Indonesia memiliki sekitar 34,12 juta hektare lahan rawa yang tersebar di berbagai wilayah. Sebagian besar lahan tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung produksi pangan nasional, namun masih menghadapi berbagai kendala, seperti banjir musiman, kekeringan, kesuburan tanah yang rendah, hingga serangan organisme pengganggu tanaman. Selama ini, penggunaan pestisida sintetis menjadi pilihan utama petani untuk mengendalikan hama. Akan tetapi, penggunaan yang berlebihan menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari pencemaran lingkungan, resistensi hama, residu pestisida, hingga risiko kesehatan bagi petani.
Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang merupakan salah satu kawasan sentra padi rawa. Para peneliti mengkaji bagaimana pengelolaan pemanfaatan agen hayati, seperti Beauveria bassiana, Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), dan Paenibacillus, diterapkan dalam budidaya padi. Ketiga agen hayati tersebut dikenal mampu membantu mengendalikan hama tanaman secara alami, meningkatkan pertumbuhan tanaman, serta menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan petani, penyuluh pertanian, serta berbagai pihak yang terlibat dalam program pemanfaatan agen hayati. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan fungsi manajemen George R. Terry yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling) untuk menilai efektivitas pengelolaan program.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pemanfaatan agen hayati tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh manajemen pelaksanaannya. Perencanaan dilakukan melalui penyusunan tim pelaksana, penyusunan rencana kerja, penganggaran, survei lapangan, hingga koordinasi dengan berbagai instansi terkait. Pelaksanaan program melibatkan dinas pertanian, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman, penyuluh pertanian, pemerintah desa, serta kelompok tani yang bekerja secara terkoordinasi.
Temuan paling menonjol terlihat pada hasil panen lahan demonstrasi. Penerapan agen hayati menghasilkan rata-rata produksi 8,1 ton gabah per hektare atau 24,3 ton pada lahan seluas tiga hektare. Angka tersebut meningkat sekitar 15,1 persen dibandingkan hasil panen tahun 2022 yang hanya mencapai 5,4 ton per hektare atau 16,2 ton pada lahan tiga hektare dengan varietas padi yang sama, yaitu Ciherang dan IR42. Peningkatan produksi tersebut menunjukkan bahwa agen hayati dapat menjadi alternatif yang efektif dalam meningkatkan produktivitas lahan rawa.
Selain meningkatkan hasil panen, pemanfaatan agen hayati juga memberikan manfaat lain. Penggunaan pestisida kimia dapat dikurangi sehingga keseimbangan ekosistem lebih terjaga. Program ini juga meningkatkan pengetahuan petani melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan teknis. Para petani memperoleh bantuan agen hayati, dukungan transportasi, serta pengalaman praktik langsung yang mendorong mereka untuk mulai menerapkan budidaya padi yang lebih berkelanjutan.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa inovasi pertanian ramah lingkungan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas padi, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem rawa. Apabila diterapkan secara lebih luas, pendekatan ini berpotensi memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui sistem budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Icuk Muhammad Sakir merupakan peneliti dari STISIPOL Candradimuka Palembang yang memiliki perhatian pada bidang administrasi publik, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi bersama Zahrul Akmal Damin dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, Desinta dari Penyuluh Pertanian Lapangan Kabupaten Banyuasin, serta Lisdiana dan Sherly Desliyanah dari STISIPOL Candradimuka Palembang.
Sumber Penelitian
Sakir, I. M., Damin, Z. A., Desinta, Lisdiana, & Desliyanah. (2026). Management of Biological-Agent Utilization in Swampland Rice Farming: A Case Study in South Sumatra, Indonesia. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 2, 453–462. DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i2.134.
0 Komentar