Hambatan Komunikasi Tiga Arah Picu Tingginya Angka Putus Kuliah Mahasiswa Vokasi di Madiun


Ilustrasi by AI 

Kegagalan koordinasi makna dan renggangnya hubungan komunikasi antara mahasiswa, dosen pembimbing akademik, dan orang tua menjadi pemicu utama tingginya risiko cuti akademis hingga putus kuliah (dropout). Temuan ini diungkapkan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Muhyiddin Aziz dan Teguh Priyo Sadono dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dipublikasikan dalam Formosa Journal of Social Sciences (FJSS) pada Juni 2026, studi ini menegaskan bahwa fenomena putus kuliah di jenjang pendidikan vokasi tidak melulu disebabkan oleh masalah nilai akademis yang buruk, melainkan akumulasi dari hambatan komunikasi multidimensi yang terjadi di lingkungan sekitar mahasiswa.

Menyoroti Sisi Lain Fenomena Cuti dan Dropout Mahasiswa

Di tingkat nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat angka putus kuliah tahunan berada di kisaran 3% hingga 5%. Namun, angka ini bervariasi tergantung institusi dan program studinya. Pada Program Studi D3 Bahasa Inggris Politeknik Negeri Madiun, fenomena mahasiswa mengambil cuti kuliah hingga akhirnya dropout menjadi kenyataan yang mencemaskan.

Tantangan di pendidikan vokasi menuntut mahasiswa untuk mandiri, disiplin, dan mampu beradaptasi dengan iklim praktik yang padat. Bagi Generasi Z yang tumbuh besar di era digital, tekanan sosial, beban ekonomi, dan ekspektasi keluarga yang tinggi sering kali memicu renggangnya relasi komunikasi. Upaya humanistik yang dilakukan dosen selama ini belum mampu menekan angka putus kuliah secara signifikan karena pola interaksi yang terfragmentasi di antara pihak-pihak terkait.

Mengeksplorasi Akar Masalah Lewat Studi Kasus Kualitatif

Untuk membedah fenomena ini, tim peneliti menggunakan desain studi kasus kualitatif guna mengeksplorasi hambatan komunikasi secara mendalam di lingkungan alaminya. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama yang komprehensif:

  • Observasi Partisipan: Mengamati langsung dinamika interaksi nyata antara mahasiswa dan dosen pembimbing akademik saat sesi konsultasi.
  • Wawancara Mendalam: Menggali persepsi dan pengalaman dari 8 mahasiswa yang memiliki kendala belajar, 4 dosen pembimbing akademik, serta 6 perwakilan orang tua mahasiswa.
  • Tinjauan Dokumen: Memeriksa rekam jejak akademis mahasiswa, transkrip nilai, presensi, serta panduan resmi bimbingan institusi sebagai data sekunder untuk verifikasi.

Data yang terkumpul kemudian dikondensasikan, dipetakan secara sistematis, dan dianalisis secara interpretatif menggunakan bantuan perangkat lunak NVivo 12 untuk menjamin kepercayaan data.

Tiga Klaster Hambatan Komunikasi yang Mengancam Kuliah Mahasiswa

Hasil analisis peneliti menunjukkan bahwa risiko mahasiswa meninggalkan bangku kuliah didorong oleh tiga klaster hambatan komunikasi yang saling mengikat:

  • Jarak Sosiologis (Sociological Distance): Mahasiswa dari keluarga dengan latar belakang pendidikan tinggi yang terbatas merasa terasing dengan istilah kampus dan birokrasi. Hubungan bimbingan yang kaku dan hierarkis membuat mahasiswa pasif dan takut bertanya karena tidak ingin terlihat bodoh. Dokumen menunjukkan bimbingan selama ini hanya bersifat administratif untuk pengisian KRS atau verifikasi IPK.
  • Ketidaksesuaian Ekspektasi Akademik (Expectation Mismatch): Dosen mengharapkan mahasiswa belajar mandiri secara mendalam, sedangkan mahasiswa mengharapkan instruksi teknis langkah-demi-langkah. Mahasiswa menganggap kesulitan belajar sebagai kegagalan pribadi dan memilih menarik diri, sementara dosen menganggapnya sebagai bentuk kurangnya kesiapan mental kuliah.
  • Disintegrasi Jaringan Komunikasi Tiga Arah (Triadic Communication Breakdown): Saluran komunikasi antara mahasiswa, dosen, dan orang tua berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Orang tua kerap kali dijauhkan dari pemantauan berkala dan baru mengetahui anaknya bermasalah setelah menerima surat peringatan kritis atau ancaman dropout dari kampus.

Urgensi Model Komunikasi Kolaboratif untuk Kebijakan Kampus

Studi ini memberikan kontribusi penting bagi kebijakan publik dan manajemen perguruan tinggi dalam merestrukturisasi ekosistem dukungan akademik. Peneliti menegaskan bahwa kampus tidak boleh membiarkan mahasiswa berjuang sendirian menghadapi keterkejutan realitas dunia perkuliahan.

Untuk memutus siklus saling menyalahkan, institusi pendidikan vokasi direkomendasikan menerapkan Model Komunikasi Kolaboratif Multidimensi yang mencakup tiga langkah konkret:

  1. Sistem Komunikasi Preventif: Menjadwalkan pertemuan berkala secara terstruktur antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan orang tua sebelum masalah akademis membesar.
  2. Pelatihan Komunikasi Empatis: Membekali dosen pembimbing dengan keterampilan konseling humanistik agar tidak sekadar menjadi penjaga gerbang administrasi nilai, melainkan mentor yang membangun rasa aman bagi mahasiswa.
  3. Platform Informasi Real-Time: Menyediakan akses digital bagi orang tua agar dapat memantau perkembangan kehadiran dan nilai anak secara langsung tanpa hambatan birokrasi.

Profil Penulis

  • Muhyiddin Aziz adalah peneliti di bidang komunikasi dan pendidikan yang terafiliasi dengan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Ia berfokus pada kajian retensi mahasiswa dan dinamika komunikasi antarpribadi dalam dunia akademik.
  • Teguh Priyo Sadono adalah akademisi senior di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang menaruh minat besar pada pengembangan model komunikasi organisasi, manajemen konflik, serta strategi interaksi dalam ekosistem pendidikan tinggi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel Jurnal: A Critical Evaluation of Multidimensional Communication Barriers: Reconstructing the Role of Academic Advisors and Parents in Mitigating Student Dropout
Nama Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS)
Tahun Publikasi: 2026
Tautan DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/fjss.v5i2.10
URL : https://journalfjss.my.id/index.php/fjss/index

Posting Komentar

0 Komentar