terhadap aturan adat menjadi faktor paling berpengaruh dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
Menurut para peneliti, Sasi berfungsi sebagai modal sosial yang efektif untuk mengendalikan pemanfaatan sumber daya laut. Sistem ini memiliki aturan yang jelas, sanksi sosial yang kuat, dan tingkat kepatuhan masyarakat yang tinggi. Keberadaan Sasi juga membantu menekan biaya pengawasan karena masyarakat secara kolektif ikut menjaga wilayah pesisir mereka.
Meski demikian, penelitian menemukan bahwa Sasi masih banyak diterapkan secara informal dan belum sepenuhnya diintegrasikan ke dalam regulasi resmi desa. Karena itu, peneliti merekomendasikan agar nilai-nilai Sasi dimasukkan ke dalam Peraturan Desa sehingga memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan dari pihak luar.
Sementara itu, dimensi teknologi dan infrastruktur menjadi aspek paling lemah dengan nilai 48,71 atau masuk kategori kurang berkelanjutan. Rendahnya nilai ini disebabkan oleh masih minimnya fasilitas pendukung ekowisata yang ramah lingkungan.
Beberapa masalah yang ditemukan antara lain belum tersedianya pelampung tambat kapal untuk mencegah kerusakan akibat jangkar, kurangnya jalur snorkeling yang tertata, serta keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah. Selain itu, sebagian aktivitas penangkapan ikan masih menggunakan alat yang berpotensi merusak terumbu karang.
Pada dimensi ekologi, ancaman terbesar berasal dari penggunaan racun atau potasium dalam aktivitas penangkapan ikan. Faktor ini menjadi atribut paling sensitif dalam penelitian dengan tingkat pengaruh tertinggi terhadap keberlanjutan ekowisata. Para peneliti menilai bahwa satu kejadian perusakan terumbu karang dapat menghilangkan hasil konservasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Dimensi sosial budaya menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran dan partisipasi yang cukup baik dalam menjaga lingkungan. Namun, tingkat pendidikan formal yang masih relatif rendah menjadi kendala dalam pengembangan kapasitas pengelolaan ekowisata. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengelola homestay, menjadi pemandu wisata, maupun menerapkan praktik konservasi modern.
Pada aspek ekonomi, manfaat ekowisata mulai dirasakan masyarakat melalui usaha homestay dan penyewaan perahu. Akan tetapi, biaya pemantauan dan konservasi masih tergolong tinggi dan sebagian besar masih bergantung pada swadaya masyarakat atau bantuan dari luar. Belum tersedia mekanisme pembiayaan konservasi yang berkelanjutan dari pendapatan sektor wisata.
Berdasarkan hasil analisis, tim peneliti merekomendasikan tiga strategi utama untuk meningkatkan status keberlanjutan ekowisata di Desa Ur Pulau.
Pertama, memperkuat kelembagaan melalui integrasi aturan Sasi ke dalam Peraturan Desa. Kedua, membangun infrastruktur ramah lingkungan seperti pelampung tambat kapal, fasilitas pengelolaan sampah, dan sarana wisata yang mendukung konservasi. Ketiga, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan pemandu wisata, pengelolaan homestay, serta teknik konservasi dan restorasi terumbu karang.
Dr. I Gede Astra Wesnawa dari Universitas Pendidikan Ganesha menjelaskan bahwa keberhasilan pengelolaan ekowisata tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dan institusi lokal dalam menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi fondasi penting dalam pembangunan berkelanjutan. Ketika dipadukan dengan kebijakan yang kuat, infrastruktur yang memadai, dan peningkatan kapasitas masyarakat, tradisi seperti Sasi mampu menjadi model pengelolaan ekowisata yang relevan bagi berbagai wilayah pesisir di Indonesia.
Profil Penulis
Osin Eltina Rumheng, S.Pd. - Universitas Pendidikan Ganesha
Dr. I Gede Astra Wesnawa, M.Si. - Universitas Pendidikan Ganesha
Dr. Gede Iwan Setiabudi, M.Pd. - Universitas Pendidikan Ganesha
Sumber Penelitian
Rumheng, O. E., Wesnawa, I. G. A., & Setiabudi, G. I. (2026). Sustainability Analysis of Coral Reef Conservation-Based Ecotourism: Integration of Sasi Local Wisdom and the RAPFISH Approach (Case Study: Ur Pulau Village, Southeast Maluku). Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), Vol. 6 No. 6, Juni 2026, halaman 833–839.

0 Komentar