Tengah maraknya hilirisasi industri ekstraktif nikel di Maluku Utara memicu fenomena sosial yang unik, di mana ikatan solidaritas komunitas bertahan kuat sekaligus berbenturan dengan polarisasi yang tajam
Hilirisasi Tambang dan Ketimpangan Ruang Hidup
Maluku Utara mencatatkan lonjakan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan hingga 20,49% pada tahun 2023
Industrialisasi berbasis sumber daya alam ini melahirkan disorganisasi sosial
Menelaah Dokumen Konflik Lewat Metode Kualitatif
Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain analisis dokumen
- Jurnal akademik terkait konflik agrarian
. - Laporan investigasi organisasi non-pemerintah (LSM/NGO)
. - Pemberitaan media massa daring tepercaya
. - Dokumen kebijakan tata kelola industri ekstraktif
.
Seluruh dokumen disaring menggunakan teknik purposive sampling agar sesuai dengan fokus penelitian
Dua Sisi Koin: Temuan Utama Paradoks Sosial
Analisis data menunjukkan bahwa konflik lokal di Maluku Utara memunculkan dua dampak yang bertolak belakang secara bersamaan, yakni kohesi (solidaritas) dan fragmentasi (pembelahan) sosial
- Kohesi Lewat Perlawanan Kolektif: Solidaritas masyarakat adat dan jaringan komunitas justru menguat ketika mereka menghadapi ancaman eksternal yang sama
. Kohesi ini mewujud dalam bentuk aksi kolektif untuk mempertahankan hak atas lingkungan hidup dan melawan pencemaran air atau deforestasi di wilayah mereka . Peran tokoh adat dan organisasi pemuda lokal sangat sentral dalam menjaga komunikasi komunal ini . - Fragmentasi Akibat Benturan Kepentingan: Di sisi lain, pembelahan sosial menajam karena perbedaan sikap terhadap kehadiran korporasi
. Sebagian warga melihat industri nikel sebagai peluang kerja dan perbaikan ekonomi, sementara sebagian lain menolaknya karena merusak ruang hidup . Akibatnya, terjadi polarisasi horizontal terkait ganti rugi lahan dan akses pekerjaan . - Bukan Sekadar Konflik Identitas: Riset ini membuktikan bahwa perselisihan di Maluku Utara melampaui sentimen suku atau agama
. Narasi identitas yang muncul ke permukaan sebenarnya berakar dari ketimpangan struktural, minimnya transparansi tata kelola sumber daya, dan ketidakadilan ekologis . - Campur Tangan Elit Lokal: Pembelahan di masyarakat kian diperparah oleh intervensi elit politik lokal yang menjalankan peran sebagai perantara korporasi
. Langkah ini memicu patronase ekonomi dan meminggirkan partisipasi asli warga dalam pengambilan kebijakan .
Peta Baru Tata Kelola dan Resolusi Konflik Industri Ekstraktif
Dampak dari penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi dunia usaha, pemerintah daerah, dan penentu kebijakan publik
Bagi pemerintah, riset ini menegaskan urgensi perlindungan hak-hak masyarakat adat dan keterbukaan dalam tata kelola lingkungan
Dalam narasinya, Abubakar Muhammad Nur dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara menekankan:
"Konflik lokal di wilayah industri ekstraktif dapat secara simultan mereproduksi solidaritas komunal sekaligus fragmentasi sosial tergantung pada konteks sosio-politik dan relasi kuasa yang terlibat."
Profil Penulis
Nama Lengkap: Abubakar Muhammad Nur, S.Sos., M.Si.
Afiliasi Akademik: Dosen dan Peneliti di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), Ternate, Indonesia
Bidang Keahlian: Sosiologi Konflik, Sosiologi Politik, Kebijakan Publik, dan Studi Masyarakat Lingkar Tambang
Sumber Penelitian
Judul Artikel Jurnal: The Paradox of Social Cohesion and Fragmentation in Local Conflicts in North Maluku during 2022 to 2023Nama Jurnal: Formosa Journal of Social Sciences (FJSS)
Metadata Publikasi: Vol. 5, No. 2, 2026: pp. 103-120
DOI : https://doi.org/10.55927/fjss.v5i2.6
0 Komentar