Analisis Kondisi Lapangan Jadi Faktor Penentu Ketepatan Waktu Proyek Rumah Sakit

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Pembangunan rumah sakit dengan skema Design and Build membutuhkan perencanaan yang matang sejak tahap awal agar proyek dapat selesai tepat waktu. Temuan tersebut diperkuat dalam penelitian yang dilakukan oleh Abdul Khohar, Budi Witjaksana, dan Andi Patriadi dari Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 7 Tahun 2026 menunjukkan bahwa kesesuaian desain dengan kondisi lapangan menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi kinerja penyusunan Detailed Engineering Design (DED) pada pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian ini penting karena memberikan gambaran bagaimana kualitas perencanaan desain dapat menentukan keberhasilan proyek infrastruktur kesehatan berskala nasional.

Pembangunan rumah sakit merupakan salah satu proyek infrastruktur dengan tingkat kompleksitas tinggi. Selain harus memenuhi standar teknis bangunan, proyek juga harus menyesuaikan berbagai regulasi kesehatan, keselamatan, serta kebutuhan operasional rumah sakit. Dalam skema Design and Build, proses perencanaan dan konstruksi berlangsung dalam satu kontrak sehingga perubahan desain yang muncul selama pelaksanaan dapat langsung memengaruhi jadwal pembangunan.

Pada proyek pembangunan RSUD Kabupaten Muna Barat yang merupakan bagian dari Program PHTC Batch 3 Kementerian Kesehatan, tim peneliti menemukan bahwa proses penyusunan DED tidak berjalan secara linear. Berbagai revisi desain harus dilakukan berulang kali karena terdapat perbedaan antara dokumen perencanaan awal dengan kondisi nyata di lapangan. Selain itu, adanya perubahan standar teknis terbaru, kebutuhan penyesuaian struktur bangunan, hingga proses persetujuan dari berbagai pihak menyebabkan penyusunan desain menjadi lebih panjang dibandingkan rencana awal.

Untuk memahami faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kinerja penyusunan DED, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 31 responden yang terdiri atas Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Tim Teknis Kementerian Kesehatan, konsultan manajemen konstruksi, konsultan perencana, serta penyedia jasa Design and Build. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis skala Likert yang disusun berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD). Analisis dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk mengidentifikasi faktor dominan yang memengaruhi kinerja pengembangan DED, kemudian dilanjutkan dengan Critical Path Method (CPM) untuk menghitung dampaknya terhadap durasi penyelesaian proyek.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kesesuaian kondisi lapangan menjadi faktor yang paling besar memengaruhi keberhasilan penyusunan DED. Ketika kondisi aktual di lapangan berbeda dengan dokumen perencanaan awal, tim proyek harus melakukan revisi desain secara berulang. Proses tersebut memperpanjang waktu penyelesaian dokumen DED, menunda mobilisasi pekerjaan konstruksi, serta meningkatkan risiko keterlambatan penyelesaian proyek secara keseluruhan.

Perhitungan menggunakan metode CPM memperlihatkan bahwa proyek diperkirakan membutuhkan waktu 343 hari, sedangkan sisa waktu kontrak hanya 295 hari. Dengan demikian terdapat potensi keterlambatan selama 48 hari kalender apabila tidak dilakukan percepatan pekerjaan atau penyesuaian sumber daya. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah pada tahap perencanaan dapat memberikan dampak besar terhadap keseluruhan jadwal pembangunan.

Penelitian juga berhasil mengidentifikasi aktivitas yang berada pada jalur kritis (critical path) proyek. Aktivitas tersebut meliputi pekerjaan perencanaan dan perizinan, pondasi, pekerjaan tanah, struktur lantai 1 hingga lantai 3, pekerjaan arsitektur lantai 3, interior tetap lantai 3, pemasangan furnitur, proses testing and commissioning, hingga serah terima pekerjaan (handover). Seluruh aktivitas tersebut memiliki nilai Total Float nol sehingga keterlambatan satu hari pada salah satu pekerjaan akan langsung menyebabkan keterlambatan satu hari terhadap penyelesaian keseluruhan proyek.

Peneliti juga menemukan bahwa pekerjaan arsitektur lantai tiga menjadi salah satu tahapan yang paling menentukan lamanya proyek. Hal ini disebabkan lantai tersebut menampung ruang operasi dengan spesifikasi teknis yang jauh lebih kompleks dibandingkan ruang lainnya. Instalasi seperti dinding steril, pintu hermetik, plafon modular ruang operasi, sistem HVAC, jaringan gas medis, hingga integrasi berbagai peralatan bedah membuat proses penyelesaiannya membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Menurut Abdul Khohar dan tim peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, hasil penelitian ini menegaskan bahwa survei lapangan yang komprehensif sebelum penyusunan desain menjadi langkah yang sangat penting dalam proyek Design and Build. Semakin akurat kondisi lapangan dipetakan sejak awal, semakin kecil kemungkinan terjadinya revisi desain yang berulang sehingga waktu pelaksanaan proyek dapat dikendalikan dengan lebih baik.

Temuan ini memiliki implikasi yang luas bagi pemerintah, konsultan perencana, kontraktor, maupun pemilik proyek. Pada proyek-proyek pembangunan rumah sakit maupun fasilitas publik lainnya, peningkatan kualitas dokumen perencanaan dasar (Basic Design) dan sinkronisasi dengan kondisi lapangan dapat mengurangi risiko keterlambatan, meningkatkan efisiensi biaya, serta mempercepat penyediaan layanan publik yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Selain memberikan kontribusi praktis bagi pengelolaan proyek konstruksi, penelitian ini juga memperkuat penggunaan kombinasi metode PLS-SEM dan Critical Path Method sebagai pendekatan yang efektif dalam mengevaluasi hubungan antara kualitas perencanaan dan ketepatan waktu pelaksanaan proyek konstruksi yang kompleks.

Profil Penulis

Abdul Khohar merupakan mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan fokus penelitian pada manajemen konstruksi, Design and Build, serta pengendalian waktu proyek.

Dr. Budi Witjaksana merupakan dosen Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, yang memiliki bidang keahlian dalam manajemen konstruksi, evaluasi proyek, dan analisis kinerja pembangunan infrastruktur.

Andi Patriadi merupakan akademisi Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan minat penelitian pada rekayasa konstruksi, pengembangan desain teknik, dan manajemen proyek.

Sumber Penelitian

Khohar, A., Witjaksana, B., & Patriadi, A. (2026). Analysis of Project Time Implementation on Dominant Variables Influencing DED Development Performance Using the CPM (Critical Path Method) Method in the Design and Build Contract in the Ministry of Health's Batch 3 PHTC Program (Case Study: Construction of the West Muna District Hospital). Formosa Journal of Science and Technology (FJST), 5(7), 1721–1732. DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i7.102. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar